Biarlah Semua Rasa ini Ku Simpan Di Hati Saja


Anak lelaki yang duduk di bangku panjang itu menghirup udara lembab pagi hari yang terasa menyegarkan. Helaan nafasnya terkadang menyelingi tolehan kepalanya. Jelas sekali anak itu menanti seseorang. Anak itu menengok jam tangannya dan menggoyangkan kakinya menutupi rasabosannya. "Baru lima belas menit. Aku tidak boleh mundur sekarang," desahnya lirih berusaha menenangkan hatinya. Bapak penjaga sekolah melirik dari seberang dan tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Pagi-pagi benar anak itu sudah membangunkannya untuk membuka gerbangsekolah. Menunggu cewek? Sebuah alasan yang cukup bisa dimakluminya sebagai seorang laki-laki dewasa yang sudah pasti pernah muda. Lagipula apa lagi yang dipikirkan seorang anak di masa beranjak gede selain lawan jenisnya. Pemikiran yang cukup sempit itu membuatnya tertawa.

Anak lelaki itu menggeliatkan tubuhnya. Benaknya mulai gelisah. Sekali lagi perutnya memprotes sambal pindang yang terlewatkan tadi pagi. Anak itu memegangi perutnya yang berlipat, merintih pelan. Dalam hatinya ia berjanji, seandainya gadis kecil itu menerima cintaku, aku akan diet mati-matian. Tidak bahkan lalap terong akan kutelan. Aku ingin terlihat keren untuknya. Aku ingin ia tidak malu apabila jalan bergandengan denganku. Aku ingin supaya anak-anak lain memandangku dengan iri. Aku ingin...

Dan anak lelaki itu tersenyum melihat sosok yang muncul dari balik gerbang. Bapak penjaga sekolah mengusap peluh yang mengalir di dahinya. Matanya menatap puas ke arah sampah-sampah plastik dan dedaunan yang terbakar di depan matanya. Setidaknya satu tugas selesai pagi ini. Tangannya bergerak lagi menusukkan patahan sapu itu ke onggokan yang terbakar, memastikan tidak ada bagian yang tak terjamah api. Sudut matanya menangkap langkah gontai itu. "Dik, mau ke mana?" Anak lelaki itu hanya menatap sayu dan tersenyum. Ia tak mungkin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia tak mungkin menceritakan betapa tawa gadis itu seperti serpihan kaca paru-parunya yang pecah dan mengoyak hati di bawahnya. Ia tak mungkin menceritakan kesia-siaan penantiannya dan segala rencana yang sudah begitu indah terbayang di benaknya setiap malam menjelang tidur.

"Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?"
Berulang-ulang di telinganya. Senyuman anak itu menghilang seiring buliran air mata yang jatuh di pipinya. Kakinya terangkat dan ia berlari, membiarkan tas itu memukul-mukul punggungnya, meninggalkan bapak penjaga sekolah yang berseru memanggil, meninggalkan kepahitan yang menyelubungi tempat itu.

Aku tahu aku anak lusuh yang miskin.
Aku tahu aku buruk, gendut seperti babi.
Aku tahu aku tak pandai berkelahi.
Aku tahu aku menyukaimu dalam khayalku.
Aku tahu aku.....

.....AKAN MENYIMPANNYA UNTUKMU.

Bagian 1
2013, lima tahun berlalu

Jangan sampai ia melihatku. Nora menempelkan tubuhnya ke sisi tembok. Gadis itu menahan nafasnya, walau sebenarnya ia tahu bahwa pemuda itu takkan bisa mendengarnya. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Nora mendekap tas itu erat-erat di dadanya. Sebentar lagi ia akan muncul.

Ya Tuhan, mohon jangan sampai ia melihatku.

"Ray, kamu serius hendak pulang?"
Pemuda pertama yang berambut sebahu dengan pakaian serabutan itu hanya menampakkan barisan giginya.
"Tentu saja. Lagipula untuk apa aku terus di sini? Mem-bo-san-kan."
Pemuda yang kedua yang tampak lebih rapi menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendesah, "Pokoknya ini yang terakhir untuk kamu."
Ray tertawa renyah, mengambil kertas kecil di tangan Andre dan mengacungkannya di depan wajahnya sendiri, "Thanks, Bro. I'll pay you later."
Andre menatap punggung sahabatnya. Sekali lagi ia menggelengkan kepalanya melihat gerakan kaki yang menyilang saat berlalu itu.
"Benar-benar seorang anak yang meresahkan."
Sekarang ia harus mengembalikan bundel surat ijin itu ke ruang tata usaha sebelum ada yang merasa curiga.

