Kisah Ketika Musim Panas Di Los Angeles


Ini cerita rada berbeda dari sebelumnya, karena banyak terselip penggunaan bahasa planet wkwk
yups kita lanjut aja ceritanya
CERITA ROMANTIS SERU - Los Angeles di musim panas memang luar biasa panasnya. Udaranya yang kering dan matahari yang terik membuat tubuhku mandi keringat ketika menyusuri jalan setapak melintasi hamparan rumput University of California at Los Angeles. Hari ini adalah ujian terakhir untuk mata kuliah Mekanika Kuantum. Aku berharap agar ujian akhir ini lekas kuselesaikan dan aku bisa menikmati liburan musim panasku yang akan kumulai besok.

Di depan pintu ruang kuliah, tak sengaja aku bertabrakan dengan Jeanne Chang, seorang gadis dari Taiwan yang cantik dan manis (tampangnya mirip sekali dengan bintang film Gong Li). Hmm... sudah lama aku mengagumi dia. Tingginya kira-kira 170 cm, termasuk tinggi untuk ukuran tubuh perempuan Asia. Kakinya jenjang dibalut celana pendek ketat sehingga menampakkan kulit pahanya yang putih mulus. Hari ini dia memakai T-shirt longgar dengan sport bra yang sesekali tampak dari balik bajunya.

"Oh, excuse me... I'm sorry..." kataku agak tergagap.
"Oh, it's okay. This exam makes us a little bit clumsy," jawab Jeanne sambil tersenyum manis.
Alamaaak... bibir mungil yang merah merekah tanpa polesan lipstick itu sungguh menggoda. Dia mengambil tempat duduk dan aku segera menyusul duduk dua meja di sampingnya.

Ujian kali ini aku lalui dengan tidak sabar. Soal-soal yang bagi sebagian besar murid di kelas ini dianggap sulit, bisa aku jawab dengan relatif mudah. Memang Tuhan mengkaruniaiku dengan otak yang lumayan OK. Ketika aku selesai memeriksa ulang jawabanku, aku langsung keluar ruang kuliah dan menunggu Jeanne di depan kelas. Kesempatan ini harus kumanfaatkan, pikirku.

Tak lama kemudian, Jeanne keluar dari ruang ujian. Dia juga termasuk murid yang pandai di angkatanku. Aku menyapanya dan basa-basi ala kadarnya tentang ujian yang baru saja kami lalui. Akhirnya aku mengajak dia ke kafe di student center untuk menikmati "smoothies" (jus buah dan es puter). Ide yang bagus, kata Jeanne, karena kebetulan dia sendiri juga haus. Pergilah kami berdua ke kafe di student center.

Kami mengobrol kesana kemari tentang apa saja. Rupanya Jeanne orang yang sangat mudah bergaul dan memang dia sudah "mengenal" aku dari teman-temannya. Dia bilang, aku dijuluki "damn smart Indonesian". Hmm... boleh juga! Setelah beberapa saat ngobrol dan saling tertawa karena bertukar jokes, aku memberanikan diri untuk mengantarkannya pulang.
"Did you drive here by yourself?" tanyaku.
"In fact, not today. I didn't want to be late just because I had to find a parking spot," jawab Jeanne.
"Why?" sambungnya lagi.
"Well... if you don't mind, I would like to drive you home, or we can go around somewhere. Of course, if it's okay with you," jawabku dengan sedikit dag-dig-dug.
Sialan! Jeanne hanya tersenyum dan tidak segera menjawab.
"Let see... Today is my last day for my classes, I don't have anything important to do this afternoon, and indeed... you're a nice guy to talk to. OK... let's go around somewhere!"

Wuiih... betapa aku nyaris bersorak girang!
"Where did you park your car?" tanya Jeanne penuh ingin tahu.
"It's not that far from here," jawabku sambil memegang tangannya dan mengajaknya jalan.
Dia tidak keberatan tangannya kugandeng! Setelah beberapa saat berjalan, sampailah kami di pelataran parkir.
"Sorry Jeanne, I didn't drive to campus. I rode this..." sambil tanganku menunjuk ke arah motorku, Kawasaki Ninja 750 model terbaru.
"Wow! Why didn't you tell me if we gonna ride a motorcycle!" kata Jeanne.
Aku sudah cemas saja kalau dia batal jalan-jalan bersamaku.
"Then let's go! What are we waiting for? I'd love to ride this motorcycle. It has been a long time I would like to try a Ninja. My older brother has a GSX-R 600 F3."
Lega deh rasanya. Rupanya Jeanne ini juga suka sekali naik motor dibonceng kakaknya.

Tak lama kemudian, Jeanne naik ke sadel motorku dan memeluk pinggangku. Jantungku berdegub keras dan kencang, karena betapa punggungku merasakan ganjalan lunak sepasang bukitnya dan telingaku merasakan dengusan nafasnya dan hidungku mencium wangi tubuhnya. Untung hari ini aku tidak bawa tas ke kampus, karena memang aku pikir toh aku cuma ujian saja, jadi cukup bawa bolpen dan pensil.

Kularikan motorku dengan kecepatan sedang meninggalkan kampus dan menyusuri jalan-jalan di kota Los Angeles. Jeanne protes karena aku melarikan motorku terlalu pelan! Merasa tertantang, aku tarik gas dan kupacu motorku di interstate highway. Jeanne semakin kencang memelukku.

Setelah puas jalan-jalan, Jeanne mengajakku untuk mengantarkan dia pulang ke apartemennya di kawasan menengah (sengaja daerahnya tidak kusebutkan karena banyak mahasiswa Indonesia yang tinggal di daerah itu). Bagi ukuran seorang mahasiswa, kawasan itu termasuk lingkungan yang cukup elit dan mahal. Jeanne tinggal seorang diri (kakaknya tinggal di apartemen lain, berdekatan dengan dia). Jeanne menyuruhku masuk. Memasuki ruangan apartemen dia, aku mencium wangi pengharum ruangan yang lembut. Jeanne pandai sekali menata ruangan apartemennya sehingga kelihatan menarik dan nyaman. Dekorasi ruangannya bernafaskan Cina tradisional bercampur modern, dengan hiasan kaligrafi Cina dan lukisan klasik Cina. Beberapa buah patung menghiasi berbagai tempat.

