Kenangan Malam Tahun Baru


Saya pembaca setia dari menceritakan.com, dan sebenarnya saya juga punya pengalaman yang sangat menarik. Pengalaman ini berdasarkan kisah nyata. Dan saya sebenarnya tidak berani untuk mengungkapkan cerita ini, tapi karena sudah menjadi kesepakatan kami berdua (Saya dan Maya), maka saya (Hendri) akan bercerita kepada pembaca menceritakan.com.

Cerita ini terjadi tepat pada tahun baru kemarin (2001) dan sebenarnya tidak mau terjadi, tetapi karena sudah takdir, biasa disebut begitu, mau tidak mau terjadi juga. Sebenarnya, saya sudah berpacaran dengan kakaknya Maya, yang usianya baru masuk 19 tahun, sementara saya sudah 25 tahun, dan Maya baru berusia 17 tahun. Di keluarga mereka, Maya lah yang paling tinggi dan gayanya sangat tomboy. Sebut saja kakaknya Maya bernama Wati. Wati kuliah di universitas swasta di daerah Jakarta Selatan dan saya sudah menyelesaikan kuliah di salah satu swasta terkenal di Bandung. Saya sudah pacaran dengan Wati sejak tahun 1999.

Wati mempunyai postur yang proporsional, walaupun badannya tidak tinggi (sekitar 160 cm) tetapi sangat indah kalau dilihat. Sementara saya dengan tinggi 167 cm dan tubuh yang biasa-biasa saja. Maya sangat berbeda dengan Wati, tinggi Maya sekitar 165 cm, kulit berwarna kecoklatan, dan mempunyai rambut yang pendek. Sekarang, Maya sedang menyelesaikan SMA-nya di daerah Jakarta Barat. Keluarga kami sudah sangat dekat. Saya sendiri sudah tidak asing lagi di keluarga mereka. Apalagi sejak saya pacaran dengan Wati. Setiap saya datang ke rumah mereka, selalu disambut dengan gembira.

Saya mulai pacaran dengan Wati sejak tahun 1999 pertengahan, jadi sampai sekarang, kami sudah pacaran hampir dua tahun. Hubungan saya dengan Wati sudah direstui oleh kedua orang tua kami, dan saya juga sangat serius dengan hubungan ini. Wati memang menjadi gadis pilihan saya, sepertinya tidak ada gadis lain sesempurna dia. Dengan rambut sebahu, dan ukuran dada yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil serta matanya yang sangat besar, membuat saya tidak ingin mencari gadis lain. Tetapi keinginan saya sempat terganggu hanya karena kejadian yang terjadi tanggal 1 Januari 2001, tepatnya tahun baru.

Kami (Saya dan Wati) merencanakan tahun baru sudah lama sekali, tetapi karena keluarga Wati kedatangan saudara dari orang tuanya, maka rencana kami batal, saya sangat kecewa. Karena rencananya, saya dan Wati akan menghabiskan malam tahun baru bersama. Tepat malam tahun baru tanggal 31 Desember, Wati menelpon ke rumah saya.
"Bang Hendri, malam ini Kami sekeluarga mau liburan ke puncak, sepertinya semuanya ikut kesana, kecuali Maya, karena tanggal 1-nya ada acara dengan teman-teman SMA-nya. Main aja ke rumah Bang..! Ngga ada siapa-siapa kok, karena Maya juga sendirian, mungkin Kami akan nginap 3 hari di puncak, telpon Wati ya Bang..! Dan kalo Abang jadi ke Bogor, mungkin Kita bisa ketemu disana, HP Abang jangan lupa dibawa..." cerita Wati.
"Ya, sudah, nanti Abang telpon dari rumah, untuk ngucapin selamat tahun baru, dan sepertinya Abang ngga bisa nemanin Maya di rumah, karena Abang mau ngabisin waktu di rumah aja, main internet, hati-hati ya Sayang, selamat liburan..!" jawabku.

Tepat malam tahun baru, saya hanya berdiam di depan komputerku dan waktu pada saat itu sudah pukul 11:30 malam. Jenuh rasanya. Tiba-tiba, saya ingat Maya sendirian di rumah. Iseng-iseng saya telpon Maya dari rumah.
"Hallo, selamat tahun baru, May.., lagi ngapain di rumah..?"
"Bang... masih 25 menit lagi, ada apa kok nelpon..? Kasihan ya.., ngga jadi malam tahun baruan sama Wati, jangan sedih Bang, masih ada tahun baru sekali lagi, kok bisa tahu ada Maya di rumah..?"
"May, Bang Hendri tadi ditelpon Wati sebelum mereka ke puncak, katanya Maya tidak bisa ikut, karena ada acara dengan temanmu, emangnya acara apaan May..?"
"Hanya acara kumpul-kumpul, kan ini tahun baru yang terakhir di SMA, Bang Hendri kesini lah... ada banyak makanan di rumah."
"Ya sudah.., nanti Bang Hendri kesana." mengakhiri pembicaraan kami di telpon.

Akhirnya, setelah pamitan dengan orang rumah, maka saya mengeluarkan mobil dari garasi dan pamit untuk ke rumah Maya. Saya bilang dengan orang rumah, kalo saya sampai pagi disana. Pada saat itu, saya hanya berpakaian baju kaos dan celana pendek serta memakai sepatu. Karena pikiran saya lagi malas untuk jalan-jalan, maka saya berpakaian seadanya saja.

Rumah Wati dan saya hanya memakan waktu 20 menit (jika tidak macet), tetapi jika lagi macet-macetnya, paling sebentar sekitar satu jam. Tepat pukul 12 lewat 20 menit, mobil sudah kuparkir di dalam garasi dan langsung saya kunci.
"Masuk Bang..! Pintunya ngga dikunci.., kok lama sekali..? Kan udah ngga macet." tanyanya.
"Ramai May di jalan, banyak orang masih pada ngumpul."
Pada saat itu, saya lihat Maya hanya berpakaian baju tidur terusan. Terlihat bodinya sangat tinggi sekali dibandingkan dengan Wati.
"Bang.., Maya ada sewa film tadi siang, untuk ngabisin waktu sampai pagi nanti, mau nonton yang mana Bang..?" Maya mengeluarkan beberapa film yang disewanya.
"Malas May.., jangan nonton ya..? lain kali aja yah..? May.., Bang Hendri kangen dengan Wati, lagi ngapain ya mereka disana..? Tadi waktu Bang Hendri telpon tepat jam 12 malam, mereka lagi ngumpul di taman, katanya yang punya villa buat acara khusus untuk tahun baru." jelas saya.

