sebuah perjalanan spritual


Kisah ini menjadi pelajaran buatku dalam pemilihan bahasa untuk menggambarkan tentang segala aspek dari sebuah pengalaman yang secara umum selalu dicaci sebagai hal yang buruk. Kisah ini juga membuatku sejenak menanggalkan kedok-kedok intelektualitas dan moralitas, membuang sedikit sifat hipokrit dalam diriku. Juga merubah pandanganku yang sebelumnya memandang sebelah mata akan detil-detil tentang tubuh, serta fungsi bagian-bagiannya sampai pada suatu kesadaran bahwa tidak ada alasan bagi seorang penulis untuk malu, selama apa yang ditulisnya itu dapat makin 'menghidupkan' ceritanya.

Walaupun telah menjadi seorang maniak seks sepanjang hidupnya, 'kejahatan seksual' yang paling serius yang pernah dilakukan oleh Dr.Jarwo Suratmo adalah sesuatu yang benar-benar tanpa disengaja, sebuah 'kecelakaan' kecil yang sebenarnya dapat dimaafkan.

Kejadian tersebut bermula saat seorang pasien wanita berkebangsaan Amerika berobat padanya. Dr.Jarwo Suratmo adalah ahli ortodontis yang juga memiliki kemampuan penyembuhan 'alternatif'. Dia memiliki sebuah klinik ortodontis di daerah pinggiran ibu kota. Kegilaannya akan seks membuatnya tertarik untuk 'mencicipi' pasien bule yang sedang berobat padanya itu. Dia berhasil menjerat 'korbannya' itu dengan kemampuan pengobatan alternatif yang dimilikinya (kemampuan yang dipandang unik dan eksotis bagi orang barat).

Perkenalan di ruang praktek itu berlanjut ke acara minum-minum hingga keduanya mabuk. Dalam suasana lepas kendali itu si dokter berhasil mengajak pasiennya berhubungan badan. Wanita Amerika yang sudah benar-benar 'fly' itu melakukan oral sex dengan dokter maniak hingga akhirnya tidak sanggup melayani pasien bule yang sangat mahir memainkan batang kemaluan dalam mulutnya. Wanita Amerika itu bahkan menolak melepaskan batang kemaluan sang dokter sampai si dokter maniak itu memuntahkan spermanya ke dalam mulutnya. Begitulah kira-kira maksud si bule yang coba diartikan oleh sang dokter (karena wanita itu berkata seperti berdengung saja akibat mulutnya penuh oleh batang kemaluan si dokter).

Wanita Amerika itu bersikeras untuk menantikan ejakulasi sang dokter dalam mulutnya dengan alasan bahwa dia ingin sekali mengenal Indonesia dalam segala aspek dan rasanya! Akan tetapi betapa terkejutnya Dr.Jarwo Suratmo yang mabuk itu ketika menyadari kalau batang kemaluannya tidak memuntahkan sperma melainkan urin. Betapa shock dan kegetnya dia menyadari kalau dia bukan sedang ejakulasi tapi sedang kencing! Dengan panik dia berusaha berhenti kencing tapi dia tidak mampu. Begitu pula tampaknya si pasien bule itu sama sekali tidak melepas batang kemaluan sang dokter dari mulutnya malah terlihat makin bernafsu menyedot 'isi' batang kemaluan yang menyembur di langit-langit mulutnya bagai semprotan air selang pemadam kebakaran.

Pada akhirnya si wanita bule itu menyeka bibirnya, kemudian dengan ekspresi penuh kepuasan berkata, " Wow! that was a lot! itu tadi luar biasa banyak sekali keluarnya.. tidak ada pria Amerika yang memiliki sebegitu banyak sperma! dan rasanya seperti sampanye asam great!.

Sebagai seorang dokter dan ahli pengobatan alternatif Jarwo Suratmo sadar kalau dualisme telah mempermainkannya. Ia sadar kalau organ 'spesialnya' itu memiliki dua fungsi yaitu untuk mengeluarkan sperma dan untuk mengeluarkan urin dan kebetulan saat itu kedua fungsi tersebut tertukar! "Ya ampun!" dia berkata dalam hati, "Bagaimana pula kalau aku ingin kencing tapi malah ejakulasi?" Dia segera memberikan minuman kepada pasiennya itu untuk menyegarkan mulutnya kemudian mengantar pasiennya itu kembali ke hotelnya.

Sebagai seorang pakar dalam pengobatan alternatif dia percaya kalau air kencing itu baik untuk kesehatan, walaupun dia sendiri belum yakin akan hal itu. Setidaknya untuk sedikit menghilangkan rasa bersalahnya. Lagipula sepanjang hari itu dia banyak makan buah dan baru saja minum air kelapa yang segar. Namun tetap saja dia merasa bersalah. Bagaimana kalau wanita Amerika itu sadar kalau yang dia telan barusan adalah air kencing? Seberapa besar tingkat amoral yang kita lakukan apabila kita mengencingi mulut wanita, sekalipun tanpa sengaja?

Apa yang terjadi kalau dia melakukan itu pada pasien lokal? Dr.Jarwo Suratmo pusing tujuh keliling membayangkan itu sehingga dengan lunglai dia bersandar pada rak buku di ruang prakteknya. Mungkin dia bisa sampai masuk penjara atau menjadi korban balas dendam kalau dia melakukan itu pada pasien lokal. Karena menurutnya orang Indonesia akan sadar bahwa penyembuhan alternatif ya alternatif tapi air kencing tetap air kencing!

Dia kemudian mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengingat bahwa bukan dia yang bernafsu melakukan oral sex tapi pasiennya itu sendiri yang memulainya. Si wanita Amerika itu sendiri yang berkata bahwa dia ingin merasakan pengalaman dalam pengobatan alternatif tapi dengan cara America (the American Way). Salah satunya adalah dengan oral sex. Semenjak kejadian itu, setiap kali Dr.Jarwo memegang batang kemaluannya saat kencing, dia selalu berharap cemas: Apa yang bakal keluar?