"Can I get you something? I have Coke, Sprite, 7Up or water?" tawarnya sambil mengeluarkan gelas dan membuka lemari es.
"Ice cold water is just fine for me. Thank you," jawabku sambil aku duduk di sofa.
Ada berbagai jenis majalah di bawah meja. Aku tertarik membuka-buka sebuah majalah, Popular Science.
"Here's your water..." tiba-tiba Jeanne sudah berada di depanku meletakkan segelas air putih di atas meja di depanku. Badannya agak membungkuk, sehingga aku bisa melihat sekelebatan tonjolan dua bukit dadanya yang kencang dan dibalut sport bra lewat T-shirtnya yang longgar. Sejenak dadaku berdesir dan aku merasa celanaku tiba-tiba menjadi sempit.
"Thanks, Jeanne!"
Jeanne kemudian duduk di sebelahku. Dekat, sangat dekat untuk ukuran orang yang baru saja saling mengenal. Tapi rasanya Jeanne dan aku sudah seperti orang yang sudah kenal lama. Kami mengobrol dan bercerita tentang apa saja. Jeanne dan aku juga saling bertukar jokes dan kami tertawa lepas. Hingga suatu saat, aku memberanikan diri memegang jemari tangannya. Lembut. Dia agak tertegun, tapi tidak menolak.

"Jeanne... You're so beautiful!" kataku singkat.
Jeanne tersenyum.
"Thank you," jawabnya.
Ia menundukkan kepalanya ketika aku memandang wajahnya. Perlahan, kuberanikan untuk mencium dahinya. Waaah... rupanya dia tidak menolak ketika kudekatkan bibirku ke dahinya. Perlahan, kukecup keningnya. Jeanne memejamkan matanya. Mungkin dia sedang menikmati suasana saat itu. Aku semakin berani walaupun dadaku semakin berdegub kencang. Aku menggeser dudukku hingga makin merapat. Kulingkarkan tanganku untuk memeluk dia sambil mengelus-elus rambutnya. Perlahan, kupegang dagunya dan kudongakkan.
"Jeanne..." bisikku.
Jeanne hanya bergumam dan membuka matanya memandangku.
"I like you very much... Would you mind if I kiss you, please...?" kataku sambil masih berbisik.
Jeanne tidak menjawab. Dia kembali memejamkan matanya dan membuka sedikit bibirnya yang merah ranum. Perlahan dan lembut, kukecup dan kukulum bibir yang merah menantang itu. Jeanne melenguh perlahan. Dia memelukku dan membalas ciumanku. Makin lama nafasnya makin memburu. Kurasakan dadanya yang semakin kencang ketika kami saling berdekapan. Mungkin dia juga bisa merasakan betapa batang kelelakianku juga semakin keras. Entah berapa lama kami menikmati ciuman itu. Sengaja memang aku tidak "menggerayangi" tubuhnya. Rupanya dia penasaran juga.

Tiba-tiba Jeanne melepaskan pelukanku dan dia berdiri kemudian menuju kamarnya. "Wait here!" Perintahnya sambil tersenyum penuh arti (yang tidak dapat kumengerti maksudnya). Aku mendengar sayup-sayup suara air yang mengucur deras dari dalam kamarnya. Ah, rupanya di dalam ada kamar mandi dalam. Tak lama kemudian, Jeanne keluar dari kamarnya. "Come on in!" ajak Jeanne sambil menggandeng tanganku. Aku menurut saja. "Your bedroom is great!" pujiku sungguh-sungguh, karena memang dia pandai sekali menata kamar tidurnya. Jeanne hanya menjawab terima kasih. Dia menuntunku hingga memasuki kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, kulihat air kran masih mengucur deras hampir memenuhi separuh dari bathtub. Wangi harum dari bubble bath segera memenuhi paru-paruku.

Kali ini Jeanne yang memulai dengan rangkulan dan ciuman sambil meraba sekujur tubuhku. Jeanne menciumku dengan bernafsu sekali sambil tangannya meremas-remas pantatku. Aku pun tak mau kalah. Kucium, kupagut bibir merahnya sambil tanganku meremas lembut pantatnya. Jeanne mulai menanggalkan pakaianku satu per satu. Aku pun mulai melepaskan T-shirtnya. Sport bra berwarna abu-abu yang dipakainya mencetak bukit dadanya yang sudah mengeras dengan putingnya yang membayang di baliknya. Menurut perkiraanku, sekitar 34C. Ukuran yang pas dan sesuai dengan seleraku. Selangkanganku terasa makin keras. Celana jins yang kupakai rasanya semakin sesak. Kuraba dan kuremas lembut bukit dada Jeanne. Dia melenguh dan semakin ganas dengan permainan "french kiss" kami. Jeanne membuka celana jinsku. Aku pun mulai melepaskan celana pendek ketat yang membalut Jeanne. Gila! Jeanne hanya mengenakan G-string hitam di balik celana pendek ketatnya!

Jeanne meraba dan meremas lembut batang kemaluanku yang masih dibalut celana dalamku. Dia memainkan jemarinya dan mulai merogoh masuk celana dalamku, menjemput batang kelelakianku. Dengan sekali tarik, G-string hitam milik Jeanne segera jatuh ke lantai. Alamaaak... betapa indah gerbang kewanitaan milik Jeanne. Perutnya yang putih mulus hingga ke bawah. Rambut pubisnya yang halus dan dicukur rapi, tidak terlalu lebat, tapi juga tidak terlalu tipis. Celah kewanitaannya membayang di balik rambut pubisnya.

Kulepaskan pula sport bra yang masih membalut dadanya. Telanjang sudah perempuan cantik di depanku yang selama ini mengisi khayalanku. Bukit dadanya yang ranum dengan putingnya yang berwarna pink tegak tegang menantangku untuk mengulumnya. Perlahan, kususuri bukit dadanya yang sebelah kiri dengan lidahku. Kumainkan lidahku hingga ke putingnya. Jeanne mendesis. Kujawil-jawil putingnya dengan lidahku, sementara tangan kiriku meremas lembut dan memainkan bukit dada dan putingnya yang kanan. Jeanne mengerang. Tangannya merenggut celana dalamku hingga terlepas ke lantai. Dengan ganas ia memainkan dan mengocok batang kelelakianku. Percaya atau tidak, batang kelelakianku bila sedang "full power" bisa mencapai pusar lebih sedikit. Inilah yang membuat Jeanne sepertinya terkejut.

Jeanne "menuntun" batang kelelakianku menuju bathtub. Aku merebahkan diri ke dalam bathtub dan Jeanne dengan perlahan mengocok dan mengurut batang kelelakianku di antara busa-busa sabun dan air hangat. Jeanne duduk di antara dua kakiku sambil masih terus mengurut dan mengocok batang kelelakianku. Aku memejamkan mataku, menikmati setiap sensasi yang menjalari sekujur tubuhku. Rasa geli yang nikmat kurasakan setiap gerakan lembut tangan Jeanne beraksi naik turun.

Entah berapa lama aku menikmati permainan tangan Jeanne. Kutarik bahunya dan kubalikkan badan Jeanne ke arah badanku. Jeanne kupeluk dari belakang. Kini giliranku untuk memberikan kenikmatan buat Jeanne. Kumainkan bukit dadanya dengan jalan meremas, meraba dan memilin-milin lembut dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku tidak mau kalah, memainkan paha, lipat paha dan daerah gerbang kewanitaan Jeanne. Jeanne mengerang, mendesis dan melenguh. Hidung dan lidahku menciumi dan menjilati daerah di belakang daun telinga Jeanne dan sekitar tengkuknya. Kupilin dan kugeser-geser lembut klitoris dan labia mayor Jeanne.

