kisah cinta romantis 17tahun


Aku bekerja di satu perusahaan explorasi minyak lepas pantai di pulau Kalimantan, dimana salah satu sarananya yaitu komunikasi, yang menjadi bagian tulang punggung kegiatan tersebut. Telepon, komputer, mesin fax dengan segala kelengkapannya adalah isi dari sarana penting itu untuk menunjang kelancaran kegiatan explorasi ini. Dan internet line yang merupakan awal dari kisah yang akan kupaparkan di bawah ini.

Berawal dari mencari data dan informasi di internet line, aku sampai pada situs 17tahun.com yang banyak mempunyai cerita pengalaman bermain cinta dari para penulis yang sudah lama dan banyak hasil karyanya. Disitulah aku mencoba menuangkan kisah kehidupan masa remaja yang bebas bermain cinta dengan cewek-cewek seumur, anak-anak SMP, SMA maupun perempuan setengah baya.

Entah karena iseng atau kebetulan, aku bisa bekenalan dengan teman-teman baru, termasuk salah satu gadis yang kisahnya ada dibawah ini, dia mengirim e-mail dan ingin berkenalan denganku. Tentu saja aku tidak menolak bahkan kami berchatting saling memperkenalkan diri kami. Namanya Maharani dan aku memperkenalkan diriku Jay Mahesa. Setelah agak lama kami berhubungan lewat e-mail, aku menyapanya dengan nama panggilannya Rani dan aku disebutnya dengan panggilan Daddy karena ternyata usiaku hampir seumur degan ayahnya. Ini hal baru bagiku, ada wanita jauh lebih muda dariku punya perhatian dan sampai dengan saling kirim foto.

Dan akhirnya kami bertemu di suatu restaurant yang cukup sederhana dan cukup private, some where in Tenda Semanggi. Itulah pertemuan kami yang pertama, disanalah aku melihat Ratih yang ternyata dia lebih manis dari foto satu-satunya yang pernah dikirimkan lewat perkenalan e-mail beberapa waktu yang lalu. Dia muncul di depanku dengan sikap yang lembut dan anggun.Segera aku bangkit dari kursi yang kududuki serta meja yang sudah dipersiapkan oleh pemilik café dengan sebatang bunga mawar merah untuk menyambutnya sesuai dengan janji kami lewat e-mail terakhir bahwa kami akan bertemu dengan memakai tanda khusus, yang mana aku akan memakai baju tradisionil lengan panjang dari bahan belacu putih tanpa kerah, celana panjang hitam. Rani sendiri memakai rok dan blus yang berwarna hitam dibatasi garis kotak-kotak putih ditutupi dengan blazer berwarna yang sama dengan rok yang dipakainya yaitu abu-abu muda. Aku yakin dia baru pulang kantor dan langsung menuju tempat yang telah kami sepakati bersama.

Dia cukup tinggi, kira-kira 165 cm dengan berat badan sekitar 60-62 kg, matanya hitam, bulat berbinar-binar dengan bibirnya yang sensual dan merah berlipstik tipis, serta rambutnya yang hitam, tebal sebatas pundak. Mataku yang agak nakal mulai menatap tajam dari ujung rambutnya yang hitam lebat turun perlahan-lahan menelusuri raut wajahya. Matanya yang bulat berbinar-binar, bibirnya yang sensual, terus turun ke lehernya yang putih, jenjang dan akhirnya tanpa sadar pandanganku berhenti pada dadanya yang agak membusung.
"Hey sadar bung..! Ini hari pertama bertemu man..!" dalam hatiku.

Aku tersadar mendengar suaranya berdehem, umurku mungkin 2 kali umurnya. Aku punya isteri yang berbeda 3 tahun lebih muda dariku. Aku hanya punya sebuah permata hatiku yang sedang meningkat dewasa berumur 19 tahun. Dia seorang puteri yang cantik, akan tetapi, ya Tuhan di depanku berdiri seorang wanita dewasa yang cantik dan manis dengan segala bentuk fisik yang menjadi impianku selama ini (benarkah hal ini?) di depanku berdiri Maharani lengkap, in one piece yang selama ini kukenal lewat daramanis@**** (edited).com. Sekarang tidak lagi dunia maya yang kuhadapi akan tetapi dunia nyata.

Kembali kutatap matanya yang hitam, bulat dan berbinar-binar sambil mengulurkan tanganku untuk menyambut tangannya.
"Maharani..?" aku menyapa dengan suaraku agak berat dan bergetar menahan rasa was-was yang tiba-tiba kurasakan pada saat ia mengulurkan tangannya yang terasa lembut di dalam genggamanku.
"Dad.. Daddy..?" jawabnya lembut dan suaranya yang tidak bisa aku lupakan persis seperti pertama kali dia meneleponku pada tanggal 21 Februari yang lalu ketika aku berada di kantor di salah satu perusahaan negara dan juga sama pada saat dia menghubungiku lewat HP-ku minggu lalu.
Suaranya renyah, lembut dan tegas. Kutarik tanganku perlahan dengan tetap menggenggam tangannya yang halus dengan maksud untuk melihat wajahnya lebih dekat yang selama ini hanya merupakan mimpi bagiku. Dia pun sepertinya tanpa sadar melangkah mendekati, mungkin Rani sendiri juga ingin meyakinkan dirinya bahwa aku ini benar-benar Jay Mahesa atau Daddy yang menjadi panggilannya bagiku lewat e-mail atau dia ingin melihat kumisku yang pernah dikatakan lewat e-mailnya ingin dirasakan menyentuh bibirnya yang sensual itu.