"Bang.., Kita ngapain ya..? Kita cerita aja ya..? Siapa yang mau mulai..?" tiba-tiba Maya mengalihkan pembicaraannya.
"Mau cerita apa..? Siapa yang mulai duluan, Bang Hendri atau Maya..?" balasku.
"Abang aja dulu, cerita hubunganan Kalian berdua sudah sejauh mana..?"
Tiba-tiba Maya duduk mendekat di dekatku dan sambil mengambil bantal untuk menutupi pahanya.
"May, Bang Hendri sangat serius dengan Wati, dan Kami sudah membuat kesepakatan untuk saling menjaga cinta Kami."
"Bukan itu maksud Maya.., kalau itu Maya sudah tau, tapi yang Maya mau tanya.., sudah ngapain aja Bang Hendri dengan Wati selama pacaran, ya yang mengenai saling berhubunganlah."
"Berhubungan apa..?"
"Ya, berhubungan apa aja, ciuman, pelukan, atau Bang Hendri dengan Wati sudah pernah berhungan badan..?"
"May, apa perlu Bang Hendri ceritakan ke Kamu..?"
"Perlu Bang, Maya kan mau tau juga, apa hubungan yang pernah Abang lakukan dan yang bagaimana yang paling Bang Hendri senangi..?" tanyanya mendesakku.

Pembicaraan kami akhirnya sudah sangat hangat. Dan saya pun tidak menjadi masalah mencerikan semua apa yang sudah kami lakukan berdua, mengingat semuanya pun ternyata sudah Wati ceritakan ke Maya, jadi tidak ada masalah apa pun.
"Iya May.., Bang Hendri sudah berhubungan badan beberapa kali dengan Wati." Jelasku.
"Jadi, Wati sudah tidak perawan lagi..?"
"Iya, Wati sudah tidak perawan lagi sejak hubungan Kami berjalan tiga bulan, Kami melakukannya di penginapan, dan selama tiga hari Kami menyewa penginapan tersebut, itulah untuk pertama kali Bang Hendri berhubungan badan, waktu itu umur Bang Hendri 23 tahun, sementara Wati baru 17 tahun."

"Mulanya bagaimana Bang..?"
"Mulanya.., ya hanya sekedar cerita dan dari cerita itu terus dilanjutin, akhirnya Kami sepakat untuk menyewa penginapan dan melakukannya sama-sama disana."
Tiba-tiba Maya menyingkirkan bantal yang menutupi pahanya. Dan terlihat pahanya yang coklat. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Maya. Maya berdiri di depanku.
"Bang, Maya mau bugil di depan Bang Hendri."
Tidak sempat kujawab, tiba-tiba Maya membuka resleting bajunya dari belakang. Dan, baju tidurnya Maya terjatuh di bawah kakinya yang tinggi. Oh, ternyata Maya sudah tidak pakai BH lagi. Hanya celana dalam yang berwarna putih saja yang tinggal di badannya menutupi kemaluannya. Terlihat samar-samar jembut halus yang masih sangat sedikit menutupi vaginanya.

Maya membungkuk untuk membuka celana dalamnya. Dan tepat berdiri di depanku. Maya sudah bugil di depanku. Rasa malu Maya terhadapku hilang begitu saja. Kulit tubuhnya yang mulus kecoklatan dan postur tubuh yang tinggi serta puting susu yang masih kecil dan mancung, vagina yang panjang ke bawah ditumbuhi oleh bulu-bulu yang masih jarang, kulihat semuanya dengan kagum dan kaget, dan membuat batang kejantananku berdiri dengan cepatnya. Entah apa yang ada dipikiran Maya saat berdiri bugil di depanku.

Cukup lama Maya berdiri di depanku, dan hal itu membuatku terpana dengan pemandangan yang sangat indah. Aku bingung dan tidak menyangka, Maya akan melakukannya di depanku. Terlihat buah dada Maya yang masih mempunyai lingkaran kecil dengan puting yang mancung ke depan. Memang lain dengan yang Wati punya. Punya Wati lebih besar dan lingkarang putingnya lebih berwarna kecoklatan, karena sudah terbiasa dihisap olehku. Sedangkan punya Maya, lingkaran putingnya masih kecil, tapi inilah buah dada yang lebih enak, karena belum terjamah oleh siapa pun.

Kemudian Maya menghampiriku dan duduk tepat di depanku.
"Ngga apa-apa kan Bang..? Maya seperti ini, Maya udah membayangkan sejak lama mau bugil di depan Bang Hendri, baru kali ini kesampaian, jangan marah ya Bang..!"
Aku hanya terdiam beberapa saat. Tangan Maya menarik tanganku dan diletakannya tanganku tepat di susunya sebelah kanan. Dan tanganku yang satu lagi merangkul pinggulnya yang ramping dan seksi. Tak susangka, yang setiap hari kulihat Maya dengan cueknya jika aku sedang bermain di rumahnya, ternyata menyimpan keinginan yang luar biasa.
"Maya, kamu berani sekali."
Setelah berada tepat di depanku, Maya langsung menciumi bibirku dan memeluk badanku erat-erat. Aku pun mulai hanyut dan bingung dengan ciuman Maya, namun segera kusadarkan diriku lagi bahwa ini memang kejadian yang sebenarnya, tidak mimpi ataupun berhayal.

Dan dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, saya langsung membalas ciuman bibir Maya yang sudah bernafsu sekali. Maya langsung melucuti pakaianku. Maya berhasil membuka celana pendekku dan langsung melepaskan celana dalamku. Akhirnya aku sudah bugil di depan calon adik iparku. Dipegangnya batang kejantananku yang makin lama semakin keras.
"Bang, punya Abang besar sekali. Baru kali ini Maya lihat langsung punya laki-laki."
"Kamu pengen ngerasainya May..?" tanyaku menggoda.
"Pengen sekali Bang..." jawab Maya dengan cepat.

