Sepanas Bara

By : Enny Arrow

Pengarang yg terkenal pada tahun 90an kali ..
Sekitar pukul 9 malam, Budiman gelisah menatap jam dinding yang jarumnya terasa lambat berputar. Dia sosok laki-laki usia 30 an, sangat berwibawah, maskulin yang sayangnya sampai usia begini masih melajang. Dan kelihatan agak susah mendapatkan wanita.

Teman-teman Budiman sering kali mempertanyakan keberadaannya yang sendirian. Atau apabila ada yang berkunjung ke rumahnya, akan ada saja komentar kalau ‘ruang ini akan lebih hidup kalau ada sentuhan wanitanya’. Budiman sekarang hidup sendiri, dengan rumah yang dibelinya sendiri yang berdiri nyentrik beruansa gothic, di kawasan sepi di pingiran kota.

Anak-anak sekitar simpang, agak segan melihatnya. Walau Budiman kadang kala – kalau tidak sibuk, mau juga main gitar atau main kartu dengan Rizal, Ahmad, Simas dll yang merupakan tetangga-tetangganya. Dan kadang-kadang, pemuda-pemuda tanggung itu, malah asyik ngobrol dengan Budiman di terasa rumahnya yang memang nyaman.

Kalau sudah begini, Yenny lah yang repot menyiapkan minuman dan makanan bagi mereka. Yenny adalah  pembantu rumah tangga yang kerja dari pagi hingga jam 8 malam di rumah


Budiman. Belum tua, namun juga sudah tak muda.  Suaminya tinggal tak jauh dari rumah Budiman, dan anaknya kebanyakan diurus oleh ibunya. Yenny yang bertugas membersihkan rumah, memasak dan mengurus rumah serta pekarangannya untuk Budiman. Walau pada hari libur, Budiman juga sering berkebun. Dia suka menanam segala jenis tumbuhan eksotik seperti bonsai, adenium atau anggrek. Koleksi teratainya juga banyak di halaman belakang.

Dengan kondisi seperti itu, wajar kalau orang-orang mempertanyakan kelajangannya. Budiman tampan, perawakannya tinggi besar, dengan wajah seimbang dan rambut hitam pekat. Tatapan mata tajam dengan rahang yang terkesan keras, apalagi Budiman agak cenderung membiarkan bulu-bulu wajahnya tercukur hanya sebahagian. Kesannya, dia bagai seorang yang sangat berwibawa yang pasti dapat dengan mudah menaklukkan wanita manapun.

Benarkah?

Sekarang dia melirik arloginya sendiri. Dandanannya sudah rapi, wangi dalam balutan kemeja lengan pendek kotak kotak biru,


dengan   bawahan   jeans  biru  belel   yang melakat  padat di kaki besarnya. Jelas dia gelisah.

Tak lama, Budiman bergerak ke garasi dan dengan wajar mengeluarkan mobil dari tempatnya. Sampai di jalan, dia turun berbalik untuk mengunci pintu rumah dan pagar. Yenny sudah lama pulang. Jadi, rumahnya sekarang kosong.

Tak lama dia sudah mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dia menuju sisi kota yang lain, agak ke arah  Bukit. Komplek Perumahan Setia Budi. Komplek yang dihuni kelompok masayarakat menengah ke atas. Kompleks ini tampak  lenggang pada saat seperti ini. Lampu-lampu jalan klasik tampak menghiasi semua sisi jalan. Sangat indah. Taman-taman kecil hampir muncul di setiap sisi rumah. Tak ada barang spetakpun tanah kosong yang dibiarkan. Benar-benar tempat hunian yang nyaman.

Dan Budiman memarkirkan mobilnya tepat di Blok 4 - No. 15. Seorang wanita manis berperawakan kecil sudah menunggu dengan tersenyum. Pagar terbuka, dan Budiman memarkirkan mobilnya langsung ke dalam garasi yang memang muat untuk beberapa unit mobil – seperti show room mini saja.