Akhirnya, kami menyudahi permainan yang mengasyikkan itu karena kulit kami mulai keriput disebabkan oleh terlalu lamanya kami berendam dalam air bubble bath. Jeanne menciumi wajahku dengan penuh kelembutan dan akhirnya kami melakukan "french kiss" lagi dengan posisi saling mendekap. Setelah puas melakukan "french kiss", Jeanne berdiri dan memutar kran shower untuk membilas tubuh kami. Di bawah derai siraman air shower, kami berpelukan dan melakukan "french kiss" lagi. Saling meraba, saling mengelus dan menyusuri tubuh pasangan kami.

Rupanya Jeanne sudah tidak tahan lagi. Ia menaikkan satu kakinya ke pinggir bathtub dan menuntun batang kelelakianku ke arah gerbang kewanitaannya. Aku membantunya sambil tangan kiriku memilin-milin puting payudara kanannya. Kugeser-geserkan ujung kepala kemaluanku pada klitorisnya. Perlahan, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya. Pelan... lembut... perlahan... sambil terus kukulum bibir merahnya. Jeanne mendekapku sambil mendesis di sela-sela ciuman kami. Akhirnya kumasukkan kira-kira tiga per empat dari panjang kemaluanku, dan mulai kumaju-mundurkan pantatku. Jeanne memejamkan matanya sambil terus mendesis dan melenguh. Ia memelukku semakin kencang. Kuayunkan pantatku semakin cepat dengan tusukan-tusukan dalam yang kukombinasikan dengan tusukan-tusukan dangkal. Jeanne membantu dengan putaran pinggulnya, membuat batang kemaluanku seperti disedot dan diputar oleh liang kemaluannya. Guyuran air shower menambah erotis suasana dan nikmatnya sensasi yang kami alami.

Aku merasakan lubang kemaluan Jeanne semakin licin dan semakin mudah bagiku untuk melakukan tusukan-tusukan kenikmatan yang kami rasakan bersama. Setelah agak lama melakukan posisi ini, Jeanne menarik pantatnya sehingga batang kemaluanku terlepas dari lubang kemaluannya. Kemudian Jeanne membalikkan badannya dan agak membungkuk, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Rupanya dia ingin merasakan posisi "rear entry" atau yang lebih populer dengan istilah "doggy style". Kemaluannya yang berwarna merah jambu sudah membuka, menantang, dan terlihat licin basah. Perlahan kumasukkan batang kemaluanku yang tegang kaku dan keras ke dalam lubang kemaluan Jeanne. Jeanne mendesis. Kuayunkan pantatku maju-mundur, menusuk-nusuk lubang kemaluan Jeanne. Jeanne merapatkan kedua kakinya sehingga batang kemaluanku semakin terjepit di dalam liang kemaluannya. Kurasakan kenikmatan yang luar biasa dan sensasi yang sukar kulukiskan dengan kata-kata setiap kali aku menghujamkan kemaluanku. Kuremas-remas pantat Jeanne bergantian dengan remasan-remasanku pada payudaranya. Sesekali, kugigit-gigit kecil di daerah sekitar tengkuk dan pundaknya.

Setelah sekian lama, tiba-tiba Jeanne mengangkat kaki kanannya dan memutarnya melampaui kepalaku (seperti sebuah teknik tendangan memutar ke arah kepala) sambil tangannya berpegangan pada leherku. Gila! Lentur juga nih cewek! pikirku. Dia membalik dari posisi "rear entry" ke posisi berhadapan tanpa melepaskan liang kemaluannya dari tusukan batanganku. Dia menciumku dengan ganasnya sambil mencengkeram erat punggungku, merapatkan tubuhnya dan mengejan,
"Aku keluaaarrr...! Aaaggghhh...!" serunya sambil memelukku erat-erat.
Aku merasakan liang kemaluannya berdenyut-denyut seperti menghisap-hisap kemaluanku. Aku merasakan tubuh Jeanne yang menjadi lemas setelah mengalami orgasme. Aku masih saja memompa kemaluanku sambil menyangga tubuhnya. Kuhisap-hisap puting payudaranya, kiri-kanan sambil lidahku berputar-putar pada ujungnya. Sesekali jari-jariku meraba dan memutar-mutar klitorisnya. Jeanne seperti orang yang sedang tak sadarkan diri. Dia hanya ber-ah-uh saja sambil sesekali menciumiku. Setelah beberapa saat, mendadak dia mengejan lagi. Melenguh dan mengerang,
"Aaaggghhh...! Ooohhh my goodnesss... Aku keluaaarrr lagiii...!"
Jeanne engalami orgasmenya yang kedua kalinya. Hmm... multiple orgasm! Jeanne menciumiku dengan ganasnya.
"Jeanne sayangku... tahan... Aku akan keluar sedikit lagi..." kataku sambil memacu pantatku lebih cepat lagi menghujam liang kemaluan Jeanne.

Jeanne hanya bisa pasrah. Akhirnya, aku merasakan sebuah gelombang besar yang mencari jalan keluar. Aku mencoba untuk menahannya selama mungkin, tapi gelombang itu semakin besar dan semakin kuat. Aku mengatur pernapasanku, berkonsentrasi penuh. Kudekap erat Jeanne.
"Aku keluaaarrrr...!"
Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa menjalari sekujur tubuhku. Rasanya tubuhku seperti dialiri listrik statis dan aku seperti melayang tinggi. Ada rasa hangat menjalari seluruh tubuhku. Kemaluanku berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Jeanne. Jeanne menjerit kecil merasakan sesuatu yang luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Oh My God! You learned the secret!" teriak Jeanne antara girang dan keheranan.
"What secret?" tanyaku keheranan.
"This secret..." jawab Jeanne sambil menunjuk ke arah batang kelelakianku yang masih tegak tegang (yang baru saja kulepaskan dari gerbang kewanitaan Jeanne) dan tidak mengeluarkan cairan kejantananku.
Batang kelelakianku hanya basah oleh cairan yang dikeluarkan oleh Jeanne.
"Rahasia ranjang kamar, cara taoist bercinta!" sambung Jeanne.

Aku hanya tersenyum. Mencium lembut keningnya, kemudian mencuci batang kelelakianku di bawah shower. Jeanne memelukku dari belakang dan membantu mencuci batang kelelakianku. Setelah selesai mandi berdua, kami berdua saling mengeringkan diri dengan handuk. Ketika aku hendak mengenakan pakaianku kembali, Jeanne melarangku dan mengajakku untuk ke tempat tidurnya.
"Wait..." pintaku.
Saat Jeanne menoleh, aku mencuri sebuah ciuman dan kubopong Jeanne ke arah tempat tidurnya (yang berukuran queen dengan warna serba hijau tua dihiasi sebuah boneka Garfield). Kuletakkan Jeanne perlahan di tempat tidurnya. Kuciumi sekujur tubuhnya. Setelah puas, aku berbaring di sebelahnya. Jeanne kudekap dan kuciumi di sekitar daun telinganya sambil tanganku mengelus-elus punggungnya. Tak lama kemudian Jeanne tertidur dengan senyum di bibirnya. Kukecup lembut bibirnya, lalu aku ikut tidur di sampingnya. Beredekapan, telanjang di bawah selimut.