Langsung saya meniduri Maya di lantai, posisi Maya masih tiduran. Dan dari arah atas, saya perhatikan sebuah bukit yang masih kecil dan dengan puting yang masih mancung ke depan, dan sebuah gundukan yang rambut kemaluannya masih sedikit serta sangat panjang melebar ke bawah. Sungguh pengalaman yang tidak kusia-siakan. Entah setan mana yang merasuki kami berdua hingga kami tidak sadarkan diri lagi. Akhirnya, yang selama ini kuperhatikan Maya selalu memakai baju, kali ini dapat kulihat dengan sangat leluasa, Maya bugil di depanku.

Kulihat Maya yang sudah tidak sabaran lagi untuk dipakai. Dengan goyangan tanganya yang mengelus susunya dan mata yang menggoda, saya sudah tidak sabar lagi untuk menjilat dan menggigit buah dadanya yang masih sangat ranum. Aku jongkok tepat di belahan kaki Maya dan terlihat sangat bebas vagina Maya yang masih ranum dan harum. Kupegang bibir kemaluan Maya dengan tanganku, dan mata Maya tertutup menandakan kalau dia bener-bener menikmati vaginanya yang lagi dibelai olehku. Sementara, batang kejantananku sudah tegang dan menghadap ke vagina Maya. Kutekan-tekan vagina Maya dengan tanganku, dan sekali-kali kucium vaginanya yang sudah mulai basah. Kuciumi dengan memainkan lidahku untuk memberikan kenikmatan yang lebih. Maya sudah tidak tahan lagi dengan belaianku, dan aku pun sebenarnya sudah tidak tahan lagi untuk menikmati tubuh Maya yang tidak ditutupi sehelai benangku. Nafsu yang sengaja kutahan, akhirnya tidak dapat kusimpan lagi. Segera kutiduri Maya dengan buasnya.

Dengan posisi Maya ada di bawah dan aku di atas, akhirnya kuturunkan badanku ke arah Maya. Kuciumi bibir Maya yang lebar dan kumainkan lidahnya. Maya langsung membalas. Punyaku yang sudah sangat keras terasa sekali menempel di kemaluan Maya. Kugoyangkan badanku agar dapat lebih merasakannya lagi. Maya membalas gerakanku. Luar biasa sekali, sepertinya Maya sudah sangat pengalaman akan hal ini. Kuteruskan permainan kami sambil tanganku memegang susu sebelah kirinya. Dan kumainkan jariku di atas puting yang masih menjulang tinggi dan sudah keras. Pelan-pelan kuturunkan ciumanku dan kuarahkan ke lehernya. Setelah itu, tidak lagi kuciumi lehernya melainkan kuturunkan lagi ciumanku, dan sekarang sasaranku adalah mencium susunya yang kuyakin belum ada yang menyentuhnya.

Seluruh susu Maya dapat masuk kedalam mulutku dan dapat kumainkan dengan leluasa pakai lidahku. Sangat terasa sekali di lidahku saat menyentuh putingnya yang sangat keras dan menjulang tinggi. Dan sekali-kali gigiku menggigit putingnya. Tidak ketinggalan tanganku sebelah kiri terus memainkan susunya yang tidak dapat dihisap.
"Aaa.., enak Bang..." terdengar suara nafsunya.Sementara itu, tangan Maya kuarahkan ke arah penisku. Dan penisku yang dari dari sudah mengeras, ingin sekali dipegang oleh tangan Maya. Tidak lama, tanganku yang menganggur turun ke bawah, yaitu ke arah vagina Maya. Ternyata vagina Maya sudah sangat basah sekali.

"Aaa... enak Bang.., seperti itu saja, jangan dilepas..!" pintanya manja.
Rupanya kemaluan Maya sudah basah sekali. Dan kumainkan dengan jariku. Aku sudah terbiasa memainkan vagina Wati dan sudah tahu bagian yang paling enak di tubuh seorang wanita. Kurenggangkan pelan-pelan kaki Maya, dan kumasukkan sedikit demi sedikit tanganku agar dapat kuraih klitorisnya yang masih merah. Mulutku masih terus menjilati susunya yang mancung, tetapi pikiranku berada di bawah, yaitu aku harus menyentuh klitorisnya Maya.
"Aaa... enak Bang.., enak sekali, terus Bang dimainin..." desahnya.

Setelah kulebarkan kaki Maya dan kutekan sedikit tanganku serta kulebarkan vagina Maya dengan tanganku, akhirnya apa yang kucari-cari dapat kuraih juga. Rupanya klitoris Maya lebih gampang dicari, karena vagina Maya lebih panjang dari kepunyaan Wati. Terus kumainkan dengan jariku yang sudah sangat berpengalaman. Klitoris Maya makin lama semakin mengeras dan kuperhatikan raut wajahnya yang sudah sangat terangsang karena sentuhan jariku di klitorisnya. Kumainkan terus jariku dan sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam vaginanya. Kugerakkan dengan cepat sekali, sementara aku sudah tidak sabar untuk memasukkan penisku ke vagina Maya. Makin lama semakin basah tanganku akibat basahnya seluruh lubang kemaluan Maya. Ingin rasanya kumasukkan jariku ke dalam vaginanya, namun kubatalkan karena kuyakin Maya pasti akan memberikan keperawannya kepadaku hari ini.

Mulutku terus mengulum puting Maya yang sangat keras. Ujung-ujung putingnya kumainkan dengan lidahku, dan hal itu membuat Maya semakin tidak karuan saja. Semakin lama, klitoris Maya semakin terbentuk panjangnya. Terasa licin di tanganku, tetapi semakin lama membuat Maya semakin lupa dirinya. Kumainkan dengan jari tengahku, kunaikkan jariku ke atas dan turun ke bawah, sekali-kali kutekan vaginanya memakai kelima jari tanganku. Pada saat itu juga, kuciumi bibirnya yang lebar. Tiba-tiba, Maya membisikkan ke telingaku kalau dia sudah tidak tahan lagi, dan sepertinya dia ingin mengeluarkan sesuatu dari kemaluannya.

"Bang, Maya sepertinya mau kencing, Maya mau keluar Bang... aaaa enak sekali..." katanya.
"Keluarkan aja May, jangan ditahan..!"
Kutahu Maya mau keluar. Kumainkan jariku lebih cepat lagi, dan kuhisap susunya lebih kuat lagi. Kutarik-tarik dengan mulutku yang semakin buas. Aku semakin semangat untuk memainkan seluruh bagian sensitif Maya. Secara bergantian, kuhisap susu Maya dan kugigit-gigit bagian ujungnya. Kutelan semua susunya dalam mulutku karena masih sangat kecil sekali.

