Kenikmatan Yang Berakhir Dengan Kesengsaraan


Dedi menatap nanar layar komputer di mejanya, di ruangan pribadi kantornya. Kantor ini terletak di lantai 15 dengan lebih dari 70 orang di dalam ruangan yang terpisah hanya oleh sekat-sekat fiber, sepintas mirip kandang-kandang ayam petelur. Dedi tidak dalam daftar orang-orang yang 'dikandangkan'. Ia mempunyai ruang sendiri. Sungguh ia bersyukur untuk itu.

Lama ia termenung. Tangan kanannya memegang surat dari atasannya tentang persetujuan cuti selama 4 harinya. Ia terlalu gembira hingga ia lupa tentang sesuatu yang harus dikerjakannya di depan komputer ini. "Apa ya? semua tugas sudah kukerjakan untuk pekerjaan dua minggu ke depan, semua klien juga telah mengetahui kepergianku dan mereka tak menyoalkannya," katanya dalam hati sambil menepuk-nepukkan kertas itu ke dahinya.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dan sekretarisnya masuk sambil tersenyum manis. "Pak, ada pesan dari klien kita tentang pengunduran waktu pertemuan, saya buat jadwal ulang sekarang atau nanti setelah Bapak kembali?" Dedi menjawab sambil melempar kertasnya ke meja. Kertas itu melayang jauh dan mendarat di samping sepatu sekretarisnya, yang dengan sigap mengembalikan ke mejanya. Sekilas Dedi menatap kaki dan paha sekretarisnya. "Ahh yaa, itu dia, aku melupakan bagian terpenting dari waktu cutiku. Aku akan melakukan eksperimen seks!" batinnya. Sekretarisnya menanyakan kalau ada hal lain yang diperlukan. Dedi menggeleng sambil tersenyum. Dedi terus menatap bagian belakang tubuh sekretarisnya sampai menghilang. "Sial. Dengan rok sependek dan tubuh seindah itu seharusnya ia bekerja di klab malam, atau mungkin orang-orang bagian personalia yang merekrut sekretarisnya itu kelebihan hormon seks." Tapi yang lebih menyenangkan Dedi adalah ia teringat bahwa ia akan membuat pengalaman seks yang belum pernah ia lakukan untuk mengisi waktu cutinya.

Diambilnya secarik kertas kosong dan ia mulai menulis.
"Coba lihat, aku pernah bercinta dengan:
1. Anak SMU: Sangat berisik sewaktu bercinta.
2. Mahasiswi: Uh.. terlalu banyak tuntutan dan mereka terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit mendengarkan.
3. Wanita karir: Ah, kebanyakan dari mereka selalu married oriented. Hiih. Ok, bagaimana dengan rekan sekantor? Ah nggak lah terlalu riskan apalagi dengan sekretarisku ah.."

Dedi selalu memperhitungkan keselamatan karirnya. Ia sangat bangga dengan jabatan dan reputasi serta kesuksesan yang ia capai selama ini, untuk pria berusia 34 tahun, belum menikah, mobil keluaran Eropa tahun terakhir dan rumah sedang di perumahan mewah, ia berhak bahagia.

Lamunannya terhenti sejenak oleh dering telepon genggamnya. Ditatap sejenak layar telepon sebelum menjawab. Ada nama salah seorang temannya, "Hallo boy, ada apa?"
"Oh maaf Ded, ini Sinta, mau nanya kamu, apa suamiku tadi telepon kamu? soalnya laptopnya ketinggalan nih, aku sudah telepon kantornya tapi sekretarisnya bilang kalau Boy sedang tugas lapangan, aku mau titip pesan kalau boy telepon, laptopnya ada di rumah," suara renyah mengalir.
Sinta adalah istri Boy, tetangga Dedi. Boy bekerja di gedung sebelah kantornya di bagian konstruksi.
"Belum tuh Sin, tapi oke lah nanti kalau dia kuhubungi, akan kusampaikan," kata Dedi sedikit kesal.
"Sejak kapan aku dipindahkan kerja dibagian barang hilang??" gerutunya dalam hati.