“Sudah lama Rin?” Budiman melangkah memasuki ruang tamu.

“Gak juga, paling 15 Menit…. Dimas agak susah ditidurkan…..” Jawab wanita mungil bernama Rini ini. Rupanya dia baru saja menidurkan anaknya, Dimas.

Budiman masuk dan pintu dibiarkan terbuka. Agak remang disini, bathinnya.

Saat Rini berbalik bermaksud menemani Budiman duduk. Saat itu juga Budiman berbalik dan langsung memeluk Rini erat dan merengkuhnya dalam kecupan ganas membabi buta. Rini tak  sempat mengelak. Dan hanya terlihat pasrah dalam rangkul Budiman yang memang bertubuh jauh lebih besar dari Rini.

Nafas keduanya sangat memburu. Pelukan-pelukan tangan kekar Budiman yang mulanya meremas pantat montok Rini, kini berpindah ke lengannya, sementara mulutnya berusaha mengecup payudara Rini yang mulai membusung.

“Pin….tu, Bud…..” rintih Rini.

Enggan, Budiman melapas Rini untuk bergerak ke pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu dengan tak sabar dia menyerbu Rini, menangkapnya seperti bola dan merebahkannya di sofa kuning


gading mewah, yang menerima hempasan badan kedua insan manusia itu dengan enggan.

Tangan,… yah tangan. Tangan-tangan keduanya saling berbalut. Rini mulai tak mau diam digasak Budiman. Tangannya mulai berani menarik sabuk di pinggang Budiman. Budiman membiarkannya dengan bertumpuh pada lutut. Dan entah tangan yang mana lagi, mulai mempereteli kancing kemeja Budiman.

Sedang Budiman juga tak mau kalah, dia malah sudah pada tahap melepas pengkait Bh Rini. Kimono yang tadi dikenakan Rini sudah teronggok malas di lantai. Dan sekarang tangan Budiman  yang satunya mulai menyusup ke dalam celana dalam Rini. Jari tengah Budiman mulai menyentuh lapisan daging membusung yang agak berambut.

“Ssssssshhhhhhhh…..” Rintih Rini menahan gejolaknya.

“Hhhhhhhhhhhhhhhh “ desah Budiman kala tangan Rini sudah menggenggam rudalnya yang sudah tegang abis.

Rini di bawah tindihan Budiman menggigit dada putting di dada Bidang Budiman. Sementara Budiman sekarang asyik menusuk-nusuk lembut lubang sempit dengan jari tengahnya. Mata liar Budiman melirik ke bawah, ke lubang sempit gelap milik Rini.


“Kau besar sekali Bud….” Erang Rini… “Hmmmm… kau sangat sempit….” Balas Budiman. “Aku takut…..” biskk Rini manja.

“ Kau sudah pernah melahirkan…. Punyaku tak akan terasa terlalu menyakitkan….” Budiman ngotot.

“Aku melahirkan lewat bedah….” Rini menjelaskan. Sambil mengocok keras rudal Budiman, membuat Budiman merem melek keenakan, dan mencongkel lebih dalam lubang Rini.

“Berarti Dimas sayang papanya….” Bisik Budiman… “Dia jaga betul lubang papanya…..”

“Pokoknya aku takut….. jangan malam ini….” Rini menggeleng, dan tangannnya semakin bersemangat mengocok rudal Rini.

“Kau selalu begitu…. Aku sudah tak tahan….” Balas Budiman. “Biar kuoral saja….”

Dan Rini mulai turun dari sofa. Budiman membiarkaan dan membalik badan. Sekarang dia yang rebah terlentang. Pahanya berbulu lebat dengan rudal gundul – suka dicukur, dan sekarang terbuka lebar. Rini jongkok dan membelai paha perkasa itu. Lalu tanpa ragu-ragu, mulut kecilnya langsung mengulum rudal luar bisa


milik Budiman. Mulut mungil itu kepayahan mengisap rudal besar Budiman.