Aku terbangun saat kurasakan ada jari-jari halus meraba-raba dadaku dan ciuman di keningku. Jeanne telah lebih dahulu bangun dan dia membangunkanku. Kukecup bibirnya perlahan, kupagut dia, dan kami terlibat dalam sebuah "french kiss". Kuelus dan kuraba punggung putih mulus Jeanne sementara dia mengelus-elus rambutku.
"Frank, that was great!" bisik Jeanne di telingaku.
"Thank you so much. Where did you learn the secret?" sambung Jeanne.
"Sweetheart..." aku memberanikan diri memanggilnya "Sweetheart", dan dia tidak keberatan. Aku pikir, jadi deh sepertinya aku pacaran sama dia.
"Aku belum tahu cara taoist bercinta. Kenyataannya, aku mendengar itu sebagai teknik untuk mengatur qi saya menggunakan teknik yang sama yang digunakan taoist. Kalau kamu bisa sebarkan apa yang kamu sebut energi seksual sebagai penggantinya, maka kamu akan menambah qi kamu dan menumbuhkan ke dalam shen dan jin kamu," kataku menerangkan.
"Itu kenapa saya tidak merasakan secara lambat atau lemah setelah melakukan hubungan seksual. Saya dapat orgasme yang lebih tanpa ejakulasi sekali saja dan tetap melakukannya hubungan terus menerus. Saya dapat mengontrol ejakulasi saya," lanjutku.
"Oh, that's why I felt like I got a low electric shocked, felt tingle all over my body and a strange sensation when you got your orgasm."
"Well, that's also because I transferred my qi to circulate into your body, to rejuvenate and to mix your qi with my qi. It's a yin yang thing, you know."

Jeanne tersenyum dan mengecup bibirku. Gerbang kewanitaannya, entah sengaja entah tidak, menggeser batang kelelakianku.
"Sssh... I know it, Honey... I've read it from an ancient Chinese book. Now, relax and enjoy!"

Jeanne mulai menciumi sekujur tubuhku, menjilati dadaku dan menggelitiki putingku dengan lidahnya. Tangannya menjalari sekujur tubuhku dan meraba-raba batang kelelakianku, memainkannya, mengelus dan mengurutnya. Seketika batang kelelakianku bangun dari tidurnya. Kembali tegak tegang kaku. Jeanne tersenyum. Perlahan, disusurinya perut, pusar dan pinggangku dengan lidahnya. Aku merasakan geli-geli nikmat yang membuatku merinding. Kuusap-usap kepala Jeanne dengan penuh kelembutan. Kusisir rambutnya dengan jari-jariku dan sesekali kuraba-raba tengkuk dan balik telinganya.

Perlahan jilatan lidah Jeanne semakin turun ke arah selangkanganku. Jeanne menjilati paha kaki kananku bagian dalam, naik hingga ke lipat paha. Kemudian pindah ke paha kaki kiriku. Sama. Naik hingga lipat paha. Dengan jemari tangan kirinya yang halus, Jeanne memegangi batang kelelakianku, mendongakkannya, dan dia mulai menjilati daerah pangkal batang kelelakianku. Disusurinya batang kelelakianku dengan lidahnya hingga ke ujung topi bajanya (ya, aku memang disunat, demi kesehatan). Jeanne memutar-mutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang kelelakianku. Rasanya luar biasa. Tangan kanannya menyusuri daerah ulu hati hingga pusarku (yang tercetak karena rajin sit up). Jeanne pandai sekali membuat diriku seperti melayang.

Dari ujung batang kelelakianku, Jeanne kembali menyusurinya hingga ke bawah, menjilat-jilat kantung "peluru" batang kelelakianku dengan sesekali mengecup dan agak menghisap kantung "peluru"-ku. Rasa aneh antara sakit, geli, dan enak menyergap otakku. Jeanne meneruskan jilatannya dengan cara menggeser, memutar dan menggelitiki pangkal kantung "peluru"-ku dengan lidahnya, terus hingga ke arah lubang pembuanganku. Dijilatinya lubang pembuanganku dengan cara memutar-mutar lidahnya. Rasa geli yang mengenakkan kembali menyergap otakku. Aku mendesah, mendesis. Rambut Jeanne agak kutarik dan kujambak.
"Jeanne... It feels sooo goood!" desahku.
Jeanne memandangku dengan pandangan mata yang membuatku gemas. Ooh... betapa cantiknya kamu Jeanne, pikirku. Perempuan cantik yang telanjang bulat di depanku dan sedang menjilati daerah paling privatku saat ini tiba-tiba berhenti melakukan jilatannya. Dia mendekati wajahku. Menciumku dengan mesra dan lembut bibirku. Lebih tepatnya, mengulum bibirku. Kemudian Jeanne membalikkan badannya dan membelakangiku, seperti posisi "69".

Jeanne memegangi batang kelelakianku dan mulai menghisap, mengulum dan menjilati batang kelelakianku. Kembali rasa geli dan nikmat menyerang kepalaku. Aku mencium wangi harum yang khas dari gerbang kewanitaan Jeanne yang terpampang menantang di depanku. Gerbangnya sudah mulai terbuka, berwarna merah muda dengan dihiasi rambut-rambut pubis yang halus dan dicukur rapi. Batang kelelakianku berdenyut-denyut di antara hisapan dan geseran lidah Jeanne.

Kupegangi dan kuelus pantat Jeanne dengan kedua tanganku. Kuarahkan gerbang kewanitaannya ke arah mulutku. Kujilati pinggiran gerbang kewanitaannya dan daerah sekitarnya. Jeanne mengerang di antara hisapan-hisapannya pada batang kelelakianku. Kumainkan lidahku pada gerbang kewanitaan Jeanne yang terasa mulai licin dan basah, sambil terus menebarkan aroma yang khas harum. Kulihat sebuah tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya. Kujilati benda itu. Jeanne mengerang dan mendesis, sejenak melepaskan batang kelelakianku dari mulutnya. Kujilat dengan lembut dan sesekali kugeser-geser dengan lidahku tonjolan kecil yang ada di belahan gerbang kewanitaan Jeanne. Kuvariasikan geseran dan jilatanku dengan sesekali menghisap-hisap tonjolan kecil milik Jeanne. Jeanne mendongakkan kepalanya dan mendesis-desis kenikmatan sambil ia menggoyang-goyangkan pantatnya.