Ya Tuhan, mohon jangan sampai ia melihatku.

Nora menatap Ray yang berlalu seperti seekor pinguin, menunggu sampai pemuda itu menghilang ke arah kantin. Gadis itu memastikan langkah kaki Andre yang menjauh sebelum berani menyembulkan kepalanya dari balik tembok. Tulang-tulangnya terasa begtu lemas. Tanpa ia sadari air mata menitik di pipinya. Gadis itu mengusap matanya dengan punggung tangannya dan mulai melangkah menuju ke kelas. Hatinya benar-benar kacau saat itu. Nora tak menghiraukan sapaan teman-temannya dan langsung menuju ke arah bangkunya. Gadis itu mendudukkan dirinya dan membenamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya. Beberapa anak mulai merasa heran dan berkasak-kusukdengan kelompoknya masing-masing.
"Nora, kamu tidak apa-apa?"
Nora menegakkan punggungnya dan menghapus air mata yang baru saja mengalir di pipinya.
"Ah, hanya sedikit masalah di rumah."

Ya Tuhan, mohon hilangkan perasaan ini dari hatiku.

Bagian 2

"Kamu benar-benar gila, sayang."
Ray terkekeh dan melingkarkan tangannya di bahu Wulan.
"Kan harus ada yang menemanimu saat kamu sakit."
Gadis itu tertawa renyah dan membiarkan pemuda itu mengecup bibirnya dan mengurangi sedikit rasa pening yang menusuk kepalanya. Ray melumat bibir gadis itu dengan penuh nafsu. Mendadak Wulan mendorong pundak pemuda itu menjauh.
"Kamu barusan makai?"
Ray terkekeh dan berusaha mengecup bibir gadis itu sekali lagi.
"Kan lebih enak begini. Lebih hot, bukan?"
"Sinting kamu. Aku tak pernah suka sisi gilamu yang satu ini."
Gadis itu mendorong tubuh Ray menjauh. Namun Ray lebih sigap dan lebih kuat darinya. Tangan pemuda itu menggamit pergelangan tangan Wulan dan menariknya sampai terjatuh di sofa.
"Hey," Ray mendesis, "Aku tidak bolos hanya untuk kembali lagi ke sekolah."
Wulan merasakan nafas Ray yang menghembus di wajahnya. Jemari pemuda itu mulai merangkak dari perutnya dan membuat gerakan melingkar yang lembut di payudaranya.

"Hentikan, Ray," desah gadis itu saat bibir si pemuda menyentuh bibirnya. Namun Ray seakan tak mendengarnya. Pengaruh `daun' itu lebih kuat dari akal sehatnya. Tangan pemuda itu menyusup ke balik jubah mandi si gadis dan memainkan payudara gadis itu dengan telapak tangannya. Wulan mengeluh dalam lumatan bibir pemuda yang kini sudah setengah di atas tubuhnya.Ray menikmati tubuh mungil yang menggeliat di bawahnya. Dengan cekatan Ray melepas kancing-kancing di bajunya sendiri dan membuangnya ke lantai. Wulan menarik kepalanya dan menikmati lidah Ray yang menelusuri lehernya, belahan buah dadanya, dan dengan cara yang aneh berhasil membuka ikatan jubah mandinya. Pemuda itu mendesah dan tersenyum saat mendapati kenyataan bahwa gadis itu tidak mengenakan apapun di balik jubah mandinya selain sebuah celana dalam tipis berwarna biru muda.

Wulan semakin menggeliat ketika lidah dan bibir pemuda itu memainkan puting payudaranya dengan gerakan yang liar, tangan gadis itu melingkar di leher Ray dan bergerak meraba punggung telanjang pemuda itu. Ray menelusuri garis tengah gadis di bawahnya, memasukkan lidahnya kelubang pusar si gadis, membuat gadis itu menggelinjang kegelian, dan mengecup lipatan paha si gadis yang masih tertutup kain tipis berwarna biru muda. Wulan mendesah saat pemuda itu mengigit kemaluannya. Ray merasakan kain itu menjadi sedikit basah dan ia tersenyum. Pemuda itumenjulurkan lidahnya dan memainkan bibir vagina si gadis yang menempel di balik kain celana dalamnya yang basah, sementara tangannya melepas kan celana abu-abunya berikut celana dalamnya sendiri.