Budiman menggelinjang hebat. Dia bertekad untuk tidak sampai ejekulasi di mulut Rini. Harus malam ini…. Tekadnya.

Dan benar saja…. Berlalu 15 menit Rini beraksi…. Rudal Budiman masih mengacung…. Agak miring ke kanan seperti menara Pisa. Bibir Rini sudah sedikit dower gara-gara  kebanyakan menyedot precum Budiman. Sementara tangannya sudah pegal mengocok rudal besar itu. Maksudnya, kalau mengocok rudal yang ukurannya bisa pas digenggamannya itu biasa, gak bakal semelelahkan ini, tapi rudal Budiman memang lain…. Belum pernah Rini melihat rudal ‘K’ sebesar ini. Panjang, keras, dan besar.

“Aku capek Bud….” Erang Rini…

“Aku masih belum keluar sayang…..” rengek Budi.

Lalu Budiman berdiri dan sekonyong koyong mengangkat tubuh telanjang Rini. Kali ini digendongnya terus sampai ke kamar Rini. Lalu dengan tidak memperdulikan pintu, Budiman merebahkan Rini di ranjangnya.

“Bud…. Kau mau apa?” tanya Rini ragu-ragu… “Aku inginkan kau sayang….”

“Kau mencintaiku?”


“Apakah itu yang kau harap aku ucapkan agar aku mendapatkannya….?”

“Aku butuh kejelasan….”

“Aku akan memberimu kenikmatan…… aku tidak bisa berjanji lebih…. Aku takut berkomitmen….”

“Kau hanya ingin tubuhku…..” “Kau juga menginginkan aku…..”

“Aku tak serendah itu….” Desis Rini judes…..

“Hehehe… aku lebih tinggi dari pada kamu, sayang….” Budiman mengedip.

“Dasar!

“Aku akan jongkok” dan benar saja, Budiman mulai berjongkok. Dan kali ini, dihadapannya terpampang paha mulus putih licin mengkilat milik Rini…. Dan di atasnya… agak berambut, seonggok daging tebal menggairahkan…. Terlihat lembab dan sangat beraroma.

Budiman membenamkan mukanya ke gundukan daging kemaluan Rini…..

Rini menggelinjang….. Namun kakinya terbuka makin lebar… tangannya sibuk menjambak rambut Budiman.


“Aku jilat yah…..” goda Rini….

“Hiiiiiiiiiiiiiyaaaaaaaaa………” belum selesai Rini mengerang, dirasakannya sapuan lembut basah lidah Budiman di sela-sela gundukan daging kemaluannya. Lidah Budiman dengan pasti membelah laut merah Rini…. Dan mulai menusuk ke sana ke mari di dalam lubang sempit itu.

Tangan Budiman bergerak lincah mencari-cari kedua putting susu Rini. Dapat! Keduanya langsung mengeras… tanda sudah pengen. Jari jempol dan telunjuk Budiman mulai menunjukkan kebolehannya….

“Oh….. lebih keras…..” jerit Rini….. “Aku tak tahan lagi………” “Aku masukkan yah…..” pinta Budiman….

“Jangan…..” Rini ragu-ragu.

“Atau kau mau kuperkosa….” Budiman mengedipkan mata. Rini melotot…. Namun tangannya merangkul pinggang

Budiman.

Budiman agak berdiri sekarang.

Ditariknya kaki Rini sampai kemaluan Rini pas di depan rudalnya….


Matanya menatap mata Rini meyakinkan. Rini agak takut…. Namun agak merasa tentram melihat mata elang Budiman. Perlahan…..

Budiman menarik lagi kaki Rini, sehingga sekarang sebahagian tungkau Rini sudah menjulur ke bawah. Dan kemaluan Rini pas di sudut sisi ranjang. Sementara itu, Budiman sudah berdiri dengan sebelah tangan menggenggam rudal ‘K’nya siap-siap diluncurkan ke sasaran sarang belut Rini.

“Jangan…..” elak Rini lagi… “Tahan sedikit…..” balas Budiman.