Lidahku kembali menjilati dan menyusuri sekitar gerbang kewanitaan Jeanne. Lidahku berhenti di antara gerbang kewanitaan Jeanne dan lubang pembuangannya. Kujilati daerah itu dan kuputar-putar lidahku di daerah itu. "Ooooh Frank... You make me crazy!" kata Jeanne di antara erangannya. Jeanne mengurut dan mengocok batang kelelakianku sambil mulutnya menghisap ujung kepala batang kelelakianku. Setelah beberapa saat, kujilati juga lubang pembuangan milik Jeanne. Kuputar-putar lidahku di daerah itu. Jeanne mendesis-desis. Kedua tanganku tidak tinggal diam saat lidahku memainkan aktivitasnya. Terkadang jari-jari tanganku menggaruk mesra punggung Jeanne dengan lembut, atau meraba, mengusap dan memainkan bukit dadanya yang menggantung menantang di atas perutku.

Pernah satu saat, sebuah jariku memasuki gerbang kewanitaannya dan mengusap-usap dinding depannya dari dalam, daerah yang sering disebut orang sebagai daerah G-spot. Jeanne agak berteriak kecil saat kuusap daerah itu. Tangannya mencengkeram erat pahaku, mungkin menahan sensasi yang luar biasa baginya. Gerbang kewanitaannya terasa sangat basah pada jariku. Setelah beberapa lama kami saling menjilat, menghisap dan menikmati permainan ini, Jeanne tiba-tiba beranjak dari posisinya. "Honey... I want it now!" katanya sambil memegang batang kelelakianku yang tegang tegak kaku menghadap langit-langit kamarnya. Jeanne mengangkangiku sambil membelakangiku. Ia mengarahkan batang kelelakianku ke gerbang kewanitaannya. Kubantu dia. Kugeser-geserkan ujung batang kelelakianku pada tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya. Jeanne memejamkan matanya. Mendesah.

Perlahan, batang kemaluanku memasuki liang kemaluan Jeanne yang sudah licin basah. Pelan... lembut... Jeanne perlahan menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluanku masuk semakin dalam. Terus masuk... hingga akhirnya tidak bisa lebih dalam lagi, menyisakan kira-kira seperempat dari panjang batang kemaluanku. Jeanne agak terpekik saat ujung kemaluanku menyentuh dinding cervix-nya. Kemudian Jeanne mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun-naik-turun. Pada mulanya perlahan hingga beberapa gerakan, akhirnya Jeanne memainkannya semakin cepat. Aku dan dia menikmati sensasi yang luar biasa saat kedua alat kelamin kami menyatu dan saling bergeseran. Jeanne berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan kata-kata yang tak jelas kedengaran di telingaku. Aku sendiri menikmatinya dengan pikiran yang melayang. Mencoba menahan rasa geli dan nikmat yang menjalari sekujur tubuhku.

Aku mengangkat badanku sekitar 45 derajat dan bersandar pada headboard tempat tidur Jeanne. Tentu saja membuat otot-otot perutku menjadi kencang. Jeanne (sambil membelakangiku) bertumpu pada perutku dan terus mengayuh tubuhnya naik-turun pada selangkanganku divariasikan dengan memutar-mutar pinggulnya. Saat dia memutar-mutar pinggulnya, aku merasakan kemaluanku seperti disedot oleh sebuah vacuum yang kuat sambil dipuntir. "Aaaghhh... Jeanne..." teriakku sambil memegangi pinggangnya yang ramping dan putih mulus. Rasanya aneh sekali, campuran antara sakit, geli dan nikmat yang sukar untuk bisa aku ceritakan di sini. Kuraih tubuh Jeanne dari belakang. Kuremas-remas lembut kedua payudaranya yang terasa keras tapi kenyal. Putingnya aku pilin-pilin dengan mesra. Jeanne menghentikan sejenak ayunan pantatnya. Dia mendesah, mendesis. Aku merasakan batang kemaluanku dan liang kemaluan Jeanne sama-sama berdenyut-denyut. Kuciumi tengkuk Jeanne, sesekali kugigit-gigit ringan tengkuk, bahu kanannya, dan belakang telinganya. Sambil terus meremas, memilin dan memainkan payudara Jeanne, aku menjilati tengkuk hingga di antara kedua tulang belikatnya.

"Jeanne My Dear... turn around!" pintaku pada Jeanne untuk membalikkan posisinya. Jeanne berbalik tanpa melepaskan batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Batang kemaluanku serasa ada yang memuntirnya. Sekarang kami berhadapan. Aku dan Jeanne saling memeluk, saling meraba. Batang kemaluanku masih terasa berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Jeanne yang juga terasa berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluanku. Kami berciuman dan melakukan "french kiss". Lidah kami saling berpagut, terkait. Bibir kami bertemu dan saling menggigit, menghisap dan mengulum. Rasanya nikmat sekali. Tanganku meraba dan jemariku dengan lincahnya bergerak di sekujur badan Jeanne, membuat Jeanne kegelian dan merinding. Kurasakan itu pada sekujur tubuhnya yang putih mulus tanpa cela.

Tanpa kuberitahu, tiba-tiba aku berdiri sambil mengangkat Jeanne. Jeanne terkejut dan mempererat rangkulannya pada leherku. Hanya sebentar, ia melanjutkan "french kiss" kami dan melingkarkan kakinya pada pinggangku. Kuangkat Jeanne dengan memegangi pantatnya. Kuayun-ayunkan pinggangku maju-mundur sehingga batang kemaluanku menusuk dan menghujam liang kemaluan Jeanne. Jeanne menggigit bibirku. Aku berjalan ke arah pintu kamar mandi sambil memondong Jeanne tanpa melepaskan batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Setiap ayunan langkahku berarti setiap tusukan batang kemaluanku hingga menyentuh cervix Jeanne. Jeanne mengerang, "Oooh Frank! You're increadible!" kata Jeanne di antara desahan napasnya. Aku berjalan mondar-mandir di depan tempat tidur Jeanne dalam posisi ini. Bagiku sendiri, posisi ini tidaklah seenak dan sesensasional posisi yang sebelumnya, tapi bagi Jeanne, ini merupakan suatu posisi yang sangat menantang dan menggairahkan.

"Honey... I'm almost there... Sit on the edge of the bed, please...!" kata Jeanne. Aku segera berjalan menuju tempat tidur Jeanne dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Kulebarkan kakiku sehingga Jeanne bisa lebih leluasa mengayuh liang kemaluannya bergeseran dengan batang kemaluanku. Kurasakan ada rasa geli yang luar biasa yang menerobos otakku. Aku mengerang. Lidahku kutekuk ke langit-langit mulutku. Kuatur napasku. Rasanya ada gelombang besar dari pinggangku yang hendak mencari jalan keluar melalui batang kemaluanku. Kutahan gelombang besar itu sedapat mungkin.
"Jeanne Sayang... Aku hampir keluar sedikit lagi..." kataku.
"Let's do it together, Hon!" jawab Jeanne.
Kami berciuman kembali. Jeanne menghentikan ayunannya. Dia memelukku erat sekali. Aku terkejut! Kurasakan ada semacam aliran listrik statis pada ujung batang kemaluanku yang berasal dari cervix Jeanne! Kubuka mataku dan kulepaskan ciuman kami.
"You...?!" ujarku sambil penuh tanda tanya.
"Shut up and just do it!" dan Jeanne kembali menciumku dengan ganas.
Aku pun balas menciumnya. Kami berdua sama-sama diam dalam posisi berciuman.