"Nggak, ah." Wulan menggelengkan kepalanya saat Ray bangkit dan mendudukkan tubuhnya di samping gadis itu. Ray mengerenyitkan alisnya sedikit kecewa. Namun Ray bukan seorang pemuda yang bisa ditolak begitu saja, apalagi dalam kondisi tak karuan seperti saat itu.
"Ayo, dong," Ray mendesah manja sambil memainkan batang penisnya yang menegang. Wulan menggigiti bibir bawahnya sambil menatap batang kejantanan dalam genggaman pemuda itu.
"Aku masih sakit, Ray."
Ray benar-benar gelap. Jemarinya bergerak melingkari punggung leher si gadis dan menekan kepala si gadis ke dalam pangkuannya.
"Aku tahu," desis pemuda itu, "Dan ini adalah obat yang paling mujarab, bahkan untuk batuk rejan sekalipun."
Wulan melipat alis matanya, namun bibirnya menemukan ujung penis itu. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat, namun kecupan lembut dan bisikan "Please," yang didengarnya membuat bibirnya membuka. Ray mendesah saat ujung penisnya memasuki rongga mulut gadis itu. Pemuda itu menggunakan tangannya menarik dan menekan kepala gadis di pangkuannya, Wulan mengerang dan sedikit terbatuk.
"Ray, sudah deh. Kepalaku pusing."
Ray menyengirkan mulutnya.
"Sedikit lagi." Dan tangannya kembali menekan kepala si gadis.

Beberapa saat kemudian pemuda itu mengangkat kepala si gadis dari penisnya dan menyemburkan spermanya. "Gila. Cepat sekali." Mau tak mau Wulan tertawa. Ray tersenyum dan sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Ternyata pengaruh daun itu benar-benar menguras daya tahannya. Tapi tubuhnya benar-benar lemas sekarang.

Wulan tersenyum dan meraba pipi pemuda yang sudah memejamkan matanya itu dengan lembut. Keinginan kewanitaannya sedikit mengajukan protes, namun Wulan sadar tak ada gunanya menghadapi Ray yang sedang dalam kondisi `tak karuan' seperti saat itu. "Dasar cowok tampan yang bandel." Gadis itu mencubit pipi pemuda yang terlelap itu sebelum melangkah menuju kamar mandi. Dalam hati ia bersyukur karena Ray mudah terlelap. Seandainya Ray meminta yang lebih daripada itu, entah apa yang harus dilakukannya. Mungkin sebaiknya ia menelepon Enni nanti malam, danmeminta gadis itu untuk kembali pada mantan kekasihnya yang berubah brutal ini. Tapi siapa lagi yang akan memberinya kenikmatan dan kenangan-kenangan indah seandainya Ray benar-benar pulang? Wulan tersenyum saat memasukkan sikat gigi itu ke dalam mulutnya.

Bagian 3

Nora memandang sekali lagi kata-kata yang terangkai di secarik kertas di hadapannya. Dalam hati ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri.

Ya Tuhan, akankah ia memaafkan diriku?

Sekilat ingatan tentang proses perubahan seorang lelaki yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri melintas di benaknya. Dalam penyesalannya selama bertahun-tahun ini, pertanyaan yang sama selalu berulang-ulang di kepalanya, membuatnya menjadi ketakutan dan gelisah saat menatap sosok lelaki itu, bahkan dalam jarak seratus meter pun.

Ya Tuhan, mengapa aku menyesal sekarang?

Aku mencintainya. Kata-kata itu juga selalu terngiang di telinganya. Dan kata-kata itu meluncur dari bibirnya sesaat sebelum dan sesudah ia terlelap dalam mimpi-mimpi buruknya. Pemuda itu begitu menawan, begitu tinggi di atasnya, begitu menggoda untuk digapai. Jauh lebih menggodadari pemuda-pemuda lain yang mengobral cinta untuknya. Namun apa yang telah dilakukannya? Ia telah menyebabkan pemuda itu kehilangan perasaannya. Ia telah menyebabkan pemuda itu begitu menderita dalam kesendiriannya. Yang (mungkin) hanya Nora dan pemuda itu sendiri ketahuidisaat-saat pemuda itu hanyut dalam kesendiriannya di sudut-sudut tergelap kamarnya. Nora bisa membayangkannya. Gadis itu seakan bisa menatap air mata yang mengalir di pipi pemuda itu saat mengenang dirinya. Dan Nora kini begitu mencintainya. Air mata gadis itu menetes di atas kertas.