Kami berdua tersadar dan melepaskan jabatan tangan kami masing-masing, aku bergeser dan menarik kursi sambil mempersilahkan dia duduk dan aku mengambil tempat yang berhadapan dengannya. Kami masih saling berpandangan seolah-olah masih tidak percaya bahwa saat itu, detik itu Jay dan Rani telah saling duduk berhadapan. Face to face in real world not in dream world
"Hai.. apa kabar Non..?" aku menyapanya hati-hati.
"Oh, eh.., saya baik-baik Oom.. eh maaf, Daddy..." jawabnya agak kemalu-maluan.
"Well... inilah saya, Jay yang selama ini anda kenal melalui e-mail dan foto-foto yang saya kirimkan lewat e-mail. Bagaimana menurut anda..?" jawabku lagi sambil tersenyum dan memandang ke arahnya dengan pandangan yang pasti.
"Dan inilah saya.. Rani, yang Daddy kenal lewat e-mail... pasti Daddy kecewa karena saya tidak seperti yang Daddy bayangkan..."
"Stop... dan jangan teruskan kata-katamu itu." jawabku memotong ucapannya dan memandang tepat ke arah matanya.

Aku mengulurkan kedua tanganku terbuka di atas meja ke arahnya dan dia seperti kebingungan melihatku dan melihat ke arah tanganku. Kulihat tanpa sadar Rani mengulurkan tangan kanannya menuju tangan kiriku yang segera kugenggam lembut sementara tangan kananku mengambil tangkai bunga Mawar di hadapan kami berdua.

"Maharani yang baik.., ini hari pertama kita bertemu muka, saya ingin hari ini menjadi hari yang indah bagi kita berdua. Untuk itu aku ingin Rani menikmati saat yang baik ini dengan bahagia dan ingat saya sudah berkali-kali mengatakan saya akan menerima Rani apa adanya, jadi jangan mencoba merendahkan diri kepada saya yang juga masih banyak kekurangan dalam banyak hal, Oke... kamu setuju kan..?" tegasku kepadanya sambil menatap lembut ke arah matanya yang bulat, hitam serta berbinar-binar itu.
"Daddy.., maafkan Rani. Rani hanya ingin mengatakan apa yang ada di dalam pikiran Rani pada saat ini, karena Rani takut Daddy kecewa dengan keadaan Rani seperti ini..."
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku perlahan-lahan kemudian menyerahkan bunga Mawar kepadanya, diterimanya dengan tangan kanannya dan kugenggamkan kedua tanganku pada tangan kanannya yang memegang bunga Mawar tersebut.

"Non yang cantik, kamu tidak perlu takut ataupun kecil hati dengan keadaanmu kemarin, sekarang maupun besok, untuk Daddy, Rani kemarin, sekarang maupun besok adalah tetap Rani yang Daddy kenal dengan segala sesuatunya yang baik maupun jelek dan tetap akan daddy terima apa adanya dan aku akan tetap menyayangimu." aku kembali menegaskan untuk menenangkan hatinya.
"Oh, Daddy, thanks Daddy, kamu telah meyakinkan Rani untuk semua yang selama ini Rani khawatirkan kalau bertemu dengan Daddy." Air mukanya berubah cerah terlihat dari rona pipinya yang kembali memerah.
Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, betapa cantik dan manisnya gadis yang duduk di hadapanku ini dengan segala pengalaman hidupnya yang sebagian besar telah diceritakannya melalui e-mail kepadaku.

Apalagi yang akan kulakukan, kupanggil waiter yang sejak tadi rupanya agak bengong melihat kelakuan kami berdua. Aku tawarkan Rani minum, dia memilih sama dengan yang kupesan yaitu fresh orange juice. Kembali kami masing-masing menceritakan diri kami masing-masing dalam suasana yang lebih santai disertai tawa dan canda. Malam pertama itu berakhir dengan suasana lebih santai dan romantis dari yang kuduga sebelumnya. Kami berjanji akan melakukan pertemuan lagi selama aku berada di Jakarta paling tidak 3 sampai 4 kali dalam waktu 2 minggu. Hanya saja dia tetap merahasiakan dimana dia tinggal di Jakarta serta alamat tempat dia bekerja, aku pun tidak ingin memaksanya karena bagiku lebih penting menjaga hubungan baik yang telah ada ini.

Kami tidak lagi kaku setiap kali bertemu, bahkan aku mulai berani untuk membelai pipinya, lengannya serta tangannya yang halus dan Rani pun juga demikian, bahkan dia lebih berani dengan memegang dan mengusap kumisku yang menjadi favorite katanya di setiap akhir pertemuan kami.Di pertemuan kami yang berikutnya, aku mengajaknya nonton film di daerah Jakarta selatan, kami masuk ke dalam gedung pertunjukan tepat pada saat film dimulai sehingga keadaan gelap. Secara refleks, Rani mendekap lengan kiriku agak kencang karena takut tersasar maupun jatuh, aku agak kaget waktu merasakan dadanya yang montok tapi lembut menempel di lenganku. Kebetulan kami mendapat tempat di baris belakang dan di pojok. Yang memilih tempat adalah Rani, jadi kuikuti saja apa yang menjadi pilihannya. Tidak banyak penonton di sekitar kami, jadi aku merasa agak bebas tidak akan malu bila ada kesempatan aku dapat mengecup bibir gadis yang sensual di sebelahku ini.