Sekonyong konyong, ditariknya pinggang Rini mendekat. Dan dengan sedikit menekuk lutut, Budiman menghujamkan rudalnya ke aarah kemaluan Rini.

“SSSSSSSSSSSAAAAKIT…….” Rini berusaha memundurkan pantatnya. Tangannya bertumpuh pada ranjang.

Tapi Budiman mulai merasakan sensasi nikmat teramat sangat saat kepala rudalnya menyerodok masuk ke dalam lubang sempit Rini…. Baru sebatas kepalanya saja…

“Iya…… Tahan Rin….baru kepalanya….” Erang Budiman.


“OH…. Ampun……Bud….” Rini ketakutan. Pahanya berusaha menutup. Tapi tentu saja, paha Budiman lenih kuat menekan keduanya ke sisi ranjang.

Dan tiba-tiba lagi, Budiman menyodok sangat keras, sementara tangannya agak mengangkat pantat Rini ke arahnya.

“Aduhhhhh….. Ampun…..” jerit Rini….

Budiman menahan nafas…. Meresapi nikmatnya kemaluan perempuan ini.

Kali ini Budiman mulai rebah…. Menindih Rini…. Bertumpuh dengan siku-siku dan lututnya, Budiman menyodong badan Rini agak ketengah ranjang, sengan rudal yang masih separuh masuk…. Keduanya bergeser agak ke tengah….

Budiman menciumi bibir Rini…. Memainkan lidahnya di dalam mulut Rini.

Rini mulai merasakan kemikmatan. Pelan-pelan, rasa sakit yang menjalar di kemaluannya berubah menjadi kenikmatan tiada tara. Dan dia mulai merangkul Budiman. Ingin merasakan dada Budiman menempel di dadanya….

“Masukkan semuanya Bud…..” pintah Rini.

“Tunggu…..” Budiman malah agak menarik rudalnya…. Kemaluan Rini itu tertarik… dan pantatnya penasaran turut


dinaikkannya, seakan-akan takut rudal itu akan lepas meninggalkan lubangnya.

Pada saat itu….. sangat keras…. Budiman menghujamkan rudalnya ke bawah….

“AHHHHHHHHHHHHHHH…….” Rini berterik keenakan….

“Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhh” Budiman mengerang dan gemetaran.

----------

Di luar hujan mulai turun…. Suasana semakin dingin di kamar Rini. AC biasanya makin dingin kalau hujan. Tapi kedua insan lain jenis tersebut semakin panas saja bergulat mereguk kenikmatan. Keduanya sekarang malah sudah sangat berkeringat.

Budiman tampak punggungnya yang hampir menutup seluruh badan Rini yang ditindihnya di bawah. Sementara Rini sibuk mencakar punggung Budiman dengan ganas. Sekali-kali Rini melingkarkan kakinya ke paha kekar Budiman seakan akan ingin Budiman memasukinya lebih dalam lagi. Budiman sebaliknya  tampak tak letih letihnya mengayunkan pinggangnya dengan lincah


ke selangkangan Rini. Kadang kadang suara suara seperti closet mampet muncul akibat tarikan-tarikan rudal Budiman.

Tiba-tiba keduanya menghentikan gerakan, dan Rini memalingkan mukanya ke arah pintu. Budiman juga…. Keringatnya masih mengucur deras turun ke jakunnya lalu menitis di badan Rini….

“Om…. Om kok diatas mama?... “tanya suara mungil milik Dimas… anak Rini. Rupanya suara hujan membangunkannya. Dan anak yang ketakutan ini bermaksud mencari ibunya, yang ternyata sedang bersenggama dengan pacar barunya Budiman. Yang selama ini dikenalnya sebagai Om… yang baik, yang suka bawa oleh-oleh kalau datang.