"Benarkah aku mencintainya," gadis itu mendesah dalam kegalauannya. Apakah perasaan ini timbul dari sebuah perasaan bersalah yang terpupuk selama bertahun-tahun? Apakah perasaan ini timbul setelah ia menyadari kelelakian pemuda itu yang mulai tampak di masa-masa beranjak dewasanya? Salahkah aku kalau aku dulu begitu menganggap rendah padanya? Pertanyaan demi pertanyaan mengiang lagi. Dan kali ini Nora sudah membulatkan tekadnya untuk mengakhiri mimpi-mimpi buruk itu. Dengan secarik kertas di genggaman tangannya.

Ya Tuhan, tunjukkanlah kebenaran itu padaku.

Bagian 4

Sore itu begitu terik. Ray melonjorkan kakinya di depan teras, pikirannya masih terasa sedikit di awang-awang. Pemuda itu tersenyum mengingat gadis yang baru saja menghilang di tikungan jalan. Satu hal yang mungkin tak bisa dimaafkannya adalah betapa tadi siang gadis itumenjejali mulutnya dengan daging kelapa muda, di saat ia memang sedang mencoba melupakan Enni dengan gayanya sendiri. Tapi Ray bisa memaafkannya saat mendadak gadis itu mengangkangkan kakinya dan menduduki kepalanya. Kelapa Saliva Muda. Ray terkekeh. Catat itu. Setidaknya itu menu baru yang bisa membuatnya sedikit sadar. Lagipula gadis itu sudah mengantarku pulang walau ia sedang sakit.

Ray memandang ke kejauhan. Matanya menangkap genio merah yang begitu dikenalnya. Ketua OSIS itu membungkukkan tubuhnya dan menatap wajah Ray dengan seksama, seakan memastikan pemuda itu sudah cukup sadar dari mabuknya. Ray balas menatap mata itu dengan melotot dan berseru pelan, "Boo!!"
Andre tertawa dan mendudukkan dirinya di sebelah Ray.
"Bisa saja kamu." Ray tesenyum dan memandang ke jalan.
"Ketahuan?"
"Seperti biasa," Andre menopangkan tangannya ke ubin, "Mereka curiga. Tapi lebih memilih untuk mengangkat tangan jika menghadapi alasan-alasan legalmu."
"Hehehe. Dasar manusia-manusia pengecut."
"Hush. Jangan berkata demikian."
Sifat itulah yang cukup untuk membuat Ray merasa sebal dengan sahabatnya yang satu itu. Sementara kata `sok alim' tak pernah masuk dalam kamusnya. Mungkin Ray hanya berteman dengan Andre karena pemuda itu seorang ketua OSIS, kapten tim basket, anggota paskibraka, dan sama sekali bukan teman yang memalukan untuk diajak menggoda gadis-gadis. Walau toh pada kenyataannya Andre lebih banyak diam daripada ngoceh tak karuan seperti dirinya.

"Ray."
"What ?"

Bagian 5

Nora menangis. Entah mengapa ia tak mampu menahan air matanya yang membanjir keluar saat pemuda itu tersenyum menatapnya sambil mengulurkan lengannya. Nora tak pernah merasa sebahagia itu dalam hidupnya. Tawa yang mengiringi air mata itu seakan merupakan perwujudan beban yang selama ini selalu menghimpit batinnya. Pemuda itu mendekap Nora dengan hangat, menempelkan pipinya ke pipi gadis itu dan membisikkan kata-kata yang bagaikan angin surga yang menghembus hati si gadis. "Aku selama ini masih mengharapkanmu."

Ya Tuhan, apakah semua ini hanya mimpi?