Tapi dia melewati masa-masa krisis 'kepercayaan dirinya' itu dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang maniak seks. Identitas itu bagai sangat lekat dalam pribadinya. Dia menikmati sekali menjadi seorang maniak seks tanpa membuat hal-hal aneh yang mengganggu orang lain. Dia tidak pernah sampai memperkosa, juga tidak pernah memuaskan nafsunya dengan cara penipuan atau ancaman pada wanita. Bisa disebut Dr.Jarwo Suratmo adalah maniak seks yang sangat gentle dalam mencari serta memperlakukan 'korban-korbannya'. Dia juga sama sekali tidak tertarik dengan sodomi yang menurutnya sangat tidak higienis. Urin sekalipun, masih memiliki nilai-nilai kesembuhan atau terapeutika, akan tetapi kotoran adalah kotoran dan batang kemaluan memiliki semacam tanggung jawab moral untuk tidak berurusan dengan kotoran. Walaupun begitu dia pernah tidak secara serius, membaca beberapa tulisan mengenai anal sex dengan cukup intens. Itupun ketika dia masih kuliah dan membaca sebuah cerita mengenai anal sex yang ditulis dengan baik oleh seorang penulis luar negeri. Dan kala itu sekalipun dia tetap tidak dapat mengerti letak kepuasan ataupun kenikmatan yang didapat orang dengan berhubungan lewat anus. Hal itu Tetap menjadi misteri baginya.

Ada suatu bagian dalam cerita tersebut yang tidak dapat dilupakannya, ketika si tokoh utama dalam cerita itu menarik keluar batang kemaluannya dari anus sang pacar, dia menemukan sehelai daun seledri yang sudah berubah warna serta sisa-sisa cabe menyangkut di ujung batang kemaluannya. Sang pria dalam cerita itu lalu menyeka 'ampas' itu kemudian kembali menyelamkan batang kemaluannya ke dalam anus si pacar. Si gadis itupun kegelian sambil berkata kalau dia habis menyantap makanan yang pedas malam itu.

Well, dalam fiksi hal seperti itu boleh-boleh saja tapi dalam kehidupan nyata dia tidak mau batang kemaluannya 'dipermalukan' seperti itu. Baginya batang kemaluan memiliki 'hak azasi'-nya sendiri untuk menikmati cengkeraman halus wanita dalam kenikmatan yang tidak terukur yang hanya dapat diberikan oleh permukaan daging lembut dalam liang kewanitaan. Memang betul kalau dia menyukai pantat wanita. Menurutnya pantat diciptakan sebagai sebuah naungan yang indah untuk menutupi bentuk yang kurang estetik dari anus. Tapi dengan segala nilai minus yang diberikannya pada organ tersebut, dia selalu bersedia dengan sukarela untuk menyentuh dan membelai bagian itu dengan tangannya, memberikan kenikmatan bagi wanita yang menikmati sentuhannya. Karena sebagai seorang maniak seks, dia menyukai setiap detail dari tubuh wanita.

Suatu ketika dia sedang bercumbu dengan seorang wanita, wanita itu dibawanya duduk di kursi periksa di ruang praktek temannya, seorang dokter gigi yang terletak di klinik ortodontis miliknya. Wanita itu berusia kira-kira 35 tahun, berpenampilan cukup menarik dan kelihatan berasal dari kelas menengah atas. Wanita itu sebenarnya adalah pasien yang datang ke situ dengan maksud untuk menambal geraham sebelah bawahnya yang bolong. Dr.Jarwo Suratmo sendiri berada di ruangan itu untuk menemui kawannya, si dokter gigi, namun kawannya itu sedang tidak berada di tempat. Mereka berdua bertemu dan bercakap-cakap, dan ketika dia memperkenalkan diri sebagai dokter, wanita itu berkata padanya, "Ah gigiku sangat sakit sekali, dapatkah anda memeriksa jangan-jangan terjadi infeksi parah dalam mulutku ini". Dr.Jarwo Suratmo menjawab, "Ya tapi saya bukan dokter gigi" Dan wanita tersebut membalas, "Tapi anda dokter juga kan.. setidaknya anda bisa memeriksa dan mengetahui kalau ada yang tidak beres dalam mulutku", kemudian wanita itu menambahkan, "Lagipula rekan anda mungkin tidak akan datang."

Sesaat kemudian Dr.Jarwo Suratmo memeriksa ke dalam mulut wanita itu yang sudah terbuka lebar. Dengan jarinya dia mengeksplorasi mulut wanita itu. Terasa lembut dan hangat ketika jarinya menyentuh bagian dalam mulut itu. Terlihat deretan gigi si wanita putih bersinar tanpa noda sedikitpun. Dia memeriksa gigi yang dimaksud sambil mendekatkan pandangannya agar dapat melihat lebih jelas. Saat itu indera penciumannya di lingkupi aroma wangi dari nafas wanita tersebut. Dengan lembut dia menyentuh lidah wanita itu, kemudian dengan halus menyapukan jarinya ke langit-langit mulut, lalu membiarkan jarinya bergerak menyentuh deretan gigi yang bercahaya.

Gerakan itu tiba-tiba terhenti ketika wanita itu dengan mendadak menutup mulutnya sehingga jarinya terperangkap di dalamnya. Sekarang lidah wanita itu bagaikan makhluk hidup yang hangat, halus dan basah bergerak mengitari dan menggelitik jarinya. Kemudian wanita itu membiarkan dia menarik jarinya keluar sambil berkata, "Jari kamu rasanya asin." Selanjutnya Dr.Jarwo Suratmo hanya memerlukan waktu sedetik untuk menutup dan mengunci pintu ruang praktek itu.