“Eng….. karna Om sayang mama…..” jawab Budiman tersenyum…. Rudalnya masih nenancap kokoh…. Sejenak dia berpikir, apakah bijaksana mempertontonkan adegan dewasa ini di depan anak 3 tahunan? Namun, nalurinya yang lain berkeras untuk melampiaskan kemikmatan yang sudah susah payah selama 3 bulan ini ditahannya, dan ketika baru saja berhasil mendapatkannya dari Rini, janda cantik yang dikasihinya, sudah harus diputus di tengah jalan.

“Gak sakit Ma..?” tanya Dimas lagi… Rini tersenyum malu.


“Gak bakal sakit, Om gak bakal nyakitin mamamu….” Jawab Budiman.

“Dimas takut….. ada petil….”

“Jangan takut Dimas….” Dan Budiman mulai menarik rudalnya sedikit sebelum menghempaskannya dengan nikmat.  Sementara Rini susah payah menahan ekspresi liarnya agar tidak terlalu terlihat anaknya Dimas.

“Kalau digoyang begini, mama akan keenakan Dimas….” Jelas Budiman gokil.

Dan benar saja, dia mulai menggoyang pantatnya yang juga berbulu maju mundur. Rini hanya bisa merintih pelan tanpa tahu harus bagaimana membalas serangan Dimas….

“Dimas bantu yah…..” Dimas maju ikut menyorong-nyorong pantat Budiman. Dan Budiman mulai tertawa saat  merasakan tangan mungil Dimas mendorong dorong pantatnya yang sedang menghujam-hujam ke selangkangan Rini, Ibu Dimas. “Gila, aku mengauli Rini dengan dibantu anaknya “ pikir Budiman.

“Dimas juga sayang mama….” Kata Dimas polos…

Dan lama-kelamaaan, goyangan Budiman semakin cepat… semakin ganas semakin tak beraturan…. Sementara Rini makin kepayahan dan mulai mengerang keenakan….


“Ayo Om……. Terus….” Dimas menyemangati.

Budiman tak sempat grogi, karena dirasakannya ada yang mendesak melecuti rudalnya. Terakhir kali ditariknya rudalnya dari lubang Rini dan disorongkannya kembali dengan sangat teramat kuat…. Sambil mengerang…

Crooooot……crootttttttttt…..

Ejekulasi Budiman lama…. Sekitar 10 semprotan cairan kental putih sampai menetes di ranjang Rini. Lalu dia rebah di atas Rini tanpa berani menarik rudalnya dari lubang Rini.  Malu  dilihat Dimas.

“Om…. Ada yang bocol…” teriak Dimas

Budiman ngerti, pasti spermanya tumpah…. Dengan enggan dia menarik rudalnya dari lubang Rini yang sekarang sudah bonyok betul bentuknya. Dan rudal panjang besar yang sudah agak lemas itu sekarang terlihat basah menggantung di antara kedua paha besarnya.

“Ih…. Jolok….” Dimas tergidik melihat rudal yang mirip terung dibakar itu berleleran sperma kental yang masih menetes netes…

Rini segera bangkit dan mencari pakaiannya di ruang tamu.


Saat masuk…. Kembali ke kamar, di dapatinya Budiman masih telanjang bulat, dan rudalnya sudah sangat tegang lagi…. Karena rupanya Dimas sudah asyik maik-main dengan rudalnya….

“Punya om besar yah….”

“Punya Dimas juga nanti kalau sudah besar pasti besar juga….”

“Sekarang tidur yah….”

Dan Rini buru-buru segera mengangkat Dimas dan memarahinya, lalu ditemaninya sebentar Dimas sampai benar-benar tidur. Pikirannya masih was-was menilai apa yang barusan dilakukannya dengan Budiman. Kemudian bakal apa  dampaknya bagi Dimas yang masih kecil. Apakah hal ini akan menyebabkan trauma…. Dia masih ingat bagaimana tadi Dimas terlihat sama bersemangatnya dengan dia main-main dengan rudal Budiman yang memang luar biasa.