Selama film diputar, kami tidak konsentrasi dengan jalan ceritanya, aku lebih sering mengusap tangannya disertai sekali-kali memandang ke arahnya, rupanya Rani merasakan hal yang sama. Suatu saat tepat, kami saling berhadapan sehingga jarak hidungku dengan hidungnya kurang dari 10 cm.
"Daddy..." sapanya lembut, terasa nafasnya yang harum di hidungku.
"Ya sayang..?" jawabku perlahan sambil menatap wajahnya.
"Daddy... aku..." belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, kukecup bibir yang sensual itu lembut, Rani pun langsung memberikan reaksi dengan serta merta menggigit lembut bibirku yang bawah sehingga kumisku tepat mengenai ujung hidungnya yang bangir sambil tangan kanannya menarik bajuku, melepaskan kancing satu persatu terus menyentuh dan mengusap putting susuku dengan lembut. Aku menggelinjang sejenak, "Bukan main..! Dia kok sepertinya tahu bahwa itu salah satu kelemahanku."

Beberapa saat kami berpagut tanpa memperdulikan keadaan di sekitar, sampai akhirnya aku me-nepuk-nepuk punggungnya yang padat untuk menyadarkan kami berdua. Kami saling berpandangan di dalam gelap keremangan dari pantulan film di layar di depan kami.
"Daddy... aku sayang kamu Daddy..." Rani berkata dengan lirih disertai nafasnya yang harum terasa menerpa wajahku.
"Iya sayang, aku juga mengasihimu, Maharaniku yang cantik." jawabku sambil memegang kedua belah pipinya yang halus serta merta kuusap dengan lembut.
Inilah pertama kali kukecup bibirnya Rani yang sensual setelah selama beberapa bulan sejak berkenalan, kencan di beberapa cafe atau restaurant yang tidak atau belum ada kesempatan untuk melepaskan rindu kami berdua dengan cara yang demikian.

Pada satu saat, aku sedang berada di kantor kira-kira jam 16:30, aku sedang days off, HP-ku berdering.
"Hello Daddy sayang... aku kangen sama Daddy..." katanya dengan suara agak bergetar lembut.
"Non yang cantik, aku juga kangen sama kamu... jadi bagaimana dan dimana kita bisa bertemu..?" jawabku penuh antusias sebab aku juga lagi uring-uringan dengan pekerjaan yang agak menumpuk atas permintaan kantor yang sudah dua hari menyita days off-ku.
"Sayang... aku mau kita ketemu berdua aja... nggak pake pelayan segala." jawabnya perlahan manja, mungkin maksudnya bertemu tapi bukan di cafe atau restaurant yang biasa kami berdua kencan.
Nah lho, ada apa lagi nih, aku mulai berpikir, jangan-jangan dia lagi suntuk dengan keadaan di kantornya. Oke lah, aku harus konsekuen dengan janjiku padanya, bahwa aku akan memenuhi segala permintaannya semaksimal mungkin selam aku ada di Jakarta.

"Ok Sayang, kita ketemu dimana..?" tanyaku lagi dengan mantap.
"Daddy sayang, aku jemput kamu dimana..? Daddy ada dimana sekarang..?" jawabnya lagi.
"Aku sedang ada di kantor, kira-kira satu jam lagi aku selesai dan Rani bisa jemput Daddy, OK..?" balasku lagi.
"Aku nggak mau nunggu satu jam lagi, aku mau sekarang, Daddy..." terdengar suaranya agak kesal dan penuh harap.
Aku terhenyak di kursi yang kududuki, ada apa ini si Cantik.. kok tiba-tiba jadi tidak seperti biasanya, lembut dan menawan kalau berbicara denganku, tapi sekarang kok jadi agak galak.
"Oke.. ok Sayang, kamu sekarang kesini jemput aku, aku tunggu yaa..?" akhirnya aku menyerah dan segera membereskan pekerjaanku dan memberi tahu bossku bahwa aku akan meneruskan besok atau lusa sebab ada hal penting untuk keluarga yang harus kuselesaikan sekarang (huh bohong besar lu Jay..).

Tepat 20 menit kemudian, Rani sudah ada di hadapanku mengendarai mobilnya, dia turun dan pindah duduk di sebelah kiri, artinya aku yang menyetir. Kuperhatikan dia hari ini memakai casual dress terdiri dari kemeja berwarna kuning dengan kancing terbuka sampai bagian dadanya agak terlihat sedikit. Wow.. sexy lady. Dengan kombinasi celana panjang hitam, sepatu hitam model Moccasin berhak 3 cm. Ini pertama kali Ratih berpakaian tanpa blazer di hadapanku sehingga aku benar-benar mengagumi bentuk tubuhnya yang indah, montok dan pokoknya segala yang aku senangi dari bentuk tubuh wanita dewasa ada pada Rani. Jadi aku duduk di belakang kemudi, mobil kujalankan perlahan-lahan meninggalkan kantorku.

Sambil melihat lurus ke depan aku bertanya, "Kita mau kemana Non..?"
"Terus aja lihat ke depan..! Nggak mau lihat aku yaa..? kenapa..? terganggu kerjanya ya gara-gara Rani..!" jawabnya ketus, ya Tuhan.. ada apa gerangan dengan gadisku yang manis hari ini, ngambek ni yee.
"Iya deh... Daddy salah deh... jadi..? Kita ini mau kemana neng..?" jawabku lagi dengan lembut dan hati-hati sambil melihat ke arahnya.
Kulihat dia, matanya hitam, bulat dan indah berbinar-binar menatap lurus ke depan.
"Hey Sinyo Ambonese... kowe harus berbuat sesuatu untuk mencairkan suasana tegang yang kowe ciptakan sendiri.." hati kecilku berteriak.
Sambil kembali melihat ke depan kuraih tangan kanannya dan dengan lembut terus kucium sambil kugigit-gigit kecil. Terasa tangannya yang semula tegang mulai melemas dan membalas dengan genggamannya terhadap tanganku disertai desahan-desahan lembut meluncur dari bibirnya yang sensual.