Setelah percakapan ringan selesai ia kembali ke kertasnya. Sejenak ia tercenung. "Hey.. Shinta istri Boy. Ha-ha aku belum pernah bercinta dengan wanita bersuami!" Dadanya berdebar keras. Diambilnya kamera digitalnya. "Semoga ada foto Shinta dan Boy di pesta tahun baru kemarin," harapnya. Setelah beberapa kali menekan tombol ia bersorak pelan. "Yap! ini dia. Shinta, 25 tahun, tinggi sekitar 164 cm berat 49 kg, berkulit putih dan ukuran branya... hmm sial, aku tidak bisa mengira-ngira ukuran dadanya," katanya sambil memicingkan matanya. "Tapi ini cukup! aku akan pulang sekarang. Lebih tenang di rumah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi!" serunya sambil membuka bungkus permen, melempar dan menangkapnya dengan mulutnya.

Sialnya, permen itu tidak berhenti di mulutnya tapi terus meluncur ke dalam rongga mulutnya dan berhenti di tenggorokannya.
"Aahh, oooh .." katanya sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Sial, tolol sekali," tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya desis-desis lirih.
"Setan! suaraku serak!"
Ditepuknya lagi dadanya dengan keras dan permen keparat itu meluncur keluar meninggalkan tenggorokannya. Dedi menarik nafas lega. "Test, test, satu dua.." suaranya tetap lirih dan serak. Dedi tidak mempedulikan hal itu. Yang ia butuhkan sekarang adalah pulang sebelum jam kantor berakhir. Dengan sigap dikemasinya barang-barangnya ke dalam tasnya, lalu dengan tergesa ia membuka pintu yang terbuka saat ia akan meraih handelnya. Dan wajah atasannya menyembul di baliknya.

"Hey Ded, sudah mau pulang? Oke, nikmati cutimu asal jangan sampai lupa masuk kantor ya?" kata bossnya sambil menepuk-nepuk bahu Dedi.
"O ya, Bapak minta tolong sekali lagi, sembari kamu ke bawah, tolong temui klien kita Pak Hadi dan beritahu kalau saya tunggu di ruangan saya dan tamu saya di sana hanya rekan dari biro pemerintah yang akan membantu menyelesaikan pekerjaan kita yang lain, jadi beliau jangan sungkan-sungkan masuk. Kamu mengerti?"
Dedi mengangguk-angguk. "Ya, Pak Hadi ditunggu di ruangan bapak dan supaya langsung masuk meskipun ada tamu, karena itu rekan bapak dari biro pemerintah," kata Dedi berbisik.
"Lho kamu kenapa berbisik?" kata atasannya menyelidik.
"Ini Pak.. sakit" kata Dedi sambil menunjuk tenggorokannya.
"Ah, ya sudah sampai ketemu dan selamat istirahat."
Dedi mengangguk dan setengah berlari ke Lift yang membawanya turun.

Di bawah ia bertemu dengan Pak Hadi dan sekretarisnya yang menyalaminya, lalu Dedi berkata, "Pak, ditunggu Bapak, di ruangan ada orang dari biro pemerintahan, jadi Bapak langsung masuk saja," suaranya tetap terdengar aneh dan berbisik. Pak Hadi sedikit terkejut dan menjawab dengan berbisik juga. "Oke, saya mengerti..." katanya sambil menggerutu dan mengeluarkan buku cek dan memberikan ke sektarisnya. "Ini cek nanti sampaikan ke pegawai negeri itu."

Dedi meninggalkan pak Hadi dengan terheran-heran.
"Aku berbisik bukan untuk menganjurkan Pak Hadi menyogok pegawai negeri itu, dan lagi apaurusannya Pak Hadi dengan pegawai negeri itu?" kekehnya.
"What the hell," cuma ada satu tujuan, aku harus pulang.

Di dalam mobil, pikirannya untuk menggoda Shinta membuatnya sangat bergairah. Petualangan kali ini benar-benar beresiko dan mengasyikkan. "Shinta.. huh wanita ini sangat menggairahkan. Boy benar-benar beruntung, mengapa selama ini aku tidak pernah menghayalkannya?" sesalnya. Tapi Dedi menyadari bahwa sebenarnya bukan hanya Shinta yang membuatnya bergairah, tetapi status Shinta sebagai istri orang dan bayangan petualangan baru yang akan dialaminya yang membuatnya sangat bergairah. Ia menyetir mobilnya dengan tergesa, dirasakan dirinya sedikit terangsang."Dengan apa aku bisa membuat fantasiku jadi kenyataan ya?" Ia teringat dengan obat perangsang yang dibelinya ketika tugas ke luar negeri. "Ah itu bullshit. Biar 8 lusin obat seperti itu, nggak bakal membuat seorang wanita terangsang, malah susah tidur," gerutunya. "Tapi hmmm... nggak juga kalau ke aku sendiri." Teringat ia terakhir memakai obat itu untuk dirinya sendiri. Ia berharap untuk tidak tidur selama perjalanan memancing ke laut. Dan hasilnya, Dedi bukan saja tidak tertidur, ia bahkan ereksi berat selama sehari penuh. Terbayang lagi pengalamannya memancing ikan sambil ereksi itu sangat menyiksanya. "Hiihhh.." desisnya sambil bergidik."Bagaimana ya? ah nanti aja dipikirkan."