Namun, disaat itu juga dia masih dapat merasakan kenikmatan luar biasa yang didapatnya dari Budiman. Dia masih merasakan gairah wanitanya dengan laki-laki yang sangat laki-laki itu. Pikirannya masih tak bisa lepas membayangkan rudal besar panjang, badan tegap sempurna, paha kokoh berbulu yang mampu menghujamkan rudal dengan pasti. Dia masih teringat gairahnya


saat Budiman mencium putting susunya. Memikirkannya saja membuatnya merasa saat ini putingnya mengeras.

Sekitar 10 menit Rini menidurkan Dimas.

Di kamar Rini, Budiman asyik membelai rudalnya yang masih basah dan lengket. Rudalnya masih saja tegang…. Karena dia masih membayangkan tubuh mungil Rini yang barusan ada di bawah pelukannya. Dia masih membayangkan gundungan merah jambu yang menggiurkan di antara pinggang padat milik Rini. Juga masih diingatnya jelas payudara membusung tidak terlalu besar milik perempuan itu. Payudara Rini, Tidak terlalu besar namun masih sangat ketat… agak seperti agar agar kalau disentuh, lembut, tapi keras…. Kau tahu maksudku.

Sekali-kali mata Budiman menatap langit-langit kamar putih yang sangat bersih itu. Dia masih ingat juga dan masih grogi membayangkan Dimas yang tadi membantunya menggoyang Rini. Rasa serba salah tak pelak lagi menerjangnya. Dia agak nyengir. Tapi, dasar Budiman, memang dia agak susah menahan nafsunya kalau sudah pengen. Apalagi seperti tadi, menjelang separuh ronde…. Sedang panas-panasnya.

Pelan, dikocoknya rudalnya yang memang masih tegang…. Dia mengerang-erang pelan menikmati tanganya sendiri.


Dan pintu terbuka.

Rini terbeliak melihat lekaki yang sangat laki-laki itu sedang onani di depannya. Tak pikir panjang, dia mendekati Budiman yang kelihatannya tidak terusik. Dan langsung saja, Rini balik mengunci pintu. Tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Lalu, dia meloloskan tubuh mulusnya dari baju tidur yang belum ada setengah jam dipakainya kembali.

Budiman menyambutnya. Rini mulai duduk di atas Budiman. Tangan Rini menuntun rudal Budiman yang sudah tegak sekali ke sela-sela pahanya. Dan tanpa ragu-ragu kali ini dia mendudukkan pantatnya dalam diam….

Bless… kali ini rudal Budiman terasa lebih lancar menerobos kemaluannya. Walau masih terasa sangat ketat dan perih bukan main,…. Cairan kemaluan Rini mengimbanginya dengan mengucur deras.

Tangan Budiman menggenggam kedua tangan Rini. Dan Rini mulai naik turun di atas rudal Budiman. Keduanya berpagutan. Budiman memindahkan tangannya ke pinggang Rini, membantunya menyamakan irama dengan sodokan pantatnya ke atas ke bawah. Tiap kali Budiman menarik pantat ke bawah, maka ditariknya pantat Rini menjauh ke atas. Dan setiap Rini turun ke bawah, Budiman menyorongkan selangkangannya memasukkan rudalnya sedalam-


dalamnya ke dalam lubang Rini…. Dan Rini pun menjerit lirih…. Sementara Budiman mulai menggeram buas.

Dan sekonyong konyong, Budiman memeluk Rini kuat. Rini menyambut pelukan Budiman. Budiman menyentakkan kakinya dan mulai berdiri dengan Rini dalam gendongannya. Budiman turun dari ranjang. Lalu menggendong Rini ke arah dinding. Disitu, Rini habis diserbunya. Rudalnya menyerang dengan sangat teramat ganas….. Rini semakin kepayahan… Mulut Budiman tak lagi mencari-cari bibir Rini. Karna kali ini kepala Rini hanya pas di bawah dagunya. Konsentrasi lebih diarahkannnya pada serangan rudal.  Bonyok….  Itu kata yang paling pas kalau mengingat kondisi kemaluan Rini sekarang….