Sementara aku sudah menentukan kemana arah yang akan dituju, tidak ada tempat lain. Taman Impian Jaya Ancol, Hotel Horizon, Putri Duyung Cottage, tidak tahu lagi aku, yang penting aku harus cari tempat untuk kencan bersama gadisku ini, kalau sampai dia ngambek lagi bisa-bisa bubar pasar hubunganku dengannya.
"Hai... jangan marah lagi dong Sayang, Daddy kan sudah mengaku salah.. kok masih diam saja..?" tanyaku hati-hati.
"Oh.. Daddy... aku nggak marah sama Daddy... Aku kangen banget sama Daddy and I'm really hornyyy..." jawabnya sendu, akhirnya luluh juga ketegangannya.
Dia langsung menggeser duduknya, mendekatiku dan memelukku sambil menyandarkan kepalanya yang tercium harum di hidungku itu pada dadaku, dan lagi-lagi dadanya yang montok serta kenyal itu menyentuh lenganku, membuat jantungku berdebar-debar sambil membayangkan kalau aku bisa mengusap serta mengecupnya.

Jalan menuju tujuan kami berdua sepertinya tanpa ada halangan macet dan sebagainya yang berakhir di Putri Duyung Cottage. Waktu pada saat itu menunjukan jam 18:30 dan cuaca sudah mulai gelap. Tanpa banyak kesulitan, aku bisa mendapatkan satu bungalow dan kami mendapat kamar bagian atas. Sejak turun di depan bungalow, Rani tidak melepaskan pelukan di pinggangku sampai kami masuk, naik tangga, melepaskan sepatu bersama-sama. Kemudian kami berdiri berhadapan, sekali lagi tanpa melepaskan pelukan kami, saling berpandangan persis seperti dalam adegan film Gone With The Wind yang dibintangi almarhum Clark Gable dan almarhum Vivien Leigh. Aku rasanya tidak tahan lagi ingin menelanjangi tubuh montok dalam dekapanku ini, tapi aku tetap sadar dengan umur serta pengalamanku, bahwa aku harus mengambil inisiatif secara perlahan-lahan dan hati-hati.

"Maharani yang manis... sekarang Daddy ada di hadapanmu dan menjadi milikmu seutuhnya." kataku lembut sambil menegakkan kepalanya dengan kedua belah tanganku, sehingga jarak antara wajahku dengan wajahnya tinggal beberapa centimeter.
"Daddyku sayang... peluk aku... cium aku... pleaaaseee..!" desahnya lembut.
Tanpa menunggu reaksinya langsung kukecup keningnya yang putih bersih, terus turun ke matanya yang setengah tertutup, hidungnya yang bangir, pipinya yang halus dan tercium wangi aroma Channel no.5 yang terkenal mahal, terus turun pada bibirnya yang sensual dan menggemaskan itu. Nafasnya tersengal-sengal mulai keras terdengar disertai desahan nikmat. Kukecup bibirnya dengan lembut dan terasa kumisku yang cukup lebat menggeser-geser bagian bibir atasnya, reaksinya.. aduh mak! Dengan ganas, Rani membalas kecupan bibirku, aku berteriak kecil ketika bibir bawahku digigit Rani agak keras, mungkin karena gemasnya tersentuh kumisku yang lebat.

Tangan kananku tidak tinggal diam, turun ke arah dadanya yang kemudian kuusap lembut sambil mencoba mencari puting susunya yang menonjol menekan baju kuningnya yang agak tipis terlihat sewaktu kami berada di dalam mobil. Rani mendesah sambil tetap menggigit bibirku dan sekali-kali lidahnya dengan ganas mendorong lidahku. Benar-benar hebat permainan bibir dan lidah gadisku ini. Tangan kiriku turun dari punggungnya ke arah pantatnya yang lumayan besar tapi padat dan montok, pokoknya Ratih gadisku ini serba montok dari pipinya sampai dengan ke kaki, maksudku betisnya bagai "padi bunting" dan itu semua merupakan favorite-ku dalam hal bentuk tubuh wanita.

Kuremas-remas pantatnya, juga susunya yang putih serta putingnya yang merah coklat terlihat setelah aku berhasil melepas kancing baju serta BH-nya yang berwarna kuning lembut sewarna dengan baju kuningnya. Sementara itu Rani belum melepaskan bibirku dari cengkraman bibirnya yang sensual disertai desahan-desahan nikmat terdengar dari mulutnya. Aku mencoba bermain dengan lembut pada kedua puting susunya yang telah berhasil kulepaskan dari BH-nya, aku berusaha melepaskan bibirku dari bibirnya, kemudian agak kugigit bibir bawahnya sehingga dia melepaskan kecupannya yang buas. Kutelusuri lehernya yang jenjang terus ke dadanya, ke pucuk susunya yang, wow..! montok, padat dan kenyal itu, aku tidak tahan langsung kukecup dan kuhisap keras-keras putting yang menggemaskan itu seperti layaknya bayi menyusu. Tetapi berbeda rasanya menghisap susu dan pentil gadisku yang satu ini. Rani mengerang dengan suaranya yang khas.