Kini Wanita itu duduk di atas kursi periksa sambil merentangkan kedua kakinya lebar-lebar. Dia membiarkan kedua pahanya diciumi oleh Dr.Jarwo yang duduk berlutut di depannya. Sampai beberapa menit, Dr.Jarwo masih berlutut di depan kursi periksa itu sambil menciumi kedua paha si wanita yang terbuka lebar di depannya. Saat itu tampak wajah si wanita memerah karena malu. Malu karena dia menyadari kalau cairan kewanitaannya telah keluar demikian banyaknya, sehingga cairan itu mulai membasahi kursi periksa yang didudukinya serta membuat wajahnya di penuhi peluh kenikmatan.

Kemudian Dr.Jarwo menarik tungkai kaki kanan wanita itu, mengangkatnya sampai seluruh kaki kanan itu menjulur, lalu mendaratkan lidahnya di permukaan kulit halus itu, menjilatinya mulai dari bagian yang sudah basah di daerah 'segitiga' hingga ke ujung jari kaki wanita itu.

Saat ketika Dr.Jarwo mengulum satu persatu jemari kaki yang halus itu, dia mendengar wanita itu mengerang kegelian dan bergumam mengekspresikan kenikmatannya. Demikian untuk setiap jari yang dikulumnya, wanita itu mengerang kegelian sambil bergumam dangan kata-kata yang sama. Dan ketika Dr.Jarwo sampai pada jari terakhir di kaki wanita itu, dia tiba-tiba berhenti dan menarik mundur wajahnya dengan keheranan. Itu tadi adalah jari keenam! Bentuknya normal hanya sedikit lebih kecil dari jari kelimanya.

Pada saat jari itu berada dalam mulutnya suara kegelian wanita itu terhenti. Dia tampak terhenyak, terdiam sejenak lalu tubuhnya bergetar hebat. Pinggangnya terangkat mengejang di atas kursi lalu rebah lunglai kembali. Tiap kali Dr.Jarwo menyentuh jari keenam itu, wanita itu kembali bereaksi dengan respon yang sama dan bergumam tentang hal-hal tidak jelas. Sepanjang karirnya sebagai seorang maniak seks, Dr.Jarwo belum pernah mengalami reaksi seperti itu (bahkan dia belum pernah melihat wanita yang memiliki enam jari kaki). Ketika akhirnya dia menghentikan cumbuannya oleh karena 'keanehan' tsb, wanita itu membuka matanya, lalu bangkit dari kursi sambil berkata, "Rasa sakit di gigi-ku kini telah hilang."

Pengalaman itu yang membuat Dr.Jarwo belajar untuk menghargai tiap detil dari tubuh wanita. Dr.Jarwo Suratmo mulai menyadari bahwa ada suatu pengalaman spiritual tertentu yang dapat dialami pada saat manusia sedang bercumbu. Bukan cuma sekedar pengalaman jasmani yang sensasinya hanya terasa selama beberapa detik saja. Orang tidak akan pernah tahu pemahaman ataukah pengalaman spiritual apa yang akan ditemukan pada kesempatan berikutnya. Dr.Jarwo Suratmo makin tenggelam dalam pikirannya mencoba melakukan redefinisi ulang atas segala yang dia yakini ataupun dia akui mengenai hubungan seksual selama ini. Bahkan sebagai seorang ahli dalam pengobatan alternatif sekalipun, dia merasa bagai 'lahir kembali' semenjak dia menemukan kenyataan tersebut.

'Sex itu spiritual'! Suatu pencerahan baru meliputi pemikirannya.
"Apa jadinya bila suatu rangsangan sederhana seperti mencium kening ternyata menimbulkan orgasme?"
"Bagaimana bila orgasme menimbulkan suatu dorongan kuat hingga menembus level spiritual?"
Dr.Jarwo teringat akan sebuah kisah mengenai pengalaman seorang pujangga di jaman Majapahit. Sang pujangga bertemu dengan seekor kerbau yang sedang berkubang di lumpur. Kerbau itu bukan hanya sekedar berkubang, tapi juga terbaring dengan punggungnya menggeliat di lumpur, dua pasang kakinya menendang-nendang ke udara sambil mengeluarkan lenguhan-lenguhan panjang seperti sedang bergembira. Sang pujangga mendekati kerbau itu lalu terkejut karena baru sadar kalau kerbau tersebut ternyata sedang bertemu dengan bathara guru! Sang pujangga takjub menyadari dirinya sedang berdiri di sebelah kerbau yang sedang melihat dewa.

Dr.Jarwo berpikir mungkin saja ketika lidahnya menyentuh jari kaki keenam itu, sebenarnya dia sedang menyentuh 'Bathara Guru' melalui tempat yang sangat spesial. Mungkin saja wanita itu memiliki semacam indra keenam di bagian itu.


'Karier' Dr.Jarwo sebagai seorang maniak seks berawal dari masa kecilnya. Ketika itu di sungai tempat dia biasa bermain, serombongan wanita yang sedang mandi secara tidak sengaja mempertontonkan 'bagian rahasia' mereka ke hadapannya. Kala itu kendati dia hanyalah seorang bocah yang dilingkupi 'kabut' kepolosan namun dia mengerti tentang itu. Dia mengerti setiap 'rahasia' tanpa perlu penjelasan dengan kata-kata. Dan ketika itu dia hanya bisa menyembunyikan ereksinya di bawah arus sungai.

Bertahun-tahun sesudah itu, setelah mencoba Gang Dolly, Kramat Tunggak, Mangga Besar, bahkan Patpong Bangkok, Kaiserstrasse Frankfurt,dan sederet surga dunia lainnya, dia menyadari bahwa tidak ada tempat yang lebih erotis dari gemercik air sungai ataupun telaga di mana para wanita biasanya mandi. Bukan cipratan airnya, bukan bias mentarinya, bukan gelembung sabunnya, bahkan bukan tubuh-tubuh basah yang bersinar diterpa sinar matahari yang menciptakan sensualitas itu, akan tetapi sifat ketidakacuhan atau malah kepasrahan yang ditunjukan tubuh-tubuh wanita ketika menyatu dengan aliran sungai.