Nora tak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menimpali pernyataan yang terlalu membuai itu. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan mengecup kening Nora, membisikkan kata-kata itu lagi, "Aku sudah memaafkkanmu sejak dulu." Dan kenangan-kenangan itu berlalu, berlari, dan terhempasmelebur seakan diterjang oleh banjir air kehangatan dan kemesraan yang menyejukkan hati Nora."Maafkan aku.. maafkan..a..." Pemuda itu mengangkat dagunya dan mengecup bibirnya. Lembut sekali. Dan bahkan Nora rela mengesampingkan semua ideologi kesopanan sebulan yang selama ini selalu dipegangnya erat-erat dalam berhubungan dengan setiap lelaki. Kecupan ini begitu didambakannya. Siang dan malam. Pagi dan petang. Dalam setiap mimpi-mimpinya. Angannya.

Ya Tuhan, biarkanlah masa-masa ini kekal.

Satu hal yang Nora percaya. Ia sudah merasa lelah untuk berlari. Ia sudah merasa terlalu capai dengan pemuda-pemuda lain yang hanya mampu memberikan kehangatan, namun tak mampu meluluhkan hatinya. Karena Nora yakin seperti ia percaya, bahwa ia mencintai pemuda yang sekarangmendekapnya ini. Persetan dengan semua alasan belas kasihan dan ketampanannya. Yang penting pemuda ini ada di sini. Saat ini. Untuk memaafkan Nora dan memiliki hatinya. Memiliki? Benar. Nora akan menyerahkan bahkan kehidupannya untuk pemuda yang satu ini.

Ya Tuhan, komitmen ini dariku... untuknya... atas nama-Mu.

Bagian 6
Masih 2013, lima tahun tiga bulan berlalu.

Sentuh aku sesukamu. Nora mendesah saat jemari pemuda itu mendekap payudaranya. Gadis itu membalas kuluman si pemuda di bibirnya. Begitu hangat. Begitu mesra. Bora menggeliat, tangannya bergerak dan membuka kancing baju pemuda itu.

Ya Tuhan, terima kasih.

Pemuda itu membiarkan bajunya terlepas dan terjatuh melewati kakinya. Nora memejamkan matanya dan mengangkat kepalanya saat pemuda itu mengangkat kausnya melewati lengannya yang terangkat ke udara. Pemuda itu menciumi leher jenjang si gadis dan menelusurinya sampai ke permukaan payudara si gadis. Nora mendesah dan mengecup ubun-ubun pemuda itu. Lidah pemuda itu menyusup ke balik bra-nya dan menyentuh sedikit puting susunya. Nora menahan nafasnya, memudahkan pemuda itu untuk melepaskan pengait bra-nya.

Ya Tuhan, terima kasih.

Nora membiarkan pemuda itu menindih tubuhnya. Gadis itu membuka pahanya, pemuda itu menyusupkan tubuhnya. Lidah pemuda itu memainkan puting susu si gadis dengan gerakan yang perlahan tapi cukup untuk membuat desahan itu keluar dari bibir Nora. Pemuda itu mengangkat tubuhnya dan menempelkan bibirnya di bibir gadis di bawahnya, sementara jemarinya memainkan bibir vagina si gadis. Nora mengulurkan tangannya dan menggenggam batang penis yang menegang itu. Angannyamelayang seiring nafsu yang semakin bergejolak di benaknya.

Ya Tuhan, terima kasih.

Pemuda itu menarik celana dalam Nora dengan perlahan tapi pasti, membiarkan Nora jengah dalam ketelanjangannya. Jemari pemuda itu kembali memainkan bibir vagina Nora, membuat gadis itu menggelinjang dan terengah-engah. Nora mempererat genggamannya pada batang penis pemuda itu, menariknya seakan berusaha memasukkan batang penis itu ke dalam liang vaginanya yang masih perawan. Sesuatu yang gadis itu percaya pasti sering diimpikan pemuda-pemuda satu sekolah di kamar mandi saat bermasturbasi. Pemuda itu menopang tubuhnya dengan lengannya. Menatap wajah Nora dan melihat air mata gadis itu yang menitik ke pipinya. "Are you sure about this ?" bisik pemuda itu. Nora memejamkan matanya, bibirnya sedikit membuka. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Ya Tuhan, terima kasih.

Pemuda itu mengangkat tubuhnya dari tubuh Nora. Nora menunggu, sedikit merasa tegang mengira-ngira perasaan apa yang akan muncul pada dirinya atas kepasrahannya. Nora memejamkan matanya rapat-rapat dan mengangkat lengannya. Nora menunggu batang penis itu menekan di liang vaginanya. Menunggu rasa sakit yang sering didengungkan orang-orang. Menunggu keperawanannya diambil pemuda impiannya.
Akhirnya.
Akhirnya mimpinya yang terindah tergapai.