"Daaaddd... ooohhh... ennggg... mmmfff.., teerruusss... ooohhh..!"
Dengan agak kasar kulepas bajunya dan Rani ikut melepaskan celana panjangnya, sementara aku terpaksa melepaskan kecupanku pada susu serta putingnya yang tampak agak membesar untuk melepaskan bajuku. Tinggal celana dalam masing-masing yang masih melekat di badan kami. Dengan lembut, kuraih Rani yang dengan matanya yang hitam, bulat berbinar-binar memandang tubuhku seolah-olah tidak percaya bahwa di hadapannya berdiri tubuh seorang pria setengah baya. Dia langsung memelukku dengan wajahnya disembunyikan di dadaku, tubuh kami saling menempel Skin To Skin.
"Daddy... ayo Dad... Rani mau Daddy puasin aku sekarang, aku nggak tahan lagiii..." rintihnya sambil menggigit dadaku terus ke putingku yang termasuk bagian sensitive dariku.
Aku melepaskan pelukanku dan membimbingnya sambil berpandangan ke arah tempat tidur model kingsize bed. Kududukkan dia sambil tetap memandang wajahnya yang ayu dan sendu itu, aku berlutut di hadapannya.

"Gadisku yang manis... aku akan memenuhi segala keinginan kamu, kamu bersedia..?" tanyaku dengan lembut tetapi mantap.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya yang sensual kecuali kedua tangannya menarik tanganku dan meletakkan di atas kedua dadanya yang indah serta montok itu, kurebahkan dengan perlahan-lahan tubuh indah itu dan kukecup bibirnya, lehernya, kedua bukit padat dengan putingnya yang mengeras tapi nikmat. Desahan nikmat terdengar dari mulutnya ketika aku menghisap serta menggigit-gigit kecil kedua puting susunya.
"Ooohhh... Daaaddd... teruuusss sayaaanngg..!" jeritnya perlahan dan tertahan-tahan, aku terus mengulum susunya dan putingnya dengan kegilaan yang memuncak.
Bibirku menyapu kedua susunya, terus turun ke arah perut, pusar, kujilat sekeliling pusarnya sambil tanganku meremas lembut kedua susunya yang montok serta putih itu. Tangannya Rani menggenggam dengan kuat pada rambutku yang pendek serta tipis itu sambil menjepitkan kedua kakinya yang indah ke badanku.

Dia mendesah, "Daddyyy... nggak mau disituuu ajaaa..! teruuuss tuurruuunnn..!"
Aku ikuti kemauannya dengan sabar dan aku tetap berusaha menguasai diriku jangan sampai aku lepas kendali demi kepuasan kami berdua. Kulepaskan remasan tanganku pada kedua susunya yang montok itu, kulepaskan CD yang berwarna kuning pupus yang terlihat basah pada bagian bawah. Perlahan-lahan aku turun menciumi pusarnya, sampai di atas vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang aslinya lebat dan rupanya gadisku amat rajin mengguntinginya sehingga terasa halus dan rapih terlihat. Kujilati dengan lembut, terus turun menyentuh belahan vagina indah itu. Aku memejamkan mataku, kunikmati bibir indah itu perlahan-lahan dengan tangan kiriku membuka kedua belah bibir vagina itu.

Tiba-tiba, dengan disertai jeritan kecil, Rani menekan kepalaku ke arah vaginanya sambil mendesah, "Daddyyy... ooohhh... nggg... nikmaaattt... Daaadd..!"
Aku mulai merasakan denyutan yang tidak teratur di balik CD-ku, dengan tangan kananku kubuka CD-ku sehingga penisku bebas bergantung dan aku yakin dengan ketegangannya mulai mencapai titik atas. Sementara mulutku, lidahku terbenam di antara bibir vagina Rani yang terasa basah dengan keluarnya cairan bening dengan aroma yang khas, agak asin, kental dan kunikmati, kuhisap serta kutelan tanpa pikir panjang. Kukecup klitorisnya yang mungil. Dia menjerit kecil. Rani menggoyangkan pantatnya naik turun disertai erangan dan desahan nikmat kadang jeritan-jeritan kecil. Sementara kepalaku tetap dengan tangan kanannya ditekannya di atas vaginanya yang kunikmati habis-habisan sementara tangan kirinya meremas dan memuntir susu dan putingnya sendiri disertai desahan-desahan nikmat yang keluar dari mulutnya.

Dia mengerang panjang, "Ooohhh Daddyyy... aku keluaaarrr... mmmfff..." sambil menjepitkan kedua pahanya yang mulus di kepalaku sampai aku sulit bernafas.
Akhirnya terasa jepitan itu berangsur-angsur melemah dan Rani tergeletak sambil membukakan kedua pahanya dan aku bisa menghirup udara segar sejenak. Entah orgasme yang keberapa yang dia alami itu.
"Daddyyy... siniii sayaang..." keluhnya manja sambil mengulurkan kedua tangannya ke arahku.
Aku bangun dan merayap di atas tubuh yang indah itu, Rani mengalungkan kedua tangannya di leherku dan serta merta menciumi, menjilati wajahku terutama bagian bibirku, kumisku yang lebat, hidungku serta sebagian pipiku yang masih basah oleh karena cairan kenikmatan miliknya. Aku biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, sementara Sinyo Jay Junior yang bergelantung di pangkal pahaku terasa bertambah tegang serta berdenyut-denyut karena bergesekan dengan bulu-bulu vaginanya Rani.