Kurasakan aliran listrik statis mulai merayapi sekujur tubuhku. Kubiarkan. Dari diriku pun ada semacam energi yang menjalar dari tulang ekorku, naik ke tulang belakangku dan menyebar ke seluruh tubuhku. Gelombang besar yang kurasakan dan hendak mencari jalan keluar perlahan bisa kuatasi. Dengan teknik pernapasan yang kupelajari, ku-"tarik" gelombang besar itu ke arah pinggangku, ke arah dua titik yang disebut ming-men oleh ahli akupunktur. Kuputar gelombang besar itu di sana. Perlahan, aku pun merasakan ada aliran listrik statis yang mengalir dari titik 2 jari di bawah pusarku. Titik ini yang sering disebut oleh orang Cina sebagai titik dantien atau chakra pusar oleh orang India. Tenaga inilah yang disebut oleh orang India sebagai tenaga Kundalini. Inilah kunci dari cara taoist bercinta, yaitu pembangkitan tenaga terpendam dari dantien yang didapat dari tenaga seksual dan membuat genital orgasm menjadi "whole body and soul orgasms.

Sekujur tubuhku terasa hangat, begitu juga dengan tubuh Jeanne. Kami masih berciuman. Diam, menikmati sensasi yang luar biasa yang tidak akan pernah kami dapatkan dari orgasme genetik. Aku merasakan ada sesuatu yang berputaran pada tubuhku, dari bawah, naik, hingga melalui mulutku masuk ke mulut Jeanne dan dari mulut Jeanne kurasakan aliran lagi yang menuju ke bawah membentuk suatu siklus. Inilah yang disebut oleh para taoist sebagai kondisi tao, di mana yin dan yang bersatu membentuk harmoni. Aku merasa seperti melayang ke ruangan yang tanpa dimensi. Senyap. Pandangan mataku seperti melihat cahaya yang terang (walaupun aku memejamkan mataku). Rasa nikmat yang aneh disertai oleh rambatan sensasi menjalari setiap bagian tubuhku dan tubuh Jeanne. Kurasakan tubuhku merinding sekujur tubuh (bukan karena dinginnya AC, karena tubuhku terasa hangat). Kurasakan juga Jeanne merinding di sekujur tubuhnya. Rambut-rambut halus yang ada di tubuh kami berdua berdiri, seperti layaknya kalau tubuh teraliri listrik statis. Tubuh kami berdua mengejang. Akhirnya aku merasakan suatu yang sangat melegakan. Nikmat... Cahaya terang yang "tampak" di mataku digantikan oleh kegelapan yang pekat. Sunyi...!

Pelan-pelan Jeanne melepaskan ciuman kami. Dia tersenyum penuh arti dan kemudian mencium keningku. Kupagut kecil dagu Jeanne saat dia mencium keningku. Aku merasakan kesegaran tubuhku seperti orang yang baru selesai berolahraga ringan. Jeanne perlahan melepaskan gerbang kewanitaannya dari batang kelelakianku. Dia beranjak dari pangkuanku dan memegang batang kelelakianku, kemudian dikulumnya batang kelelakianku yang masih tegak tegang dan kaku yang penuh dengan cairan kewanitaannya. Rupanya Jeanne membersihkan batang kelelakianku. Dia cuma sebentar mengulumnya, kemudian mengambil beberapa lembar tissue dan melap batang kelelakianku. Kukecup kening Jeanne sambil mengelus rambutnya.

Jeanne mengajakku kembali ke balik selimut. Kami berpelukan sambil masih dalam kondisi sama-sama telanjang bulat. Kami kemudian saling berciuman lagi.
"Frank... You're wonderful!" kata Jeanne.
Aku cuma tersenyum dan mencium keningnya dengan penuh kelembutan. Kusisiri rambut Jeanne dengan jari-jari tanganku.
"Sayang... kita bukan hanya melakukan seks, kita benar-benar bercinta. I felt so loved so much that I never felt that kind of feeling before. I love you, Frank!"
Aku terkejut mendengar kata-kata Jeanne, terutama yang terakhir. Ada kebahagiaan yang kurasakan di hatiku saat itu. Kupeluk Jeanne semakin erat, dan kucium dia.

"Jeanne... do you mind if I ask you a personal question?" tanyaku setelah beberapa saat kami berciuman. Jeanne cuma menggeleng.
"Where did you learn that secret and how?" tanyaku penasaran.
Harusnya sudah kusadari sejak awal bahwa kalau dia mengerti tentang "rahasia" ini, tentu paling tidak dia tahu akan "teori"-nya. Ternyata memang dia juga menguasainya! Jeanne tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan meletakkan sebuah jarinya di bibirku, tanda bagiku untuk diam. "Are you hungry Frank?" tanya Jeanne untuk mengalihkan perhatian. Aku melihat ke arah jam dinding di kamar Jeanne. Shit! Sudah lewat tengah malam dan hampir jam satu pagi! Padahal, seingatku aku baru bangun dan memulai permainan kami ini sekitar jam sembilan. Mendadak aku merasakan perutku bunyi dan keroncongan. Seingatku, hari ini aku memang belum makan apapun. Jeanne tersenyum manis lagi (mungkin karena) melihat tampangku yang seperti orang linglung.

"Okay Honey... I'm hungry too... I'll make you something," kata Jeanne sambil dia beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya yang putih mulus meliuk dan melenggok dan tak lepas dari pandangan mataku. Dia menyalakan lampu kamarnya dan berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Membuka sebuah laci, mengambil sebuah celana dalam berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna-warni, mengenakan celana itu, mengambil sebuah T-shirt dan kemudian mengenakannya. Jeanne juga mengambil dan kemudian memakai sebuah celana jins pendek. Dia keluar dari kamar. Aku beranjak dari tempat tidur Jeanne dan menuju ke kamar mandi, di mana baju dan celanaku tertinggal. Saat aku mengenakan celanaku, aku mendengar teriakan Jeanne dari dapur.