Sikap pasrah yang diperlihatkan kulit-kulit mulus itu terhadap arus sungai yang membelai dan mengalir lancar mengikuti tiap lekukan tubuh mereka itulah yang menciptakan sensualitas yang dahsyat. Begitu nimatnya mereka berselimut air yang digunakan untuk membersihkan bagian-bagian tubuh seperti punggung, pinggang, tengkuk, ketiak, payudara, pangkal paha, lekukan kaki semuanya itu menyebarkan aura erotis yang membius imajinasi dan panca indranya. Dia membayangkan dirinya menjadi seekor ikan agar dapat berenang bebas diantara kaki-kaki mereka kemudian melihat menembus gelembung-gelembung air ke arah kumpulan 'semak' berwarna gelap yang menyembul dari antara sepasang paha yang indah.

Pengalaman pertamanya secara realita dengan tubuh wanita seutuhnya benar-benar merupakan perpaduan antara pengalaman jasmani dan rohani (saat itu memang belum disadarinya). Merupakan perpaduan antara bencana dan keriangan. Pengalaman pertamanya itu mengajarkan kepadanya bahwa untuk menjadi seorang maniak seks diperlukan kesabaran dan pengendalian diri yang tinggi. Dr.Jarwo tidak menerima pendapat yang menghakimi para maniak seks sebagai individu-individu yang tidak mampu mengontrol dirinya. Tidak hanya itu saja, Dr.Jarwo melalui pengalaman pertamanya membuktikan bahwa pendapat itu salah. Penantian dan kesabaran merupakan seni yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sexual setiap orang.

Dr.Jarwo ketika itu masih berumur 18 tahun saat bertemu wanita yang memberikan 'pelajaran seks' yang pertama kali baginya. Dia bertemu dengannya di sebuah arena pasar malam di kota kecil di Jawa Tengah, tempat dia bersekolah. Di tengah hiruk-pikuk kegembiraan pasar malam itu matanya menangkap sesosok tubuh langsing yang memakai kebaya dan memiliki rambut panjang terurai di punggungnya. Tatapan mata wanita di depannya itu bagaikan sorot mata seekor burung dari dalam sangkar. Menatapnya dengan tajam namun wajah itu memiliki ekspresi lugu dan polos sebagaimana wanita desa kebanyakan. Sejenak si Jarwo muda memandangnya untuk memastikan bahwa gadis itu bukan sedang berjualan dan tatapannya itu bukanlah tatapan mengharap agar dagangannya laku.Gadis itu memberi isyarat dengan matanya mengundang Jarwo agar mengikutinya.

Kemudian Jarwo berjalan mengikuti gadis itu melewati deretan stand dan pedangang, berjalan berkelok-kelok diantara kerumunan orang dengan perasaan penuh harap. Gadis itu baru berhenti ketika sampai di depan sebuah bangunan tua yang bertingkat. Setelah melirik dengan sudut matanya, gadis itu segera menghilang ke dalam bangunan tersebut. Jarwo sejenak tertegun. Sampai saat itu dia telah membiarkan rasa ingin tahu menuntun serta mendorongnya mengikuti langkah sang gadis seolah-olah pengejaran itu tidak akan pernah berhenti. Tetapi kini dia telah sampai di akhir pengejaran itu. Dia telah sampai di akhir rasa penasarannya dan kini saatnya untuk mengambil keputusan dengan nalar serta sedikit perhitungan matematis.

Jarwo muda berdiri di depan pintu masuk sebuah bangunan bertingkat peninggalan Belanda yang dikenal sebagai rumah bordil. Sebagai anak muda berusia belasan yang memiliki hormon menggelegak, Jarwo telah lama memiliki keinginn untuk mencoba dunia orang dewasa itu. Akan tetapi selama ini keberaniannya selalu ciut karena merasa khawatir kalau-kalau apa yang ada di balik tembok tua itu benar-benar diluar kemampuan atau diluar dari segala yang ia bayangkan.

Lama kelamaan Jarwo merasakan orang-orang di sekitarnya turut merasakan perasaan gugupnya itu. Well, rasa malu Jarwo ternyata jauh lebih besar daripada kekhawatirannya. Dengan langkah berat, dia maju dan menghilang di balik pintu masuk bangunan tersebut. Begitu pintu dia lewati, hilang pula segala kekhawatirannya selama ini dan dalam pikirannya telah terbangun suatu perasaan mantap untuk melangkah maju meninggalkan masa kepolosandan ketidaktahuannya selama ini.

Jarwo memasuki ruangan yang penuh dengan asap rokok dan suara tawa cekikikan wanita-wanita genit yang sedang duduk di pangkuan pria-pria setengah mabuk yang duduk dengan sembarangan. Dia meneruskan langkahnya mencari gadis yang tadi menuntunnya ke situ. Dengan tanpa menghiraukan pandangan-pandangan aneh dari pria-pria dewasa dan berumur di sekitarnya serta godaan para wanita penghibur di situ, dia melangkah melewati pintu di sisi lain ruang tersebut. Di depannya kini terhampar tanah terbuka berebentuk persegi yang di sekelilingnya terdapat kamar-kamar. Dia juga dapat melihat lampu-lampu yang redup dan remang terbias dari gorden jendela kamar yang berada di lantai dua.

Jarwo kembali melemparkan pandangannya menyapu setiap sisi bangunan yang terhampar di depannya lalu kembali menemukan tatapan gadis tadi yang menatapnya dari tangga yang berada tepat di depannya. Kembali gadis tersebut memberikan isyarat yang sama lalu menaiki tangga tersebut menuju lantai dua. Tanpa ragu Jarwo mengayunkan langkahnya menyeberangi lapangan terbuka itu. Dia harus menunduk beberapa kali dan menyibakan kain-kain serta pakaian dalam wanita yang tergantung di sepanjang tali-tali jemuran yang banyak bagaikan sarang laba-laba saling melintas dan memotong satu sama lain.