Tanpa kusadari, sambil menciumi serta menjilati mukaku, Rani bangun dan berputar badannya sehingga menindih aku. Aku berada di bawah, telentang dan dia tetap mencium bibirku sampai di atas perutku, susunya yang montok serta putingnya yang masih keras menempel di dadaku dengan lembut membuatku merinding karena nikmat.
Dia melepaskan kecupannya yang lembut dan memandangku dengan lembut sambil berkata setengah berbisik, "Sayang... kamu telah membuat aku puas untuk pertama kali dan aku akan membuatmu lebih puas... sampai kamu nggak bisa bangun... dan kumis ini, gilaaa..!"
Senyum manis tersungging di bibirnya yang sensual, sementara kedua tangannya memeluk kepalaku.Rani menggoyang-goyangkan perut serta pantatnya di atas perut dan penisku yang tetap tegang akibat terselip di antara celah vaginanya. Kembali dia menggodaku dengan kecupan-kecupannya yang lembut pada dahiku, kedua mataku, pipiku terus ke arah hidungku, pada ujungnya dia menggigit lembut dan aku sempat mengernyitkan dahi kerena kaget. Lidahnya bermain pada ujung bibirku dan membuatku gemas serta berusaha mengulum bibir sensual itu, tapi dengan gesit Rani mengelak sambil tersenyum manis dan gerakan pinggulnya menggesek-gesek penisku yang masih terjepit di antara kedua pangkal pahanya yang membuatku semakin bingung mengatasi gejolak nafsu yang mulai tidak tertahankan.

Sambil terus menciumi dan menggigit-gigit kecil seluruh bagian atas tubuhku, dia turun perlahan-lahan pada kedua dadaku dan, wow.. bukan main gadisku ini..! puting susuku dijilat dan digigitnya lembut, aku tidak tahan lagi.
"Aduuuhhh... sayang.., kok kamu jadi gilaaa beginii siiiih..!" nafasku terengah-engah dibuatnya.
Bagian ini adalah salah satu bagianku yang dapat membuatku orgame awal, tapi aku coba bertahan. Hebat gadisku yang satu ini, sepertinya dia tahu betul salah satu kelemahan sensualku. Dia terus turun sambil menciumi dadaku, pusar, bermain-main di pusarku dengan lidahnya yang tipis itu, terus turun sampai dekat pangkal pahaku yang penuh dengan rambut. Sekarang kedua tangannya berusaha menyibakkan rambut yang lebat yang tumbuh di sekitar penisku dan terasa remasan lembut tangannya membelai halus penisku yang sudah tegang. Aku memejamkan mata, menikmati belaian tangan halus Daraku nan cantik yang bergerak turun naik menyentuh penisku.

Tiba-tiba aku merasakan kehangatan menyelimuti penisku, aku membuka mata, memandang ke arah pangkal pahaku dan aku amat sangat kaget melihat penisku yang tegang tengah dikulum dengan lembut oleh mulut Rani dengan tenangnya.
"Aduuuhh Non sayang... jangaaannn... ooohhh..." desahku menahan kenikmatan.
Aku berusaha bangun dan mencoba menahan kepalanya yang mulai turun naik sambil menghisap penisku, tapi dia seolah-olah tahu dan menepis kedua tanganku dengan satu tangannya dengan garang. Dia menatapku sejenak dengan matanya yang hitam, bulat dan indah itu. Galak amat gadisku ini, seperti macan betina tanpa melepaskan genggaman serta mulut yang seolah-olah akan menelan penisku itu. Dia masih bermain-main dengan asyiknya pada penisku masih dihisapnya, sementara aku dengan susah payah menahan gejolak nafsu birahi ini yang kurasakan sudah hampir kepuncaknya. Sekonyong-konyong Rani melepaskan penisku dari mulutnya dan dia merayap dengan cepatnya ke arah dadaku.

"Daddy... aku nggak tahan lagi... Dadddyyy... ayo sekarang masukin, ayooo..!" katanya terengah-engah.
Tanpa diperintah dua kali, aku yang memang sudah tidak tahan lagi, langsung menarik dan membalikkan badannya sehingga aku berada di atasnya.
"Sayang... Daddy juga sudah nggak tahan... sekarang yaa..?" jawabku sambil memegang penisku yang kuarahkan ke vaginanya yang merekah karena dia juga sudah membuka lebar-lebar pahanya.
"Pelan-pelan Daddy... aku sudah lama nggak begini, oohh..." rintihnya lembut.
Kutempelkan kepala penisku ke bibir indah itu dan perlahan-lahan kutekan masuk sedikit demi sedikit, bukan main sempitnya seperti vagina perawan, dia mengeluh pendek.
"Terus Daddyy... emmmfff... teruuus Daddy... enaaakk, ooohhh..." desah kenikmatan terdengar lembut di kupingku.

"Bleesss..!" akhirnya masuk semua 16 cm batang penisku ke dalam vagina Rani yang memang sempit dan terasa agak dalam.
Aku merasakan ujung penisku tertahan sesuatu dan berdenyut-denyut karena dia sepertinya merasakan nikmatnya sambil mempermainkan otot vaginanya. Gila..! ooohhh nikmat sekali rasanya, dan aku mulai menggerakkan turun naik pantatku, Rani menggoyangkan pinggul seirama dengan gerakan pantatku.
"Aaahhh... Sayaaangg... enak sekali goyanganmu, teruuusss... ooohhh..." aku sendiri merintih penuh nikmat.