Ya Tuhan, terima ka.....

"Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?"
Berulang-ulang di telinganya.
Sejak saat itu.
Selamanya.

Bagian 7
Sebuah penutup

Pemuda berambut sebahu itu menghisap rokok di jepitan bibirnya dalam-dalam. Matanya menerawang entah kemana. Hari itu pikirannya benar-benar jernih. Terutama sejak Enni mengobrak-abrik kamarnya dan membuang semua makanan anak sesat yang ia miliki dan tentu saja ia takkansanggup untuk menyakiti gadis yang begitu ia kasihi.

"Kamu mendengar, Ray?"
Ray menatap wajah Andre. Dan sekejap kemudian pemuda ini merasa ketakutan oleh senyuman yang mengembang di bibir sahabatnya. Perasaan horror ini membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ya."
Andre menghela nafasnya dalam, memalingkan wajahnya ke arah pekarangan. Tapi senyuman itu belum juga hilang. Sebuah senyuman kepuasan dan kemenangan. Ray membiarkan suasana hening itu menambah kesan perasaan hatinya yang tercekam oleh aura horror di antara dirinya dan sahabatnya.

"Dan aku punya sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
"Ah ?"
Ray tercekat. Aku.... aku.....
"Terima kasih, Ray." Dan Andre menjatuhkan kepalanya di bahu Ray yang hanya bisa terdiam.

Aku Ray.
Membantu kelahiran monster ini tanpa sadarku.

Bagian 8
Bagian yang terhilang

Pemuda itu menghela nafasnya sebelum mulai bertanya. Ray hanya bisa cengengesan menatap wajah Andre yang berkerut-kerut.
"Sejauh mana pengertianmu tentang wanita?"
Ray terkekeh dan menjawab sekenanya, "Sampai aku bisa menceramahi kakekku sendiri."
Tapi Andre tak tertawa sama sekali.
"Bagaimana cara menyakiti seorang wanita?"
"Perkosa lalu ditinggal."
Andre mengerenyitkan alisnya.
"Yang tidak beresiko?"
Ray meruncingkan bibirnya, sejenak pikirannya yang masih sedikit kacau mengingat-ingat beberapa peristiwa yang sempat masuk di beberapa media massa.
"Dihamili lalu ditinggal?" ucapnya beberapa saat kemudian.
"Masih banyak single parents, Ray."

Mendadak Ray menegakkan posisi duduknya, tangannya mengacung di sisi kepalanya dengan sikap konyol, "Aku tahu!!"
"Apa?" Andre menatap Ray dengan penuh rasa ingin tahu.
"Tapi ini ra-ha-si-a," Ray mendekatkan bibirnya ke telinga sahabatnya.
Andre menunggu dengan tidak sabar.

"Buat ia tergila-gila padamu, rayu ia sampai ia rela untuk menyerahkan dirinya padamu, telanjangi ia, goda ia, buat ia terengah dan bernafsu, berikan padanya harapan yang muluk tentang perwujudan cinta, dan tinggalkan ketelanjangannya! Renggut harapan itu darinya. Voila,gadis itu akan terluka sampai ke akhir hayatnya."

Ray tertawa terbahak-bahak, begitu bangga pada dirinya.
Andre tersenyum.

Dahulu,
Aku tahu aku anak lusuh yang miskin.
Aku tahu aku buruk, gendut seperti babi.
Aku tahu aku tak pandai berkelahi.
Aku tahu aku menyukaimu dalam khayalku.
Aku tahu aku AKAN menyimpannya untukmu.

dan sekarang,
Aku tahu aku anak seorang pengusaha terpandang.
Aku tahu aku tampan, gagah bagaikan pangeran dalam dongeng.
Aku tahu aku menakutkan dengan reputasi yang melekat padaku.
Aku tahu aku menggilakanmu atas semuanya itu lewat suratmu.
Aku tahu aku MASIH menyimpannya untukmu.

"Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?"
Berulang-ulang di telinganya...
Sejak saat itu...
Selamanya.....


TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biarlah Semua Rasa ini Ku Simpan Di Hati Saja"

Posting Komentar