Dan Budiman adalah singa ganas…. Tak capek-capeknya dia mengayunkan rudalnya semakin capat dan liar. Rini juga berusaha mengimbangi dengan goyangan pinggul maut dan isapan-isapan dari dalam kemaluannya. Sesekali digigitnya dada tegap Budiman yang pas di mulutnya.

Saat Rini menggigit, Budiman akan mengeram dan menyodok semakin gila. Begitu terus…. Sampai…. Tak tahan, Budiman menghempaskan lagi Rini di ranjang dan menyerangnya dari atas.


Begitu terus, sampai keduanya mandi keringat dan mencapai puncak kenikmatan kedua bersama sama.

Lalu hening. Rini berbaring di pelukan Budiman. Kepalanya mantap berbantalkan dada Budiman. Budiman membelai rambutnya.

“Aku mengkhawatirkan Dimas….” Bisik Rini pelan. “Hmmmm…”

“Kita kurang perhitungan….” “Aku tahu…”

“Kau tadi tidak berhenti……” “Kau juga menginginkannya”

“Aku tak bisa berontak” Rini protes, “kau sangat besar menimpahku…”

“Kalau kau berontak, Dimas malah mungkin mengira kita berantem”

“Aku malu….” “Aku juga

“Apa malumu…?” Rini heran.


“Apa aku tak tahu malu, karna saat aku menyodok punyamu, anakmu malah membantu mendorong pantatku!” tukas Budiman sengit.

“Lalu, mengapa kau tak berhenti?”

“eh…. “Budiman berpikir sejenank, “ karna kau terlalu indah untuk ditinggalkan…”

“Kau ingin menikahiku? Janda anak satu?” tanya Rini. “Kita bicarakan belakangan, ok. Aku belum siap” “Atau kau hanya inginkan badanku saja?”

“Ini sudah kita bicarakan sebelumnya” “Yah…. Aku ingin kepastian….”

“Kalau kau tanya aku sekarang, aku belum siap. Tapi kalau kau ingin tahu, aku sangat mencintaimu…”

“Lalu, apa yang kau tunggu?” Sekarang kaki Rini mulai naik ke sela-sela paha Budiman. Budiman memeluk kaki itu dengan  kakinya.

“Aku belum siap, hanya itu. Aku tak menunggu siapa-siapa. Kau pikir aku tak risau dengan usiaku yang sekarang sudah kepala tiga tapi belum juga punya pendamping? Aku juga bosan dianggap homo oleh teman-teman lamaku yang rata-rata sudah punya anak dua tiga orang. Aku tahu apa yanga da di pikiran mereka. Aku tahu


mereka curiga….Kujelaskan padamu. Aku memang tak tahu bagaimana merayu wanita…” Budiman melingkarkan tangannya di tubuh Rini. Dan dagunya perlahan menyentuh leher Rini.

“Kau mau aku terharu dengan ceritamu?

“Aku tak inginkan apa-apa Rin! Aku tak bermaksud mempermainkanmu. Aku hanya menuturkan apa yang sekarang aku pikirkan. Inilah aku, kalau tak bisa menerima aku apa adanya, aku malah semakin ragu untuk melanjut berkomitmen”

“Kau mulai membuatku tersinggung, seakan aku wanita murahan yang mau saja main seks dengan setiap laki-laki” Rini merajuk. Namun tangannya justru mulai membelai selangkangan Budiman.

“kau tahu bagaimana pandanganku terhadapmu! Kau tahu aku setengah mati menunggu untuk dapat berhubungan badan denganmu. Sudah berapa lama kita berhubungan?”

“Kukira sekitar setahun” “Dan kau janda”

“Lalu?”

“Tapi aku baru dapat benar benar memilikimu malam ini, Rin. Itu pun dengan setengah memaksa. Lalu kau rasa bagaimana pandanganku selama ini padamu? Aku bukan hanya sekali ini


berhubungan dengan wanita, jujur saja. Aku pernah beberapa kali berhubungan seks dengan wanita-wanita mantan pacarku. Bukan maksudku merendahkanmu… kau tahu, kau pribadi yang istimewa”

“Mungkin kau beranggapan aku selama ini pura-pura menahan diri tidak menginginkanmu?”