"Bang.., Maya enak sekali rasanya. Mau... mau... teruuss, Bang, Maya..."
"Bang.., Maya sudah ngga tahan lagi, Bang... teruskan... aaa... Maya ngga kuat Bang... aaa.., aaa.., eenak sekali Bang..!"
Tubuh Maya bergetar sangat kuat dan tangannya yang masih meremas penisku tiba-tiba digenggamnya sangat kuat sekali. Maya akhirnya mengalami puncak kenikmatan yang pertama dalam hidupnya. Aku terus memainkan jariku di klitorisnya.
"Bang, punya Maya ngilu.., ngilu sekali, udah Bang cukup." pintanya.
Kutahu apa yang dirasakan Maya, Maya sudah keluar. Kutarik tanganku dari vagina Maya. Aku berhasil membuat Maya mencapai puncak kenikmatan. Tapi batang keperkasaanku belum mengeluarkan cairan kenikmatan. Kupandangi wajah Maya yang masih membayangkan kenikmatanya.

"Kamu udah keluar May, Kamu sudah mengalami orgasme, Kamu mengeluarin cairan dari pepekmu" kataku menjelaskan.
"Bang, Maya enak sekali..!"
"Sekarang giliran Bang Hendri, ya May..." rayuku.
"Maya mau isap punya Bang Hendri..." katanya langsung.
Oh, itu yang kuharapkan dari tadi. Kami merubah posisi dan saya tiduran seadngkan Maya berada di bawah kakiku sambil tiduran juga. Kuperhatikan raut wajah Maya yang sedang memperhatikan kepunyaanku. Punyaku lumayan besar, dengan panjang 18 cm, berwarna kecoklatan karena sudah terbiasa dihisap oleh Wati. Maya mengelus-ngelus barangku yang sudah berdiri dengan gagahnya.

Setelah semakin lama semakin merah kepala batang kejantananku, akhirnya dengan mulut lebar Maya, punyaku ditelan semua.
"Oh.., nikmat sekali..," desahku.
Tiba-tiba, seluruh batang keperkasaanku terasa hangat sekali, beda dengan hisapan Wati yang dengan mulut kecilnya tidak bisa menelan semua kepunyaanku. Dengan mulut Maya yang lebar, dia bisa memainkan lidahnya tanpa melepaskan hisapannya. Bener-bener sungguh nikmat. Maya dengan hisapan yang benar-benar nafsu membuatku tidak tahan lagi. Kepala batang kemaluanku sudah sangat merah dan siap-siap mengeluarkan cairan kenikmatan yang dahsyat. Memang sudah lima hari ini saya tidak mengeluarkannya, karena mengingatakanku untuk mengeluarkan pada malam tahun baru nanti bersama Wati. Tetapi kejadiannya malah lebih enak. Tidak sia-sia selama lima hari kutahan maniku agar tidak keluar. Maksudnya, mau kukeluarkan pada saat malam tahun baru bersama Wati, tetapi kejadiannya ternyata di luar dugaanku.

Akhirnya, kumpulan spermaku yang kutabung selama lima hari ini, tidak tahan lagi akan keluar dari sarangnya. Kutahan terus hingga benar-benar terkumpul.
"May.., pakai lidah.., mainin pakai lidah May... isap yang enak ya..?" pintaku mengajarinya.
Maya memainkan lidahnya di batang kejantananku. Ditariknya kuat-kuat pakai mulutnya. Sepertinya Maya sudah sangat berpengalaman sekali dalam hal ini. Semakin cepat permainan lidah Maya semakin nikmat kurasakan ke seluruh badanku. Memang beda sekali dengan cara hisapan Wati. Maya pintar berkreasi, sekali-kali dihisapnya bagian kepala batang kejantananku dan kemudian turun ke bawah dengan menjilati batang kejantananku. Kemudian Maya juga menghisap telur kemaluanku. Oh, lihay sekali Maya. Sepertinya tanpa kusuruh bisa dilakukannya semua dengan nafsunya yang besar. Dengan gerakan tubuhnya dan mulutnya, membuatku semakin enak dan tidak dapat kutahan lagi.

"Aduh May, enak sekali, kayaknya Bang Hendri mau keluar May... isap lebih kuat..!" pintaku.
Kutahan kepala Maya dengan tanganku kuat-kuat, agar pada saat kukeluarkan, dia tidak melepaskan hisapannya, agar Maya tidak kaget dengan apa yang akan keluar dari kontolku. Aku tidak tahan lagi, aku benar-benar tidak tahan lagi, dan akhirnya tubuhku mengeluarkan seluruh tenagaku agar semua maniku keluar di mulut Maya.
"May.., Bang Hendri mau keluar... udah ngga tahan lagi... aaa... aaa... isap terus May, jangan dilepas... telan yaaa..!" kataku gemetaran menahan gejolak rangsangan.

Aku masih menahan kepala Maya, dan terasa ada gerakan melawan dari kepala Maya. Tapi Maya tidak bisa melakukan apa-apa, karena tanganku menahannya dengan kuat sekali. Akhirnya, semua keluar dalam mulut Maya. Dan pada saat keluar, Maya masih terus menyedot batang kemaluanku dengan kuatnya. Ah, benar-benar nikmat sekali. Maya melepaskan hisapannya dari batang keperkasaanku. Maya memperhatikan kepunyaanku yang bergerak sendiri. Tidak berapa lama, akhirnya saya Bangun dari tidur dan memperhatikan Maya masih menyimpan maniku dalam mulutnya, dan kuciumi mulut Maya. Kuhembuskan nafasku kuat-kuat ke dalam mulutnya agar semua cairan maniku dapat ditelan olehnya.