Ada kira-kira 5 menit kami saling bergoyang dan berpagut. Kukecup bibirnya yang sensual itu dan dia membalas dengan gigitannya yang menambah gairahku. Kukecup kedua puting susunya bergantian dan rintihannya tiada henti-hentinya terdengar dan kurasakan aku tidak tahan lagi.
"Ooohhh... sayaaanggg... aku nggak tahan lagi..." rintihku dekat telinganya yang harum.
Tiba-tiba Rani menjepit pinggangku dengan kedua belah pahanya dengan kuat disertai jeritan kecil yang tertahan.
"Daddyyy... ooohhh... akuuu... mmmfff..!" penisku terasa berdenyut-denyut dan tersedot dengan hebat, terasa hangat, geli-geli basah.
Dia telah mencapai orgasme, aku pun tanpa sadar memeluknya dengan erat sambil mengecup bibirnya, kami berpagut entah berapa lama seolah-olah tidak akan saling melepaskan. Kutekan pantatku sedalam-dalamnya sehingga penisku tenggelam habis ke dalam vagina mungil Ratihku, tenggelam habis.
Dan, "Srooottt... srooottt... srooottt..." entah berapa banyak air maniku yang kusemprotkan di dalam vagina Rani gadisku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kami berdua mencapai klimaks orgasme pada saat yang sama, bukan main, ini benar-benar senggama sempurna yang pernah kulakukan dan pasti dia pun demikian. Aku masih tertelungkup di atas tubuh indah yang cantik itu sampai terdengar sapaannya yang lembut.
"Daddyyy... aku cinta kau..."
Aku tersadar dan perlahan-lahan sambil memeluknya erat-erat, aku berputar dengan berusaha agar penisku tetap berada di dalam lubang kewanitaannya yang hangat dan dia berada di atas tubuhku sambil tetap menyandarkan kepalanya di dadaku. Terasa ada cairan hangat mengalir di dadaku. Kuraih dengan lembut kepalanya, terlihat kedua matanya yang indah itu basah berkaca-kaca. Air matanya mengalir perlahan-lahan di kedua belah pipinya yang halus. Aku tertegun sejenak.

"Rani sayang... ada apa Non..? Aku juga cinta kamu.. kamu menyesal atas kejadian ini..?" tanyaku hati-hati.
Dia tersenyum kecil, wajahnya bertambah manis dengan mata yang berkaca-kaca penuh air mata.
"Rani merasa bahagia Daddy... karena selama ini hampir 3 tahun aku nggak pernah melakukan ini dan baru Daddy seorang yang memberi kebahagiaan serta kepuasan seperti ini kepadaku sejak..." kusentuh bibirnya dengan jariku untuk mencegah dia melanjutkan apa yang hendak dikatakannya karena aku sudah tahu apa yang terjadi lama sebelum dia mengenalku seperti apa yang pernah diceritakannya padaku dan aku tidak ingin dia mengingat-ingat hal yang pernah mengecewakan dan menyakiti hatinya dahulu.

Aku bangkit dan kembali sambil memeluknya, sehingga posisi kami tetap saling berpelukan sambil duduk seperti salah satu bentuk sanggama yang ada dalam KAMASUTRA. Aku memeluk punggungnya yang halus dan dia memeluk leherku. Kami saling memandang penuh kasih, bibir kami bersentuhan lembut sambil kugigit lembut bibirnya. Dia mendesah, kami bertatapan kembali untuk berciuman lagi. Kukecup lehernya yang putih dan jenjang itu, dia memelukku dengan erat.
"Daddy... aku cinta kamu... aku sayang kamu... aku serahkan kehormatanku padamu... tapi aku mohon jangan tinggalkan Rani karena Rani sudah tidak..." belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, bibir yang sensual itu kukecup dengan erat.

Kulepaskan kecupan bibirku, melihat ke arah matanya dan berkata dengan tegas dan sepertinya dia agak kaget dengan sikap dan suaraku yang agak keras tapi sambil bercanda, "Hey listen honey... I don't care you'e not virgin anymore or whatever you are. I do care you. I do love you." perlahan-lahan aku tersenyum dan dia pun terlihat tersenyum sambil memelukku dan mencium pipiku dengan lembut.
"Ooohhh Daddy... terima kasih Daddy. Rani belum pernah mengalami seperti ini, aku akan tetap menyayangi dan mencintai Daddy, sayang..." jawabnya tanpa melepaskan pelukan di leherku.

Beberapa saat kami berpelukan dalam posisi duduk, aku berbisik ditelinganya, "Kita mandi yuk..? Sudah mulai lengket nih..." dia tersadar dan mengangguk, perlahan-lahan dia bangkit dan sambil menarik kedua lenganku, kami berdua tanpa sehelai benang berjalan bergandengan tangan, saling menatap menuju kamar mandi.
Kami saling membersihkan diri, kusiram seluruh tubuh indah serta putih mulus itu, kusabuni seluruh tubuhnya dan Rani melakukan hal yang sama terhadapku. Tubuh kami masih basah, penisku tegang akibat remasan tangannya yang halus, sementara aku pun mengusap-usap susunya yang putih montok, terus turun mengusap bibir vaginanya, jariku masuk dan mempermainkan klitorisnya dengan lembut. Dia mulai mendesah. Sambil berpandangan kami saling mengusap, meremas lembut apa saja yang dapat kami sentuh, sehingga bangkit kembali keinginan bersanggama yang berkobar-kobar. Tanpa sempat untuk mengeringkan badan kami, kutarik Rani menuju tempat tidur, kurebahkan diriku dan dengan agak kasar karena mulai tidak tahan, dia kutarik sehingga dia jatuh menindihku. Kami berdua saling memandang, kukecup dengan lembut bibirnya yang tetap sensual meskipun lipstiknya sudah luntur alias hilang.