Budiman diam sejenak. Lalu dia tersenyum menggoda, sambil menjawil benda mungin di selangkangan Rini dengan jarinya…

“Atau memang benar begitu…. Sayang….” Kata Budiman nakal.

Belum sempat Rini menjawab, Budiman sudah membopong badan mulus mungil itu ke pelukannya.

Rini tertawa, sewaktu Budiman membawanya dalam gendongan menuju kamar mandi. DI dalam, pelan-sangat lembut, Rini direbahkannya di dalam bath tub. Lalu, sama hati-hatinya dia masuk ke dalam bath tub yang langsung saja terasa sempit. Dan tangan Budiman mulai menghidupkan pancuran air panas dan dingin.

Tak lama sambil terus ngobrol. Keduanya sudah berendam dalam bath tup yang mulai berasap.

Kaki Rini nakal mengepit rudal Budiman yang sudah ngaceng lagi. Sementara Budiman rebah disisi lain dengan kaki terbuka dan


tangan di letakkan di atas pinggiran bath tub. Dia menikmati kocokan kaku kaki Rini pada rudalnya yang sudah semakin membengkak.

Tak sabar tak juga orgasme, Rini mulai memainkan tangannya mengocok rudal kesayangnya. Dikocoknya rudal itu dengan cepat dan ganas. Budiman hanya meringis keenakan tanpa sekalipun berusaha menghentikan Rini.

Hingga akhirnya Budiman mengejang keras dan memuntahkan cairan kental spermanya yang juga masih sama banyaknya dari ujung mulut rudalnya. Budiman berguman tak jelas ketika Rini masih saja mengocok dan memeras rudalnya sampai tetesan yang penghabisan.

Sebahagian sperma Budiman sampai menempel di badan Rini. Rini menggosoknya ke badannya dengan tangannya, seakan sperma itu adalah lulur yang akan memuluskan badannya.

Kemudian keduanya mandi bareng, Budiman menyabuni Rini, demikian juga sebaliknya. Paling semangat Budiman saat membersihkan bagian terlarang Rini yang sudah bonyok gak karuan. Bentuknya kini agak melar tidak seketat sebelumnya. Garis pembelah kedua gundukan bukit kemaluan itu sudah semakin jelas sekarang. Sesekali, digosoknya dengan sabun, benda menggairahkan itu. Nakal, Budiman kadang berhenti untuk


menjawil kelentit mungil milik Rini, yang kontan saja membuat Rini mendesis seperti orang kepedasan.

“Aku tak akan melupakanmu Bud!” “Aku akan membahagianmu…” “Tapi kau tak mau menikahiku….”

“Bukan berarti aku tak bisa membahagiakanmu…. Berapa kalipun kau minta aku setiap malam, akan aku sanggupi….” Budiman tersenyum mesum.

“Enak saja….” Rini mencubit rudal Budiman gemas

“Aduh…………..” Budiman tersentak kaget tak menyangka akan di cubit Rini sekeras ini.

“Aduh… Aduh…” Budiman sibuk memeriksa rudalnya yang lemas dengan hati-hati…. Rini tertawa geli….

Rini bangkit duluan meninggalkan Budiman yang masih kesakitan memeriksa kemaluannya. Dia melilitkan handuk ke badannya dan mulai mengeringkan badan.

Rini rebah di ranjang, walau dia merasa enggan untuk memakai kembali pakaiannya. Hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Dirasakannya masih menginginkan kenikmatan dari Budiman, laki-laki palaing laki-laki-laki yang pernah mengerjainya.

TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Sepanas Bara"

  1. cukup sebagai hiburan aja... jangan di jadikan referensi.. apalagi buat anak di bawah umur.. .

    BalasHapus