Sesampainya di atas, Jarwo segera menghampiri si gadis yang sudah menanti di depan pintu sebuah kamar. Jarwo muda hendak bersikap ramah dan ingin sekedar berbasa-basi ketika tanpa diduga tangan halus gadis itu menariknya menghilang di balik pintu kamar itu.

Ruang kamar itu cukup pengap karena pakaian-pakaian bekas pakai terlihat menumpuk di berbagai sudut ruangan. Sempat pula tercium aroma khas yang biasanya berasal dari pakaian dalam yang belum dicuci. Semuanya bercampur dengan aroma parfum murahan serta bau obat nyamuk bakar. Suasana yang cukup membuat pernafasan tercekik. Aneh memang namun dalam ruangan dengan kondisi seperti itu, Jarwo menemukan suasana yang lain yang membuatnya betah bahkan menikmati tiap aroma dan bau yang dia cium. Mungkinkan suasana nirwana juga seperti ini? pikirannya mulai dikuasai semua pengandaian yang penuh imajinasi.

Gadis itu menuntunnya ke bagian sebelah kanan dari ruangan itu, memintanya duduk di atas tumpukan koper, lalu sejenak memberesakan timbunan pakaian dari atas ranjang sempit di depannya. Dalam keremangan malam Jarwo manatap gadis itu penuh perhatian. Sepertinya gadis itu seumur dengannya sekitar 18-19th. Dandanannya kelihatan agak menor hingga agak menyamarkan usia mudanya. Gadis itu lumayan manis dengan bentuk tubuh langsing dan agak kurus. tubuh langsing itu memiliki nilai tambah dengan adanya sepasang buah dada yang cukup montok dan besar.

Mata yang menatap tajam saat di pasar malam itu kini berganti ramah dengan segaris senyum bersahabat di wajahnya. Senyuman polos itu tidak dapat disembunyikan oleh polesan make-up tebal dengan kualitas rendah yang dikenakan menutupi wajahnya.

Jarwo sejenak tenggelam mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari sebelum itu. Ketika itu dia berusaha mendapatkan pengalaman petamanya dengan seorang wanita setengah baya pemilik warung yang genit. Saat itu dia telah sampai di detik-detik terakhir untuk berhubungan badan dengan wanita itu ketika 'bencana' terjadi. Ketika itu dia telah menyibakan kain kebaya wanita itu dan kemudian duduk di atas tikar diantara kedua kaki wanita yang mengangkang.

Selanjutnya dia memandang ke arah 'rerimbunan' gelap yang terletak diantara kedua paha milik wanita itu sambil berharap sesuatu akan 'membimbingnya' memasuki 'rerimbunan' gelap yang penuh misteri itu. Tapi selama penantiannya itu tidak terjadi apa-apa. Bahkan tatap mata wanita yang telentang di depannya itu tidak memberinya petunjuk sama sekali. Ereksinya yang sudah lama mulai terasa ngilu terkungkung di balik celananya, berontak untuk segera bebas. Selang beberapa saat wanita itu bangkit sambil berteriak marah padanya, "Dasar anak tolol!"
"Kamu tidak tahu harus berbuat apa dengan batang kemaluanmu kecuali kencing!"
"Keluar sana! Pergi masturbasi saja sendiri!" teriak wanita itu dengan wajah merah karena marah.
Saat itu Jarwo bertanya-tanya dalam hatinya, apakah penghinaan yang sama akan terjadi lagi padanya?

Gadis itu kini menyetel lampu minyaknya hingga apinya lebih besar sehingga makin menerangi ruangan kamar tempat mereka berdua. Dia mengambil kain kasur yang kelihatannya bersih terlipat lalu di pasangkannya di atas ranjang kecil itu. Kemudian gadis itu mengulurkan tangan ke arah Jarwo sambil membuka telapak tangannya. Kedua mata gadis itu terlihat penuh pengharapan. Jarwo hampir saja menyambut uluran tangan itu dengan tangannya hendak menggenggam namun terhenti karena sadar bahwa gadis itu meminta bayaran. Alangkah bodohnya diriku, pikir Jarwo. Lalu dengan tangan yang setengah gemetar dia merogoh kantongnya serta membayar gadis itu. Gadis itu menyambut lembaran rupiah dengan senyuman. Dan sambil dia menyimpan uang itu di balik kasur, tangannya yang sebelah terlihat mulai membelai bagian selangkangannya sendiri.

Mendadak ereksi Jarwo yang telah dimulai sejak dia memasuki kamar, menjadi tak tertahan lagi. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan 'penderitaan' seperti itu. Si gadis membuka pakaian yang dikenakannya. Begitu BH yang dikenakannya terbuka, sepasang buah dada yang montok dan ranum itu terlihat menantang dengan sepasang puting susu yang telah tegang dan mengeras membuat dadanya terlihat seperti membusung.

Begitu kuatnya desiran hawa nafsu yang dialaminya sehingga Jarwo sempat berpikir kalau tubuhnya akan menguap menjadi embun karena tidak sanggup lagi menahan 'panas'nya hormon seks perjakanya yang menggelegar. Dengan gerakan yang sangat halus dan ringkas, si gadis kemudian melepaskan kain yang dikenakannya. Jarwo melihat celana dalam si gadis yang tipis hingga samar-samar bagian dalamnya terlihat. Gadis itu tersenyum dan menunjuk ke arah bagian celana jarwo yang menyembul karena ereksi.

Jarwo bangkit setengah melompat karena terkejut merasakan ujung jemari tangan si gadis yang lentik itu menyentuh permukaan 'gundukannya'. Dia kini berdiri di hadapan si gadis dengan perasaan 'terbakar' oleh nafsu dan hasrat. Dipandanginya darah selangkangan si gadis, lalu bagian perutnya, buah dadanya, sepasang pahanya hingga kakinya. Dipandanginya dengan lekat dan penuh perasaan seakan-akan dia sedang berada dalam ketiadaan dan satu-satunya benda yang ada hanyalah tubuh indah milik gadis di depannya itu. Bahkan Jarwo tidak dapat mendengar apa-apa lagi selain detak jantungnya yang berdegup kencang di telinganya.