Semua maniku yang ada dimulutnya tertelan tanpa meninggalkan setetes pun. Kupeluk diri Maya erat-erat. Dan kubisikkan ke telinganya.
"May.., Bang Hendri enak sekali, enaak sekali rasanya... Kamu lebih pintar ngisap daripada Wati, apa rasanya sperma Bang Hendri, May..?" tanyaku.
"Rasanya asin dan Maya baru tahu kalau sperma itu warnanya putih, banyak sekali sperma Bang Hendri keluar." jawabnya tanpa malu-malu.
Kulepaskan pelukanku dan kupandangi wajahnya yang ayu dan merangsang itu.
"Emang May.., sudah lima hari ngga Bang Hendri keluarin, tadinya mau Bang Hendri keluarin dengan Wati, tapi batal karena Kami ngga jadi malam ini sama-sama, Bang Hendri ngga nyesel kok, karena isapan Kamu lebih enak dari isapan Wati." jawabaku.

"Bang Hendri bersihin ini dulu ya..?" sambil tanganku menunjukkan sisa-sisa yang tidak dapat tertelan oleh Maya.
Kemudian aku membersihkan sisa-sisa spermaku yang ada di lantai. Dan setelah itu, rupanya Maya sudah tidak tahan lagi untuk melakukannya sekali lagi. Pada saat itu, Maya sudah berdiri di belakangku dan memelukku dari arah belakang.
"Bang.., Maya kepengen Bang Hendri melakukannya seperti waktu dengan Wati." pintanya memanja.
Kubalikkan badanku, dan kulihat Maya sudah duduk di lantai dalam keadaan bugil. Kuremas tangan Maya kuat-kuat.
"May.., Bang Hendri ngga mau gara-gara kejadian hari ini, hubungan Bang Hendri dengan Wati terganggu." pintaku.
"Ngga Bang.., Maya janji ngga akan bilang ke Wati, dan Maya hanya ingin rasakan apa yang sudah Bang Hendri lakukan ke Wati, Maya kepengen sekali Bang..!" pintanya sekali lagi dengan wajah memelas.

Kulihat wajah Maya memelas sekali, dan aku pun sudah tidak tahan lagi.
"Kamu serius May..? Kamu ngga nyesel nantinya..? Kamu kan belum punya pacar." kataku sambil tanganku mulai memegang dan meraba-raba susunya yang kecil dan mancung.
"Ngga Bang, pertama kali ngeliat Bang Hendri ke rumah, Maya sebenarnya kepengen Bang Hendri yang jadian dengan Maya bukan Wati, tapi karena Maya masih kelas II SMA, jadinya Maya takut." katanya menjelaskan kepadaku keinginannya yang terpendam sudah lama.
"Astaga, baru kali ini kutahu maksud Maya. Ternyata diam-diam dia menyimpan rasa sayang kepadaku." pikirku dalam hati.
"Bang, Maya sudah kepengen sekali, ambil aja keperawanan Maya sekarang juga, Bang Hendri bebas melakukan apa saja sesuka Bang Hendri." desaknya karena tidak tahan menerima daya rangsang saat itu.
Aku tidak menyangka dengan apa yang barusan dikatakan Maya.

Kemudian, kuangkat Maya dari duduknya dan kami berdiri untuk pindah ke kamar tidur.
"Kita pindah ke kamar tidur aja ya..? Kamar tidur kamu aja, Maya..!" kataku.
Setelah kumatikan TV, akhirnya kami pindah ke kamar tidur Maya. Baju kami kutinggal di ruang tengah, lagi pula tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Saya dan Maya masih bugil dan berjalan menuju ke kamar Maya yang terletak di sudut rumah bagian belakang. Kurangkul badannya sambil tanganku tidak kulepaskan dari susunya. Masih terus kuremas-remas agar kenikmatan Maya tidak hilang. Kuhidupkan AC kamar Maya agar kami melakukannya dengan tenang dan dingin.

Dengan posisi kami yang masih berdiri, kupeluk Maya sambil kuciumi bibirnya yang lebar. Kupegang tubuh Maya yang tinggi dan langsing tersebut. Setiap lekukan tubuhnya dapat kurasakan malam itu. Mulai dari kepalanya, lehernya, tubuhnya, pantatnya yang montok dan kemaluannya yang masih sangat rapat sekali. Dan kumainkan lidahku ke dalam mulut Maya. Maya membalas dengan lidahnya juga. Kuhembuskan nafasku kuat-kuat dan Maya menarik semua nafasku, dan pada saat itu kulihat susu Maya sudah sangat keras sekali. Kurebahkan badan Maya pelan-pelan di tempat tidurnya yang lebar. Bibir kami tidak terlepas sedikit pun.

Setelah Maya tiduran di ranjang, kubuka kakinya dan kubisikkan ke telinga Maya, "May.., Bang Hendri isap pepek Kamu ya..?"
"Isap aja.., Maya udah kepengen sekali..!" jawabnya mengiyakan.
Kuarahkan kepalaku ke liang senggama Maya. Oh, tercium aroma yang kas yang keluar dari vagina Maya. Inilah aroma yang paling kusuka dari wanita. Aroma kas yang tidak pernah kulupakan. Dan kuhirup kuat-kuat dan sekali-kali kucium. Terdengar rintihan suara Maya yang sudah mulai terangsang. Kubuka vagina Maya dengan jariku. Terlihat dengan jelas warna yang masih sangat ranum untuk dinikmati. Kulebarkan lagi jariku untuk menjilati bibir kemaluannya. Kuperhatikan beberapa saat, klitorisnya yang masih sangat merah, aku mulai tidak tahan lagi. Akhirnya, kurapatkan semua bibirku ke liang senggamanya Maya dan lidahku sudah mulai menekan ke dalam agar dapat merasakan nikmatnya vagina baru.

Mata Maya sudah mulai tertutup, dan dapat kurasakan getaran badan Maya yang sudah tidak bisa menahan nafsu yang sudah sangat tinggi. Lama-lama kepunyaanku sudah mulai mengeras lagi.
"Trus Bang..! Jangan dilepas, enak sekali, isap yang kuat..!" terdengar permintaan Maya yang memang ingin merasakan kenikmatan yang lebih.
Aku pun sudah tidak memikirkan Wati pada saat itu. Yang kupikirkan hanya bagaimana memuaskan nafsuku dan nafsu Maya yang sangat tinggi sekali. Kuteruskan jilatanku ke arah bawah kemaluan Maya. Vagina Maya sangat panjang ke bawah. Kunikmati vagina Maya yang sudah sangat basah. Kumainkan dengan lidahku. Oh, nikmat sekali. Akhirnya aku tidak dapat menahan rasa senjataku, bagaimana rasanya jika kumasukkan ke liang senggama Maya.