"Sayang... jangan kamu pakai T-shirt kamu! Aku ingin kamu telanjang dada! Aku suka dengan dada kamu! Sangat seksi sekali..." teriaknya. Aku menurut. T-shirt yang hampir aku kenakan batal aku kenakan. Dadaku memang bidang, karena aku juga menyukai olah raga panjat tebing di samping silat yang kulatih sejak kecil. Dadaku juga ditumbuhi rambut-rambut yang tidak terlalu lebat dan juga tidak terlalu jarang yang terus menyambung dari bawah.
Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sayuran. Perutku dengan kurang ajarnya berkeruyuk. Kulihat Jeanne sibuk menyiapkan makanan dan menata meja makan. Kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang. Kucium balik telinganya sambil tanganku dengan nakalnya meraba dadanya.
"Do you need help, Sweety?" bisikku pada telinganya.
Jeanne menepiskan tanganku dan membalikkan badannya.
"No thanks Honey. Just wait there, watch TV or something. It'll be a moment and not too long."
"Okay..."
Aku berjalan menuju baby grand piano yang ada di sudut ruangan. Kumatikan suara TV yang sedang menyiarkan berita CNN melalui remote control.
"Sweety... this one is for you!" kataku sambil mulai memainkan tuts-tuts piano.
Aku memainkan sebuah lagu melalui denting piano. Malam itu (atau lebih tepatnya pagi dini hari) kulewati dengan makan bersama Jeanne (masakannya enak lho!) dan aku menginap di apartemennya.

Pagi itu aku bangun dengan pikiran yang berkecamuk. Jeanne masih tidur di dekapanku. Aku bisa merasakan hembusan napas halusnya. Berbagai macam perasaan silih berganti menerpaku. Aku merasa bahagia, sedih, senang, susah, gembira, dan entah apa lagi. Sukar sekali untuk bisa mengatakannya. Pikiranku melayang ke masa laluku.

Aku dilahirkan tahun 1969, anak tertua dari 2 bersaudara. Adikku, perempuan, lahir 3 tahun kemudian setelah aku (dia sudah menikah dan berputra seorang sekarang). Ayahku adalah seorang pegawai negeri. Aku benci ayahku! Dia bukanlah seorang bisa dijadikan contoh dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Ayahku sering sekali memarahi ibuku di depan anak-anaknya. Bahkan terkadang tak segan-segan menempeleng ibuku! Tak jarang pula aku harus menerima hajaran dari ayahku kalau aku berusaha melindungi ibuku. Tapi apa dayaku, waktu itu aku masih kecil. Di kantornya, ayahku pun bukan orang yang dihormati. Tentu saja orang akan "hormat" di depan dia. Dia adalah seorang koruptor dan tukang main perempuan! Aku pun sebetulnya malu untuk menceritakan tentang dia.

Makanya, tak heran apabila aku tumbuh menjadi anak jalanan. Aku tumbuh menjadi anak yang nakal. Sangat nakal! Walaupun demikian, aku tetap punya prinsip. Aku berprinsip untuk tidak "melukai" diriku sendiri. Itu sebabnya aku tidak merokok, tidak minum minuman keras dan tidak berurusan dengan narkotik (walaupun nantinya aku menjadi salah seorang pengedar). Beberapa kali ayahku harus "menebusku" di kantor polisi atas tingkah lakuku yang sudah termasuk tindakan kriminal.

Akhirnya saat UMPTN tiba. Aku ingat akan kata-kata ibuku yang memintaku untuk belajar sungguh-sungguh, demi diriku sendiri dan demi ibuku. Aku turuti kata-kata ibuku. Tuhan memang memberiku otak yang encer. Aku diterima di perguruan negeri paling bergengsi di Indonesia. Berangkatlah aku ke Bandung.

Di kota ini aku tambah liar, bagaikan kuda yang lepas dari ikatan. Bayangkan, tidak ada yang perduli, kost dan hidup sendiri, punya banyak uang (yang aku tahu itu adalah uang haram hasil korupsi ayahku), mau apa lagi? Di kota ini pertama kali aku kehilangan keperjakaanku oleh seorang gadis manis yang tadinya cuma iseng aku pacari (dan dia aku perawani). Namanya Yolanda. Aku panggil dia Yo, saat itu dia kuliah di perguruan negeri lain yang juga ada di Bandung. Aku kenal dia pertama kali waktu aku jalan-jalan di Cihampelas. Setelah berkenalan, aku sering menelepon dia. Kami banyak ngobrol dan aku semakin tertarik dengan dia (walaupun dengan niat cuma iseng). Yo mempunyai darah Belanda dari ibunya. Dia berambut panjang, berkulit kuning langsat dan bermata coklat. Tidak terlalu tinggi, hanya rata-rata tinggi perempuan Indonesia.

Setelah sekitar 2-3 bulan, aku "jadian" dengan Yo. Aku tahu, Yo sangat mencintaiku. Suatu hari, Yo datang ke tempat kost-ku di daerah Bukit Dago. Dia datang sambil menangis (karena suatu hal yang membuatnya demikian). Aku mencoba untuk menghiburnya, memberikan dukungan dan menyatakan bahwa ada orang yang mencintainya. Entah siapa yang memulai duluan, akhirnya kami terlibat dalam suatu ciuman yang mesra, hangat dan sangat intim. Yo mendesah. Mungkin saat itu situasi sangat mendukung. Aku menggerayangi tubuh Yo, dan dia tidak menolak. Selama ini kami belum pernah berciuman seperti saat itu. Tanganku menyusup ke bajunya setelah kancing-kancingnya aku lepaskan. Bra yang dikenakan Yo berwarna krem, berukuran 34B. Kuraba dan kuremas perlahan buah dada Yo yang kanan. Dia mengerang. Mulut kami masih berciuman. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya aku berhasil melepaskan "atribut" atas Yo, sehingga Yo telanjang dada. Kucium buah dada Yo yang putingnya berwarna coklat muda.

Kukulum dan kuhisap putingnya sambil kuremas-remas dengan tanganku. Waktu itu aku sangat berdebar-debar dengan pikiran yang tidak karuan. Banyak pertanyaan silih berganti di kepalaku, tapi tidak kuperdulikan. Aku pikir, kapan lagi? Yo mendesis dan mengerang saat buah dadanya aku "kerjai". Akhirnya, kami berdua sama-sama telanjang bulat. Bagiku, inilah pertama kalinya aku melihat tubuh mulus seorang perempuan secara nyata. Selama ini aku hanya mengetahuinya dari buku, majalah, atau film. Gerbang kewanitaan Yo ditumbuhi rambut-rambut halus yang lebat sekali dan ia memiliki gundukan mons pubis yang membukit. Pinggulnya benar-benar seperti "bodi gitar". Yo terbelalak melihat batang kelelakianku yang tegak tegang dan besar mengacung dan berdenyut-denyut. Dia menarik selimutku dan menutupi tubuh telanjangnya. Badannya bagus dan mulus! Aku memeluknya.

"Frank... aku pengin, tapi aku takut!" kata Yo.
"Aku sayang kamu Yo... Aku juga pengin. Pelan-pelan ya..."
"Aku pengin memberikan ini buatmu, Frank!"