Kemudian si gadis itu menanggalkan celana dalamnya. Selanjutnya si gadis membungkuk membelakangi Jarwo untuk memungut pakaian yang ditanggalkannya dari lantai. Bagian pantat yang telanjang milik si gadis terpampang dengan jelas dengan dua bukit yang padat bagaikan altar persembahan buat para dewa. Jarwo menundukan kepalanya berusaha melihat lebih jelas lagi. Seketika itu juga bagian anus si gadis terlihat dengan jelas, dan dengan perasaan takjub, Jarwo bisa menatap langsung bibir kemaluan yang membentuk gundukan indah itu secara nyata dan jelas.

Sekejap Jarwo merasakan jantungnya berhenti berdetak dan seluruh pembuluh darah di tubuhnya berhenti mengalirkan darah. Dia merasakan seluruh organ tubuhnya seperti ingin menerjang keluar menembus kulitnya. Si gadis sedang membungkuk untuk mengambil pakaian yang dia tanggalkan kemudian melipat serta meletakkannya di atas tumpukan pakaian tadi. Si gadis kemudian berbalik ke arahnya, mulai menyentuh bagian reitsleting celana Jarwo. Jemari lentik itu sejenak mengelus bagian yang 'membukit' di celana Jarwo lalu mulai melepas kancing, membuka ritsleting dan menurunkan celana Jarwo hingga lutut. Lalu dia menyusupkan tangannya ke dalam celana dalam Jarwo kemudian menarik keluar batang kemaluan perjaka yang sudah didera ereksi itu.

Kemudian itu si gadis mulai membelai dan mengelus kejantanan mulai dari bagian buah pelir hingga ke ujung 'kanopi'nya. Saat itu tidak ada lagi Jarwo Suratmo, yang ada hanyalah semburan panjang yang cepat dari sperma kental seorang perjaka yang menyemprot membelah udara penat di kamar itu, semburan yang mendarat tepat diantara dua bukit payudara dan langsung meleleh mengalir mambasahi perut dan terus turun mengikuti lekuk tubuh si gadis.

Gadis itu tersenyum sambil menggenggam batang kemaluan Jarwo bagai seorang tukang kebun menggenggam alat penyemprot tanaman. Ketika cipratan sperma mengenai dadanya tadi, dia hanya berkedip dan memandang Jarwo dengan penuh simpati. Ketika Jarwo telah selesai mengeluarkan isi 'senjata'nya, si gadis mengambil kainnya lalu digunakan untuk membersihkan sperma yang masih tersisa pada batang kemaluan Jarwo. Kemudian dia memandang Jarwo seperti meminta kepastian apakah Jarwo masih ingin meneruskan 'permainan' yang telah dia bayar di depan itu.

Jarwo masih setengah 'melayang' akibat ejakulasi yang mendadak tadi. Dengan lemas dia kembali memasukkan organ vitalnya yang lunglai itu ke dalam celana dalamnya lalu mengenakan kembali celananya. Jarwo tetap berdiri tegak dan tidak mampu berkata apa-apa kecuali melongo dengan nafas tersengal-sengal.

Si gadis kemudian menghampirinya, mengelus lembut pipi Jarwo dengan telapak tangannya, lalu menarik kedua tangan Jarwo untuk kemudian diletakkannya menyentuh bagian bawah perutnya yang dipenuhi bulu-bulu halus itu. Si gadis membiarkan sepasang tangan Jarwo meraba bagian itu sejenak lalu diraihnya jari tengah dari tangan kanan Jarwo dan dimasukkan ke dalam liang senggamanya sambil si gadis bergumam penuh kegelian.

Jarwo hampir saja melompat kaget ketika dia merasakan daging lembut yang hangat dan basah melingkupi jari tengahnya. Si gadis menarik keluar jari tengah itu lalu memainkannya di bibir luar kemaluannya seperti sedang memainkan jarinya sendiri. Aroma kenikmatan yang dialami si gadis membangkitkan stimulasi erotis dalam diri Jarwo. Jarwo merasakan batang kemaluannya kembali menggeliat menegang di antara kedua kakinya. Si gadis tertawa dengan suara pelan dan lirih, kedua tangannya merengkuh tubuh Jarwo dengan hangat.

Sesaat kemudian mereka berdua saling melepaskan hasrat dan nafsu dalam intercourse yang dahsyat dan dalam waktu yang lama. Senggama itu baru berakhir ketika Jarwo sudah benar-benar tidak sanggup ereksi lagi karena berulang kali mengalami ejakulasi. Ejakulasi-ejakulasi yang pertama dilakukannya di dalam tubuh wanita. Akhir dari malam itu begitu berkesan dan Jarwo berjalan pulang dengan langkah gontai penuh kelegaan sambil berulang kali menarik nafas panjang menghirup aroma berjuta rasa yang tersisa pada jari tengahnya.


Kini, pada usia 45 tahun dan sekitar 25 tahun sebagai maniak seks, Dr.Jarwo Suratmo sedang menghadapi suatu keadaan yang dapat membuatnya melakukan sesuatu yang menurut istilahnya adalah 'kejahatan seksual' seperti yang dilakukannya dengan pasien Amerika waktu itu.

Seorang wanita yang sedang berbaring di ruang periksanya telah meminta untuk bercinta dengannya. Usia wanita itu di sekitar 37-38th, postur tubuh sedang dengan bagian-bagian kewanitaan yang sekal dan padat. Aroma eksotik dan agak keras dari parfum yang digunakannya jelas tercium mendominasi udara di ruangan itu.