Tanda pikir panjang, aku berdiri dan kubisikkan ke telinga Maya.
"May, Bang Hendri sudah tidak tahan lagi, Abang masukkan ya..?" pintaku dengan lembut.
Maya hanya mengangguk. Kurenggangkan kaki Maya, dan kuarahkan penisku yang sudah sangat keras, dan kugesek-gesekan batang kejantananku ke vagina Maya.
Kubisikkan sekali lagi ke telinga Maya, "May, inilah hubungan yang paling Bang Hendri senangi, memasukkan kepunyaan Bang Hendri ke lubang Kakakmu..."
"Pelan-pelan ya Bang, supaya Maya bisa merasakan enaknya juga."
Saat itu, kuperhatikan jam sudah menunjukkan setengah tiga pagi. Aku sudah melupakan Wati untuk sesaat, yang kuinginkan hanya menikmati kemaluan perawan dari Maya. Liang kewanitaan Maya sudah basah, dan pelan-pelan kutekan batang kejantananku yang sudah keras.

Sambil mataku terus kuarahkan ke susu Maya dan tidak lepas dari mata Maya. Pelan-pelan sekali, dan sekali-sekali kujilati bibir kemaluannya agar terus basah. Kutemukan lubang keperawanan Maya, dan kutekan batang keperkasaanku ke arah lubang tersebut. Kudorong badanku ke belakang dan ke depan. Terakhir, karena sudah tidak tahan, akhirnya kuberanikan diri untuk menekan sekuat tenagaku untuk menerobos ke lubang kenikmatan Maya.>br>"Sleepp..," dorongan yang pertama membuat Maya kesakitan.
"Tahan dikit Maya, tahan dikit lagi."
"Sakit Bang.., jangan kuat-kuat, Maya ngga kuat..!" pintanya.
"Iya... Bang Hendri lagi membuka perawan kamu, ini baru setengahnya." kataku menenangkannya.
"Maya terasa Bang, terasa sekali punya Bang Hendri masuk."
Kudorong sekali lagi. Penisku sudah masuk setengahnya, kutarik ke luar dan kudorong lagi ke dalam, dan akhirnya, dengan dorongan yang lebih kuat lagi, lubang keperawanan Maya dapat kutembus.

"Bannngg... Maya ngga kuat..!" jerit Maya.
Maya memegang tanganku kuat sekali. Terbayang sesaat, bagaimana kulakukan pada saat dengan Wati. Saat kuambil keperawanan orang yang kucintai. Sekarang, kunikmati sekali lagi seorang perawan yang rela memberikannya kepada orang yang tidak mungkin sama sekali. Ah, sudahlah. Apakah ini takdir, aku tidak tahu.
"May, punya Bang Hendri sudah masuk semua, Kamu tidak perawan lagi Sayang, ada keluar darah, dari pepekmu." kubisikkan ke telinga Maya dan batang kejantananku tidak kulepaskan dari liang senggamanya.
Kuperhatikan raut mukanya, dan kelihatan sama sekali tidak ada rasa penyesalan dari dirinya.

"Teruskan Bang..! Gerakkan badan Bang Hendri..." pintanya tak kuasa menahan nikmatnya rangsangan yang kulakukan.
Kugerakan badanku pelan-pelan. Oh, terasa sekali masih rapatnya vagina Maya. Masih menggingit sangat erat di batang kejantananku. Kudorong badanku ke depan dan ke belakang. Kuciumi bibir Maya, sambil kupegang susunya yang putingnya sangat mancung dan keras. Batang keperkasaanku masih terbenam di lautan kenikmatan.
"Aaa... terus Bang... ya.. ya... dorong yang kuat..!"
"May, Kamu kuat sekali..!"
Dapat kurasakan seluruh batangku merapat di dinding-dinding vagina Maya yang masih sangat kencang sekali.

Kumasukkan lebih dalam lagi batang kejantananku. Baru kali ini kurasakan semuanya terbenam dalam lubang kenikmatan. Biasanya jika kulakukan dengan Wati, tidak semuanya terbenam. Memang liang senggama Wati lebih pendek dari pada punya adiknya. Sedangkan liang kewanitaan Maya sangat dalam. Punyaku hanya 3/4-nya saja masuk ke liangnya Wati, sementara di lubang kenikmatan Maya, kepunyaanku dapat masuk tanpa sisa sedikit pun. Oh, baru kali ini dapat kurasakan betapa nikmatnya jika dapat masuk semuanya. Tapi karena punya batang kejantanan yang panjang, maka dapat mencapai dinding yang paling ujung dari lubang rahimnya Maya. Jika ujung batang kemaluanku sampai menyentuh liang yang paling dalam, Maya dengan suara nafsunya terdengar sangat menikmati.

Aku dapat merasakan kenikmatan Maya yang sudah melupakan segalanya. Vagina Maya semakin basah, itu berarti aku dapat memuaskan dirinya. Aku terus menggerakkan tubuhku pelan-pelan, agar Maya bener-bener menikmati permainanku. Sementara, Maya memutar pantatnya ke kiri dan ke kanan, agar seluruh dinding lubang rahimnya dapat disentuh oleh batang kejantananku. Tanganku terus meremas buah dadanya, dan bibirku sekali-kali menciumi bibirnya yang sudah pasrah. Kujilati susunya dan kumainkan dengan bibirku. Mata Maya kadang terbuka dan kadang tertutup, membuat nafsuku semakin gila, dan dapat kurasakan betapa nikmatnya Maya pada hari itu.

Tidak lama setelah agak longgar vagina Maya, kugerakkan badanku lebih cepat dari biasanya.
"Oh.., Bang enak sekali... terus Bang..!" desahnya.
Kuingin sekali merasakan vaginanya Maya ada di mulutku. Kami merubah posisi, kali ini dengan gaya kesukaanku bersama Wati, kupraktekkan ke Maya yaitu gaya enam sembilan. Kuajari gaya tersebut kepada Maya, dan langsung Maya mengerti. Posisi kami sudah enam sembilan, Maya menghisap batang kemaluanku dan aku menghisap vaginanya Maya. Dengan posisi Maya di bawah dan aku di atas, kami saling menghisap dengan kuatnya. Dan kami pun merubah posisi kami secara bergantian. Maya pintar sekali, aku pun tidak ingin melepaskan saat-saat nikmat ini. Maya masih mengisap batang kejantananku, kadang bagian luar, batang dan kepala kemaluannya. Semuanya dihisap Maya dengan adil, dan hal ini membuatku semakin lama semakin nafsu menjilati kemaluannya yang semakin lama semakin basah. Pikiranku sudah melayang dan sudah tidak ingat apa-apa lagi, yang ada di pikiranku sekarang adalah aku tidak sabar lagi untuk merasakan dan memasukkan penisku yang sudah menegang itu ke lubang kenikmatan Maya yang masih sangat rapat dan harum.