Ketika memarkir mobil di pekarangan rumahnya, Dedi sempat melirik ke rumah tetangganya sejenak.
"Istri Boy itu masih di rumah tidak ya?" pikirnya sambil menekan nomor telepon rumah Boy.
"Hallo...?!" suara lembut menyapa, ditutupnya segera ponselnya sambil tersenyum.
"Lebih baik aku ke rumahnya untuk melihat seberapa besar kemungkinan yang bisa kudapat," pikir Dedi riang.
"Aku harus punya alasan yang bagus," dan Dedi cuma butuh 4 detik untuk membuat suatu alasan yang masuk akal.

Diketuknya kaca rumah tetangganya itu.
"Yaaa, tunggu sebentar.." sahut seseorang dari dalam.
"Eh, Dedi?! ada apa?" kata Shinta cemas.
"Sorry Shin, punya obat pereda sakit kepala nggak?" kata Dedi lirih.
Shinta tersenyum lega, ia pikir Dedi membawa berita buruk tentang suaminya.
"Adaa.. kupikir Boy ada apa-apa Ded, masuk deh," kata Shinta sambil berbalik berjalan ke dalam ruangan.
"Eh, Ded, pintunya tolong ditutup lagi ya?"
Ada senyawa kimia di badan Dedi yang langsung bereaksi demi mendengar perintah Shinta. "Hmmm sepertinya ada signal bagus. Buat apa ia minta tutup pintu kalau nggak mengharapkan sesuatu akan terjadi?" dijulurkannya sebentar kepalanya keluar untuk melihat keadaan sekeliling, "aman"

Dedi memburu Shinta ke dalam ruangan. Didapatinya Shinta di ruang tengah sedang membungkuk mencari sesuatu di laci. Dedi mencari tempat untuk duduk. Sambil mengusap kepalanya ia terus memperhatikan tubuh Shinta dari belakang. "Pinggulnya bagus, berisi, rok katun itu melekat ketat di pinggulnya. Dan paha itu putih bersih.." Dedi mulai terangsang oleh fantasinya sendiri. Berdua dalam satu ruangan dengan tujuan yang ia buat sendiri, itu membuatnya benar-benar terangsang sekarang. "Shin... Boy pulang jam berapa?" kata Dedi dengan menjaga tekanan suaranya agar tetap lirih. Shinta menegok sebentar ke belakang, lalu sambil terus meneruskan pencariannya. "Heh.. tepatnya hari apa, soalnya Boy tadi telepon bahwa ia harus terbang ke Medan hari ini juga. Boy selalu begitu deh Ded.."

Dedi hampir berteriak kegirangan. "Astagaaa.. nasibku sedang dimanja dewi keberuntungan hari ini..." Dedi memejamkan matanya sambil menundukkan kepala menahan rasa gembiranya yang amat sangat.

"Sakit sekali ya?" kata Shinta yang tiba-tiba sudah berada di depannya. Dedi sedikit terkejut.
"Iya.." sahutnya lirih.
"Kamu harus ke dokter, sementara nih obatnya. Aku ambilkan air dulu ya?" kata Shinta sambil menyentuh dahi Dedi.
Jantung Dedi berdetak dua kali lebih cepat ketika ia merasakan tangan Shinta menyentuh dahinya. Matanya menatap ke depan, kepalanya sejajar dengan dada Shinta yang mengenakan baju lengan pendek berwarna biru muda. Dedi merasa darahnya mengalir deras mengisi ruang di kemaluannya. Akal sehatnya mulai melayang ke atas menembus atap menyeberang jalan dan duduk di sana dan memaki badan tolol di dalam rumah yang sedang dirasuk birahi. Dedi mengangkat kedua tangannya, menyentuh lengan Shinta dan meraba sebentar menunggu reaksi. Shinta merasa sangat kaget. Ia melangkah mundur satu kaki ke belakang dan berpikir, "Eh.. tangan Dedi tadi sengaja nggak ya? atau aku yang ke-GR-an," pikir Shinta cepat. Tak urung hal itu agak membuatnya sedikit rikuh. Dedi menurunkan tangannya dengan segera tapi ia tak berkata apa-apa, mengesankan bahwa tindakannya tadi tak bermaksud dan sama sekali tak berarti sama sekali.