Akibat pengalaman 'traumatis' yang didapatnya dengan pasien Amerikanya, Dr.Jarwo telah berpendirian untuk tidak 'bermain-main' dengan pasiennya lagi. Kini dia memiliki prinsip bahwa bagi seorang dokter ataupun penyembuh alternatif, tubuh pasien bukanlah obyek nafsu. Tubuh pasien adalah sebagai produk yang harus direparasi dan dijaga dengan penuh profesionalitas.

Baginya pasien di ruang dokter gigi lalu itu bukanlah bagian dari pasiennya jadi dia merasa bisa menemukan pembenaran dari perbuatannya saat itu. Wanita yang kini memandangnya dengan penuh harap, merupakan pasien terakhirnya pada sesi pagi itu. Wanita itu datang dengan membawa serta semerbak aroma dari perfumnya yang misterius, duduk di kursi pasien dan mengeluhkan rasa nyeri pada lutut kanannya. Dia berkata begitu sembari menyibakkan rok panjangnya ke atas lutut. Dr.Jarwo kemudian memandang ke arah sepasang betis sawo matang yang 'terhampar' di depannya seakan menantang dirinya untuk melakukan 'perawatan khusus'. Dr.Jarwo berusaha untuk tetap memandang wanita di depannya itu sebagai pasien dan bukan sebagai seorang wanita dengan segala daya tarik kewanitaannya.

Dr.Jarwo kemudian memeriksa bagian kaki tersebut dengan sentuhan yang pelan dan hati-hati sambil mencari titik rasa nyeri wanita tersebut. Tiba-tiba wanita itu berkata, "Dok, saya pikir mungkin di lutut sebelah kiri" Dr.Jarwo kemudian mengikuti permintaan si wanita dengan memindahkan perhatiannya ke lutut sebelah kiri. Saat tangan sang dokter baru saja menyentuh permukaan kulitnya, wanita itu bereaksi seperti menahan sakit sambil agak menyentakkan kakinya ke atas. Rok yang tadinya sudah berada di atas pahanya, kembali tersibak lebih jauh lagi sampai ke pangkal pahanya. Dr.Jarwo terkejut karena sekilas dia melihat bahwa wanita itu tidak mengenakan apa-apa di balik rok panjangnya itu. Dalam pandangan sekilas itu Dr.Jarwo melihat bagian yang tepat diapit oleh kedua paha wanita itu tampak licin tanpa bulu sama sekali.

"Maaf Bu,tapi tolong jangan bergerak", ujarnya sambil berusaha menguasai keadaan dengan bersikap profesional. Wanita itu memandang Dr.Jarwo sejenak lalu berkata, "Dok, tolong periksa juga paha kiri saya.. kadang di situ terasa nyeri juga.." Lalu wanita itu membuka kedua pahanya lebar-lebar dengan maksud agar sang dokter dapat menyaksikan apa yang hendak dia perlihatkan saat itu.

Semakin Dr.Jarwo berusaha tampil profesional, semakin dia sadar kalau kepura-puraannya akan makin menyiksa dirinya. Sepasang matanya dengan tajam 'mengeksplorasi' wilayah diantara kedua paha wanita itu, kali ini untuk memastikan kalau dia benar-benar tidak mengenakan celana dalam di bawah rok panjangnya itu. Yup, benar sekali dia tidak memakai apa-apa, dalam hatinya bersorak riang. Dengan ragu Dr.Jarwo menatap wajah wanita tersebut namun hanya dibalas dengan sorot mata polos tanpa makna. Dr.Jarwo memang telah berusaha tampil dingin dengan ekspresi seorang dokter yang profesional namun dia tidak dapat menyangkali bahwa sosok sawo matang yang duduk di depannya itu benar-benar telah menguasai keinginan jasmaninya hingga sukar untuk ditolak.

Dia kemudian menyentuh titik yang dimaksud wanita itu yang terletak di paha bagian dalam. Baru saja dia hendak mencari sumber nyeri tadi tiba-tiba kedua paha itu menutup dan wanita itu berkata dengan keras, "Dok, saya merasa geli sekali!" Seketika tangan Dr.Jarwo terjepit diantara dua dinding yang lunak dan halus. Dengan tetap menjepit tangan sang dokter diantara pahanya, wanita itu melepas busana bagian atasnya, hingga sepasang payudara yang berisi dan menggemaskan itu 'terbebas' membukit di dadanya seakan melambangkan kekuatan dan kelembutan sekaligus. Rupanya dia juga tidak mengenakan bra.

Lalu dia berkata lagi, "Oh.. maaf!" sambil membebaskan tangan sang dokter yang dijepit dengan kedua pahanya. Pikiran Dr.Jarwo terus melayang dan mengembara bebas membayangkan segala hal yang bisa saja terjadi. Mungkin dalam ruang dan waktu yang berbeda dia akan langsung meraih sepasang payudara itu dengan penuh kegemasan tapi tidak di dimensi sekarang ini pikirnya. Wanita yang duduk di depannya ini adalah seorang pasien yang memiliki penyakit yang harus segera disembuhkannya.

"Ibu bisa bangkit berdiri sekarang, saya kira tidak perlu pemeriksaan detak jantung karena kondisi Ibu saat ini dalam keadaan sehat."
Tampak ekspresi kekecewaan menghiasi wajah wanita itu.
"Dok.." katanya, "Seorang teman saya yang mengenal anda berkata pada saya bahwa anda memiliki kemampuan bercinta dengan sangat baik. Saya ingin sekali bercinta, namun suami saya adalah seorang pelaut yang hanya pulang setahun sekali. Sepertinya dia kurang bergairah terhadap saya. Menurut saya itu disebabkan karena sebagai pelaut dia sering berhubungan dengan berbagai wanita di berbagai tempat hingga diriku jadi membosankan baginya. Dia jarang sekali tidur diantara kedua paha saya, bibir dan batang kemaluannya terasa dingin dan hambar menyentuhku. Bahkan saya pernah dengan sengaja membuang angin di wajahnya karena kesal dengannya namun dia tetap saja menyentuh memekku dengan dingin." Wanita itu menggunakan istilah vulgar menyebut organ intimnya hingga mengejutkan Dr.Jarwo.