Cukup lama kami bermain gaya enam sembilan, dan aku pun sudah tidak tahan lagi untuk merasakan lorong vagina Maya. Kutarik kejantananku dari mulut Maya, dan kukatakan ke Maya kalau ingin memasukan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya. Maya hanya memejamkan matanya saja. Kupegang batang keperkasaanku dan kuarahkan ke lubang senggama Maya. Tanpa kuminta, Maya sudah melebarkan kakinya selebar mungkin. Oh, terlihat warna kemerahan dari vagina Maya. Kuarahkan tepat di lubang vaginanya. Kali ini, dengan sekali dorongan, dapat kurasakan penisku sudah masuk semuanya. Dan kubenamkan sesaat punyaku ke dalam liang senggamanya. Kubiarkan batang kemaluanku dalam vagina Maya. Tanpa menggerakkan badanku, tapi aku hanya menggerakan batangku di dalam vaginanya Maya dan kujilati puting susu Maya yang masih kecil itu.

"Maya terasa Bang.., gerakin punya Bang Hendri..!" pintanya tak kuasa lagi manahan kenikmatan.
Tak lama kemudian, kugerakkan badanku pelan-pelan, dan makin lama semakin kencang. Maya menikmati seluruh permainan kami. Kudorong badanku maju dan mundur, dan Maya terus memutar pinggulnya yang ramping. Pelan-pelan kulakukan untuk Maya, aku ingin benar-benar menikmati perawan yang diberikan oleh Maya secara cuma-cuma. Kadang kutarik keluar penisku, dan kubenamkan lagi penisku ke vagina Maya. Tanganku memeluk tubuh Maya yang ramping. Dengan posisi tiduran, Maya di bawah dan aku di atas, membuatku dapat mengontrol gerakan Maya. Hanya pantatku yang kugerakan di tubuh Maya. Sementara mulutku masih menciumi bibirnya yang sensual tersebut, sekali-kali kutelan susunya dalam mulutku, dan kumainkan puting susunya pakai lidahku.

Oh... dapat kurasakan mancungnya puting Maya dalam mulutku. Aku makin lama semakin tidak sadarkan diri. Kami hanyut lautan nafsu. Semakin cepat kugerakkan badanku, semakin enak rasanya. Dan kali ini aku tidak dapat menahan rasa yang luar biasa itu.
"May... enak sekali May... Bang Hendri sudah tidak tahan lagi, mau keluar..." kataku.
"Maya juga Bang... Dorong yang kuat..!" jawabnya.
Kugerakkan badanku semakin lama semakin kencang, dan lebih cepat dari biasanya. Kuingin segera menikmati puncak kenikmatan bersamaan dengan Maya.
"Terus Bang..! Maya mau keluar, udah ngga tahan..." katanya.
"Kita keluar sama-sama May, Bang Hendri juga mau keluar..." pintaku sambil mengatur tempo permainan kami.
"Maya ngga tahan Bang... aaaa... aaaa... aaa... Maya keluar Bang..! Maya duluan." desahnya sambil mengeluarkan puncak kenikmatan.

Kugerakkan tubuhku lebih cepat lagi dan lebih cepat, kulihat ke arah susu Maya. Gerakan tubuhku membuat susu Maya ikut bergerak naik turun. Itu yang membuatku nafsu. Pada saat menjilati dan menciumi susu Maya, terasa sekali maniku mau keluar. Dengan keluarnya cairan dari liang senggama Maya, membuat batangku semakin licin dan gerakanku semakin cepat.
"May.., Bang Hendri mau keluar... udah ngga tahan... aaaa... keluar May..." desahku mengringi puncak kenikmatanku.
Pada saat keluar cairan putih di dalam lubang senggama Maya, Maya menghembuskan sekali lagi nafasnya ke dalam mulutku. Diciuminya bibirku sambil memeluk tubuhku sangat kuat. Sepertinya aku mendapatkan nafas tambahan. Benar-benar service yang luas biasa.

Setelah sudah merasa keluar semua cairan spermaku, kutarik punyaku dari vagina Maya, dan kubiarkan sejenak penisku berada di atas kemaluan Maya. Akhirnya kami mengalami kenikmatan yang kedua. Sama-sama enak, dan sama-sama keluar bersama. Aku dan Maya masih merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Tidak lama, aku bangun dan membersihkan spermaku yang tersisa di vagina Maya. Kubuka belahan vaginanya dengan jariku, dan kubersihkan dengan kain yang sudah disiapkan oleh Maya. Dan setelah bersih, kujilati pakai lidahku sekali lagi vagina Maya dan kubuka belahan kemaluannya lebar-lebar dengan jariku. Kutarik nafasku kuat-kuat dan tercium aroma yang luar biasa dari lubang vaginanya. Maya terlihat hanya memperhatikan apa yang kulakukan pada tubuhnya. Maya benar-benar pasrah dengan apa yang kulakukan.