Shinta membalikkan badannya dan melangkah ke arah dapur.
"Hm, tak mungkin Dedi bermaksud macam-macam kepadaku. Tapi bagaimana kalau aku goda dia ya? pengen liat reaksinya. Ha-ha, sakit kepalanya bakal naik dua derajat dari semula," pikir Shinta lagi sambil membawa segelas air.
"Ded ini airnya. Obatnya diminum sekarang aja," kata Shinta.
Sejenak ia tertegun. Dedi sedang menatap sesuatu di depan komputernya.
"Aduh! aku lupa mematikan PC-ku," bathin Shinta panik.
"Kamu lagi online ya? tuh modemnya jalan, terus ini gambar gile bener cowoknya.." belum sempat Dedi menyelesaikan ucapannya, Shinta menerobos ke depan layarnya sehingga Dedi termundur beberapa senti.
"Ah sorry, itu tadi kebetulan dapet site yang begitu, abis iseng nih," kata Shinta sambil berusaha menutup browser-nya.
"Eh Shin, jangan ditutup dulu. Aku mau nyari resep masakan buat nanti malam," kata Dedi sambil bergerak mendekat.
Shinta meminggirkan kursi di depan meja komputernya ke samping sambil berkata, "Oh, itu? aku punya situs bagus untuk resep masakan." Sambil membuka kembali browser-nya dan mengetikkan sesuatu. Dedi pura-pura tertarik sambil menundukkan kepalanya sehingga kepala mereka berdua sangat dekat. Diliriknya Shinta yang sedang asyik mencari-cari resep masakan di sebuah situs.

"Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!" kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. "Hey, dia sengaja nggak ya?" pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. "Lho?? dia tau nggak sih?" pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. "Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang.." batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.

Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.
"Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta," pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.
"Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini," kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.

"Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?" kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!
"He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini," batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.

Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.
"Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!" kata Shinta.
"Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka," kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.
"Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded.." pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. "Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal..." Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.

Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. "Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini." bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.

Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. "Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya," katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. "Ah ini akan memakan waktu.." kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. "Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini," pikirnya sambil terisak.

Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. "Aah harum sekali tubuh ini," dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, "Hm sudah lembab," pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat vagina Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding vagina Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka vagina itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.

Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. "Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!" kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi vagina Shinta. Kali ini ia dapat melihat vagina itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.

Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.

Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari vaginanya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari vagina menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.

"Aduh.. setan! aku orgasme!" bathin Shinta pelan.
Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. "Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!" Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, "To.. tolong!" teriaknya pelan.
Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, "Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan.."
Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, "Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?" diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, "Mengerti Shinta?"
"Aw.. iya, ampun Ded," kata shinta sambil kembali terisak-isak.

Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.
"Tidak, Ded jangan... aku nggak mau, aku..." Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala penisnya lalu diarahkan kepala penisnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke vagina Shinta. Dedi merasa penisnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan penisnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, "Oooh.. ooohh.."lirihnya.

Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut penisnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh penis dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.

Dedi merasa vagina Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian penisnya, membuat ia merasa geli, vagina Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di penisnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.

"Ah Shinta kamu cantik sekali.." katanya.
Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, "Aah.. a..aah.." Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.

Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan penisnya menguras spermanya di dalam vagina Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.

Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.

"Shinta.. eh, aku mau.." kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.
Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, "Ded.."
Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, "Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?"
Dedi mengangguk heran lalu berkata, "Aku minta maaf Shin, karena..."
Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.

Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.
"Kali ini aku menikmati Bali," katanya sambil menatap tiketnya.
Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, "Haloo!" katanya riang.
"Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?" lalu terdengartelepon tertutup.
Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!"
Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, "Ayo, mana wajah predator ini?"
Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.


TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kenikmatan Yang Berakhir Dengan Kesengsaraan"

Posting Komentar