Pelan-pelan, kucumbu Yo dan kurasakan gerbang kewanitaannya sudah sangat basah ketika jari-jari tanganku bermain di sana. Kuarahkan batang kelelakianku ke arah gerbang kewanitaan Yo. Yo membuka pahanya. Perlahan kumasukkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Yo. Tidak berhasil! Susah sekali! Seret dan meleset. Aku mencoba beberapa kali. Setelah kupikir sudah pas pada lubangnya, aku tusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Yo. Yo memekik dan menangis di pelukanku. Kurasakan ada cairan hangat mengalir di batang kemaluanku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju-mundur (waktu itu pengetahuanku tentang seks sangatlah minim, hanya lewat majalah dan video porno) seperti yang kulihat di film porno. Yo memelukku semakin erat dan air matanya mengalir. "Frank... Sakit! Sakit sekali!" katanya di antara sesenggukannya.

Kukecup Yo dan kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Aku melihat batang kemaluanku "berdarah" dan beberapa bercak darah menetes ke sprei tempat tidurku. Darah perawan Yo! Yo dengan tertatih-tatih bangun dan menuju ke kamar mandiku. Dia melap liang kemaluannya dengan tissue. Kuhampiri dia dan kupeluk dia. Kucium. Hari itu aku "tuntas"-kan dengan "self-service" di kamar mandi karena aku tidak tega melihat Yo kesakitan. Akhirnya kami berdua tidur telanjang berpelukan setelah kuganti sepreiku.

Aku dan Yo akhirnya bisa melakukan hubungan seks dengan nyaman dan kami berdua bisa menikmatinya setelah kami melakukan yang ke-3 atau ke-4 kalinya (aku lupa). Akhirnya aku jadi sangat mencintai Yo dan dia juga demikian. Dia sangat sabar dan dia pula yang membuatku untuk mulai "bertobat" dari segala kenakalanku. Aku berubah karena Yo.

Hingga suatu hari, aku mendengar kabar yang sangat mengejutkan dan membuat tubuhku lemas dan aku sempat mengalami pukulan yang telak. Yo meninggal dunia karena kecelakaan. Dan yang membuatku semakin menyesal adalah aku tidak sempat melihat jenazahnya, karena telah dikuburkan di sebuah pemakaman umum di Jakarta. Aku mendengar kabar ini sepulangku dari latihan survivalku selama seminggu. Begitu aku mendengar kabar ini dan aku sadar dari rasa terkejutku, aku segera berangkat ke Jakarta dengan motorku dan kularikan motorku dengan kecepatan sangat tinggi. Bayangkan, saat itu Bandung-Jakarta kutempuh hanya dalam waktu kurang dari 2 jam! Baru kuketahui dari keluarganya bahwa Yo telah dimakamkan. Aku segera menuju makamnya yang masih basah dan penuh dengan taburan bunga. Aku menangis di sana hingga tak terasa aku tertidur dan dibangunkan oleh orangtua penjaga makam.

"What's the matter, Honey...?" tiba-tiba pertanyaan Jeanne mengagetkan aku dan menyadarkanku pada situasiku yang sekarang. Jeanne memandangku dengan penuh tanda tanya dan ia mengusap dadaku, kemudian mencium dadaku. Kucium kening Jeanne dan aku menarik napas panjang. "Why are you crying...?" Jeanne mengusap setetes air mata yang menetes dari mataku saat bertanya kepadaku. Aku tersenyum padanya. "I just have a feeling about how happy I am now!" kataku sambil mengecup kening Jeanne. Maafkan aku Yo, kataku dalam hati. Aku jatuh cinta pada perempuan ini. Semoga kamu berbahagia di alam sana, batinku.

"I'm still tired, Frank. I want to continue my sleep," kata Jeanne, dan dia memelukku semakin erat. Kuelus rambutnya. "It's all right, Baby... Go back to sleep. I'm fine." Kulirik jam dinding di kamar Jeanne yang samar-samar kulihat menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Aku sendiri pun masih malas beranjak dari tempat tidur, lagipula hari ini adalah hari libur.

Kembali pikiranku melayang dan melamun. Setelah ditinggal oleh Yo untuk selamanya, aku sempat seperti orang linglung yang kehilangan semangat kira-kira selama 2-3 bulan. Orang yang menyadarkanku adalah kakak seperguruanku yang sangat perhatian dengan diriku. Dia mengetahui perubahan pada diriku. Akhirnya, dia berhasil meyakinkanku untuk "get over it" dan "get real" dengan situasiku. Katanya lagi, Yo akan sangat marah dan kecewa bila laki-laki yang dicintainya ternyata sangat lemah. Aku sempat marah padanya dan kutantang dia berkelahi. Tentu saja dia menolak, tapi kupaksa karena aku sudah mata gelap. Rupanya dia memang jagoan (biarpun dia kelihatan seperti biasa saja). Dengan mudah aku dikalahkannya dan aku dilumpuhkan hanya dengan 2 kali totokan 2 jarinya. Dia menasihatiku seperti dia menasihati adiknya. Aku sadar dan bisa mengerti. Dari dia aku belajar silat dengan giat dan tekun untuk mengisi hari-hariku di samping belajar lebih sungguh-sungguh pada pelajaranku di bangku kuliah.

Di tahun yang sama, petaka datang lagi. Ayahku menceraikan ibuku karena dia kawin lagi dengan perempuan lain. Aku sangat marah saat itu. Kudatangi ayahku di kantornya dan kuhajar dia hingga bibir dan hidungnya pecah berdarah. Sampai-sampai aku harus diamankan oleh para satpam kantor ayahku karena aku mengamuk.

Akhirnya aku dikirim oleh ibuku ke Amerika Serikat dengan biaya dari harta pembagian ayahku. Aku hanya dibiayai untuk semester pertama, selanjutnya, aku harus membiayai hidupku sendiri. Ibuku "menantang"-ku dan aku menerima tantangannya untuk bisa hidup dan survive di negeri orang. Setelah kutunjukkan kemampuanku pada semester pertama kuliah, akhirnya semester berikutnya aku mendapatkan beasiswa. Untuk hidup, aku bekerja apa saja dan di mana saja. Di negeri orang inilah aku mengenal arti hidup sesungguhnya. Karena keberuntunganku, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan engineering. Dari situlah aku mulai menata hidupku dan bisa seperti sekarang.

Aku masih ingat pertama kali aku melihat Jeanne. Waktu itu aku lagi duduk-duduk di sebuah bangku putih panjang di Palm Court di UCLA setelah selesai kuliahku hari itu. Entah mengapa aku begitu tertarik dengan dia yang melenggang tepat di depanku. Baru kuketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswi dari jurusanku juga.

Aku tersadar dari lamunanku saat Jeanne melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya memunggungiku. Aku mendesah pelan, dan tersenyum sendiri. Kupeluk Jeanne dengan mesra dan kulanjutkan tidurku.


TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Ketika Musim Panas Di Los Angeles"

Posting Komentar