Kuperhatikan betapa indahnya kemaluan Maya yang panjang dengan bulu kemaluan yang masih sedikit. Aku melamun sendiri, betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan dua perawan dari satu keluarga.
"Bang.., apa Maya tidak hamil nantinya..? Sperma Bang Hendri kan keluar di dalam vagina Maya."
"Bang Hendri sudah tidak tahan lagi May... Jangan takut May, biasanya yang pertama kali tidak ada kemungkinan untuk hamil."
Maya hanya terdiam, dan sesaat kuciumi bibir Maya yang masih basah.
"Kamu puas May..? Bang Hendri puas sekali, kamu lebih kuat dari kakakmu."
"Maya puas Bang..!" jawabnya singkat.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit. Akhirnya kami istirahat bersama-sama di kamar Maya. Kuhidupkan TV kamarnya dan kami lanjutkan cerita kami berdua. Tentunya keadaan kami masih bugil dan tidak ada rasa segan di antara kami berdua. Kami tertidur. Ketika terbangun, kulihat Maya dalam pelukanku, jam saat itu pukul setengah enam pagi. Kuciumin bibir Maya. Maya terbangun. Dibalasnya ciumanku. Kubisikkan di telinga Maya kalau dia harus pergi dengan teman-teman sekolahnya.
"Maya nggak jadi pergi Bang, malas, Maya mau di rumah aja dengan Bang Hendri..!" pintanya.
Kubelai rambut Maya, dan kukatakan sekali lagi, kalau aku ingin melakukannya lagi. Maya hanya mengangguk. Dan pagi itu hingga siang hari aku dan Maya melakukannya sampai tiga kali.

Akhirnya Maya membatalkan acaranya dan menghabiskan waktunya berdua denganku. Selama kepergian Wati dan keluarganya tiga hari, kuhabiskan waktuku berdua dengan Maya. Pagi, siang, malam, kulakukan sepuas mungkin. Aku hanya mengantarkan mobilku ke rumah dan setelah itu aku pamit lagi, untuk dua hari, dengan alasan diajak teman-teman liburan. Sebenarnya kuhabiskan waktuku di rumah mereka yang besar dan kami melakukan seperti halnya pengantin baru. Saling sayang, saling bermesraan dan saling memuaskan diri. Aku hanya memakai celana dalam saja, begitu juga dengan Maya, tanpa BH. Kadang-kadang Maya hanya memakai baju tidur yang tipis, tanpa BH dan celana dalam, jadi kami dapat saling memegang dan aku benar-benar leluasa memandang, menciumi, menjilati, menekan, menggigit susu Maya yang masih kecil. Kami benar-benar bebas di hari-hari tersebut. Tiap hari kami melakukan tiga sampai lima kali. Nafsu dan tenagaku dikuras oleh Maya, aku juga tidak mengerti, apakah Maya benar-benar memanfaatkan waktu yang kosong atau melepaskan nafsunya kepadaku. Yang penting aku menikmati permainan Maya.

Pernah di kamar mandi, kamar Wati, dapur, ruang nonton, dan setiap Maya dan aku kepingin, kami tidak memperdulikan tempat, dimana saja bisa kami lakukan. Yang paling mengesankan adalah pada saat aku dan Maya sudah selesai melepaskan nafsu kami, kemudian kami tertidur dalam keadaan telanjang, dan pada saat sadar kami masih dalam keadaan bugil. Itulah yang membuatku masih teringat sampai sekarang. Kadang aku ingin mengulanginya sekali lagi dengan Maya. Sementara saya dan Wati selama pacaran ini belum pernah tidur bugil berdua sepanjang hari, paling hanya beberapa jam saja, itu pun kalau kami menyewa penginapan dari pagi sampai sore. Dan pada saat bangun itu, betapa asiknya melihat badan Maya yang tinggi dengan pemandangan susu yang mancung dan vagina yang panjang dan yang pasti sudah tidak perawan lagi.

Kulakukan berdua dengan Maya setiap hari seperti ini. Tanggal tiga Januari, siangnya adalah kenikmatanku yang terakhir kulakukan dengan Maya di rumah, karena sorenya keluarga mereka sudah pulang. Sebelum aku pulang ke rumah, kami berjanji akan melakukannya secara hati-hati yang jelas tidak dilakukan di rumah, mungkin kami lakukan di penginapan. Dan aku pun pulang dengan senangnya ke rumah, dan kutelpon Wati dari rumahku bahwa aku baru pulang dari kemping bersama teman-teman.

Sampai sekarang, hubunganku dengan Wati tetap lancar saja. Tidak ada rasa curiga dan rasa kuatir di antara saya, Maya dan Wati. Kuatur jadwalku untuk membagi kepada dua kakak beradik tersebut. Satu waktu kubagikan cintaku yang tulus untuk Wati dan satu waktu kuberikan nafsuku untuk Maya. Terkadang, jika Wati kuliah sore, kumanfaatkan siangnya untuk menjemput Maya di sekolahan. Dan kubawa Maya ke penginapan, dan kami melakukannya hingga sore harinya. Atau kucari waktu yang tepat untuk ke rumah mereka. Saya dan Maya, walaupun tidak dapat berhubungan badan, tapi sudah cukup melakukan oral seks. Agar tidak curiga dengan orang rumah. Biasanya aku melakukan hubungan badan dengan Wati seminggu sekali atau dua kali. Dengan Maya kulakukan dua minggu sekali itu pun saya harus mencari tempat untuk melakukannya dengan Maya. Dan biasanya, saya cari waktu hari biasa, siang sampai sore hari. Tapi walaupun di penginapan hanya empat jam, aku dan Maya dapat main hingga 2 sampai 3 kali. Mungkin kami memang menggunakan waktu seefisien mungkin dalam melepaskan nafsu kami. Karena dengan Maya, dapat kurasakan dan bebas kulakukan dengan gaya apa saja.

Sementara dengan Wati, sudah dapat kulakukan di rumahnya sendiri, karena keluarga mereka tidak menaruh curiga dengan apa yang kami lakukan berdua. Kami melakukannya di kamar lantai atas. Paling tidak, kami melakukan oral seks, dimana selesai kuhisap vagina Wati, dan kemudian Wati menghisap penisku. Oral seks ini hampir tiap hari kami lakukan. Kalo berhubungan badan, hanya kami lakukan jika orang rumahnya pergi semua dan yang tinggal hanya pembantu saja. Hanya Maya yang tahu apa yang kulakukan berdua dengan Wati, itu pun karena kuceritakan. Kutahu apa yang kulakukan dengan Maya itu membuatku merasa berdosa dengan Wati, tapi apa yang kulakukan itu tidak ingin segera kuakhiri. Entah sampai kapan hubungan ini berlangsung. Mungkin setelah aku menikah atau setelah Maya mendapatkan cowok idamannya. Yang ada di pikiranku sekarang adalah, aku nikmati situasi ini. Terima kasih untuk Maya karena sudah mengijinkan kisah nyata ini dibuat di situs 17tahun.com.


TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kenangan Malam Tahun Baru"

Posting Komentar