Lalu si wanita itu melanjutkan, "Tapi bukan selalu masalah seks yang saya pikirkan. Saya wanita normal yang bisa memasak dengan baik, mengurus rumah tangga, gemar menyanyi dan kadang-kadang melukis. Saya juga tertarik dengan hal-hal non fisik. Saya mengikuti sebuah olahraga pernafasan yang menekankan pada meditasi. Saya juga orang yang percaya akan kekuatan metafisika seperti anda Dok"
"Ketika teman saya bercerita mengenai anda, saya langsung kagum pada anda"
Dia melanjutkan, "Anda dapat bercinta dengan saya di sini atau di rumah saya. Saya bermaksud memberikan kejutan pada anda hari ini dengan tubuh saya."

Dr.Jarwo menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Maaf Bu, tapi saya tidak pernah memiliki hubungan fisik dengan pasien saya kecuali hubungan antara dokter dan pasien seperti biasa."
"Dok.." si wanita berkata, "Saya rasa anda keliru. Pada tiap proses penyembuhan selalu terbentuk suatu hubungan yang bersifat fisik. Tapi memang tergantung dari si dokter yang menyembuhkan dan si pasien yang disembuhkan untuk melakukan interpretasi tersebut."
Si wanita tersebut kembali mengenakan bajunya, merapikan rambutnya yang agak berantakan lalu kembali berkata, "Saya selalu merasa lebih ringan tanpa mengenakan bra dan celana dalam."
Wanita itu berkata lagi, "Saya pikir anda juga telah terobsesi dengan seks dalam waktu yang cukup lama."

Sebelum wanita itu keluar dari ruang praktek, dia sempat berbalik dan berkata lagi, "Oh maaf Dok.. saya lupa menanyakan berapa bayaran anda untuk sessi ini?"
Dr.Jarwo menjawab, "Wah anda telah memberikan banyak sekali masukan dan nasehat buat saya, harusnya malah saya yang membayar.."
Wanita itu menjawab dengan senyuman, "Saya sama sekali tidak berkompeten untuk memberikan nasehat, apa yang saya berikan tadi adalah sebuah solusi bukan nasehat. Pak dokter, anda tentu mengerti tentang kemampuan spiritual."
"Oh iya saya juga ahli pengobatan alternatif yang banyak berhubungan dengan dunia spiritual dan alam bawah sadar manusia", jawab Dr.Jarwo dengan bangga.
"Kalau begitu..", wanita itu melanjutkan, "Anda pasti mengetahui apabila tabir semu yang melingkupi pandangan mata kasar kita terkuak, maka anda akan sama dengan orang lain dan orang lain itu adalah anda sendiri, segala sesuatunya sama dan setara dalam alam spiritual."
"Betul.. betul sekali", kata Dr.Jarwo singkat.
"Oleh karena itu tidakkah anda menyadari bahwa dalam tingkat tertentu, sayalah dokternya dan anda pasiennya? saya adalah dokter yang senang bercinta dengan pasien saya apabila mereka menginginkan tentunya."
"Apakah anda menginginkan itu ?"
"Ya..", jawab Dr.Jarwo singkat seperti seorang pasien yang terhipnotis psikiaternya.

Wanita itu kembali menutup pintu dan menguncinya lalu langsung melepaskan kancing celana Dr.Jarwo.
"Sebenarnya ini bukanlah masalah yang besar. Ini murni hanyalah soal tabir semu dari suatu kenyataan. Semuanya semu karena seperti anda lihat sekarang, saya adalah pasien palsu. Kesemuan telah memutarbalikan kenyataan ibarat tabir semu antara ular dan tali. Dalam hal ini saya hanyalah seutas tali bukannya seekor ular", ujar wanita tersebut dengan halus namun penuh determinasi sambil tengannya dengan tangkas melucuti celana Dr.Jarwo.

Dr.Jarwo sang ahli ortodontis sekaligus ahli dalam pengobatan alternatif yang cukup terkenal itu, dengan penuh perasaan malu berlutut di depan wanita itu, mengangkat roknya kemudian menempelkan wajah malunya pada dinding lunak yang lembut diantara paha si wanita. Dr.Jarwo membiarkan rok wanita itu jatuh menutupi tubuhnya bagai naungan goa yang sejuk dan gelap. Dia berkata pada wanita yang berdiri di depannya itu, " Saya merasa malu dan bersalah.. hukumlah saya seperti anda menghukum suami anda.. bahkan saya terima kalau anda buang angin di muka saya ini.."

Kemudian Dr.Jarwo dengan pasrah menanti 'hukuman' itu datang sambil berlutut diantara kedua paha wanita itu. Matanya terpejam sambil menarik nafas panjang menikmati aroma khas kewanitaan yang melingkupinya di bawah situ. Sesaat kemudian rok panjang itu terlepas jatuh menerpa punggungnya hingga ke lantai disusul baju wanita itu jatuh menerpa tubuhnya sebelum tergeletak di lantai. "Tabir ke-semu-an dan kepalsuan telah tersingkap" suara wanita itu terdengar penuh pengaruh dan memenuhi ruangan itu. Lalu terdengar suara lagi, suara tertawa yang lirih dari wanita itu. Ketika itu Dr.Jarwo merasakan seluruh perjalanan hidupnya yang sudah puluhan tahun bagai kembali terpampang di matanya. Dalam waktu beberapa detik dia seperti tertarik ke masa lalu menyaksikan segala yg pernah dilaluinya bagai trailer film di depan matanya. Beberapa detik yang terasa bagai berabad-abad lamanya. Bagaikan kisah pujangga dan kerbau, saat itu akhirnya Dr.Jarwo si maniak seks menemukan "pencerahan spiritualnya".


TAMAT   
              

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "sebuah perjalanan spritual"

Posting Komentar