Dia menggigit lembut bibirku sambil tangannya mulai meraba penisku yang sudah tegang sejak keluar dari kamar mandi, dibelai dan dikocoknya pelan-pelan, membuatku merintih nikmat sambil memejamkan mata, sementara mulut kami berdua terkunci dengan kecupan-kecupan yang makin lama makin buas. Tanganku meremas susu dan putingnya yang mengeras. Rani tiba-tiba bangun dan kembali merayap di atas tubuhku, terus kedua tangannya memegangi kepalaku hingga vaginanya tepat berada di atas hidung dan mulutku. Tercium bau aroma yang khas dan aku amat menikmatinya, langsung kutekan pantatnya yang indah dan montok itu. Kukecup bibir serta klitorisnya dengan lembut, kupermainkan lidahku pada klitorisnya, terus ke dalam lubang vaginanya yang merekah di hadapanku dan akibatnya, "Ooohhh Daddyyy... teruuusss... Daaaddd..!" erangnya dengan nikmat.
Sementara pantatnya bergoyang-goyang mengimbangi permainan bibir dan lidahku, aku pun bermain dengan penisku sendiri. Swalayan man..! Rani menghentikan gerakan pantatnya dan dengan sigap dia kembali memegang penisku dan diarahkan ke vaginanya, kemudian pantatnya turun. Masuk sudah penisku penuh ke dalam lubang kenikmatannya. Terasa hangat dan berdenyut-denyut penisku dipijat oleh otot vaginanya yang agak sempit tapi nikmat itu.

Rani merebahkan tubuhnya di atas tubuhku. Aku mulai menggerakkan pantatku, dia melihat ke arahku dan sambil bertumpu pada dadaku di kedua tangannya dia juga mulai menggerakan pantatnya naik turun dengan perlahan-lahan. Makin cepat... makin cepat...
"Ooohhh... Daddyyy... Dadddyyy... mmmfff..." erangannya dan desahannya yang semakin menggila.
Tanganku tidak tinggal diam, kedua susunya yang putih serta montok dihiasi puting yang merah kecoklatan kuremas serta kupuntir lembut menambah kenikmatan baginya. Aku merasa penisku menghangat dan mulai terasa "ngilu" di ujungnya dan Rani sekonyong-konyong menjatuhkan dadanya yang masih tertahan oleh tanganku ke atas dadaku dan terpaksa aku melepaskan dua bukit indah dan asyik yang sedang kupermainkan untuk memeluknya.

"Dadddyyy... Aku nggak tahaaannn... ooohhhmmmfff..." jeritan kecil dan panjang terdengar dari mulutnya disertai pagutannya yang ganas pada bibirku, pelukan serta jepitan pahanya yang mulus di pinggangku mengeras dan dia diam sejenak.
Aku merasakan penisku semakin hangat di dalam vaginanya yang tadi agak sempit sekarang terasa melemas dan aku pun kembali merasakan ngilu yang hebat pada ujung penisku.
Bersamaan dengan itu, "Srrooottt... Srrooottt... Srrooottt..." maniku memuncrat.
Untuk kedua kalinya aku mencapai orgasme bersamaan dengan Rani gadisku yang sekarang posisinya ada di atasku tertelungkup dengan pagutan bibirnya, jepitan kedua pahanya di pinggangku dengan dahsyat.
Kami berpelukan sambil bibir kami tidak saling berusaha melepaskan, seolah-olah hanya kiamat saja yang sanggup melepaskan pelukan kami berdua. Ini benar-benar dahsayt, gila dan entah apa lagi, aku tidak bisa melukiskan dengan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang baru saja terjadi antara aku dan Maharani, gadisku ini. Dua kali kami melakukan persetubuhan dan dua kali juga kami secara bersamaan mengalami orgasme, ah, aku tidak tahu lagi.

Kembali ke tempat tidur, kami masih berpelukan, bibir kami masih berkecup dan saling melepaskan secara perlahan-lahan, saling memandang dengan penuh kasih dan cinta.
"Daddy... aku cinta kamu... aku sayang kamu..." Rani berkata sayu sambil sebentar-sebentar mengecup, serta menggeser-geser bibirnya yang sensual ke bibirku, kumisku dan hidungku.
"Hmm... Daddy juga sayang kamu.., Nona cantik..." jawabku sambil megusap kedua belah pipinya serta rambutnya yang lebat dengan lembut.
Akhirnya kami saling melepaskan pelukan dan berbaring bersebelahan, kepalanya di atas dadaku, tangannya yang halus membelai lembut perutku. Terasa lemas seluruh tubuhku dan aku yakin Rani-pun demikian dan kami tertidur kelelahan setelah hampir 2 jam bermain cinta diselingi mandi bersama sebelum permainan terakhir.

Tengah malam, aku terbangun karena terasa dinginnya AC dan sadar bahwa tubuh kami tidak tertutup sehelai benang pun bahkan sampai lupa memakai selimut.
"Non... bangun..." sapaku hati-hati.
"Mmmm... apa Sayang..?" rintihnya halus.
"Daddy lapar, cari makanan yuuk..! Kamu lapar nggak..?" aku mencoba membangunkannya.
Dia membuka matanya yang hitam dan indah itu seolah-olah baru sadar bahwa dia tidak di rumah. Kami bangun, terus mandi bersama dengan santai, berpakaian, terus keluar cari makan. Kami menginap di Putri Duyung Cottage malam itu, besok hari Minggu dan kami libur, sehingga tidak perlu buru-buru pulang.

Hubunganku dengan Rani berjalan terus hingga sekarang tanpa mengganggu keluargaku, karena sebelumnya kami sudah berjanji akan menjaga hal tersebut demi persahabatan serta kenikmatan bercinta tanpa diganggu masalah keluarga masing-masing. Rani.. oh Maharani... gadisku yang menggairahkan.


TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "kisah cinta romantis 17tahun"

Posting Komentar